Laporan Utama | Juli-September 2018

Solidaritas dari Kantin

Kantin merekam cerita solidaritas mahasiswa Fakultas Kehutanan. Boleh utang asal cuci piring.

Mustofa Fato

Mahasiswa program master Fakultas Kehutanan IPB. Penyuka kopi dan fotografi.

SISWA SMA Kornita menyebutnya “kantin Fahutan”, sementara mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor menjulukinya “kantin Kornita”. “Sewaktu berdiri pada 1993, kantin ini memang tak diberi nama,” kata Muhammad Nur, pedagang di kantin itu, bulan lalu. 

Waktu itu, kata Nur, kantin masih sangat sederhana. Hanya tiang besi bertudung terpal. Kondisinya masih seperti itu sampai ia datang ikut berjualan pada 1996. Mahasiswa Fahutan duduk di mana saja ketika jajan pas jam istirahat.

Urusan nama ini baru beres tahun 2000. Nama resminya adalah “Kantin Fahutan” karena lokasinya memang di areal Fakultas Kehutanan, dekat Laboratorium Sosial Ekonomi Kehutanan. Dulu, angkatan 31-40 menyebutnya kantin Kornita karena tak banyak mahasiswa Fahutan yang jajan di sini.

Kantin pindah ke dekat Laboratorium Sosek sekitar tahun 1996, sebelumnya di pertigaan kampus DAR 1. Pak Suwarno Sutarahardja, dosen di Fahutan, memindahkannya ke dalam kampus karena di DAR menjadi kumuh. Perpindahan ini yang memicu nama kantin berubah.

Soalnya, tempat baru dekat Lab Sosek itu lebih dekat ke sekolah SMA Kornita sehingga ketika istirahat mereka jajan dan bergerombol di sini. Sementara mahasiswa Fahutan, karena tak punya uang, hanya lewat ke kantin karena nanti jajannya di Bara atau Bateng, di kanti Yu Nani atau Askil yang murah tapi nasinya bisa banyak dan tambah terus.

Karena lebih banyak siswa Kornita yang nongrkong di kantin, maka mahasiswa Fahutan menyebutnya “Kantin Kornita”. “Selain Kornita juga banyak mahasiswa dan pegawai fakultas lain makan di sini,” kata Nur. Waktu itu di Kampus IPB Dramaga hanya ada dua kantin. Selain di Fahutan ada Kantin Sapta di Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian.

Seiring waktu kantin Fahutan menjadi tempat transit dan berkumpul di antara jeda kuliah. Mahasiswa bahkan nongkrong satu-dua jam di kantin meski tak ada lagi kuliah. “Yang suka nongkrong kemudian bertambah banyak,” kata Nur.

Selain dia ada Pak Ocid yang mulai berdagang sejak kantin Fahutan berdiri. Dulu menunya ada soto, gorengan, soto mi, gad-gado, siomay, dan rokok bisa ngeteng. Penjualnya ibu tua yang jarang berbicara.

Apakah di kantin boleh utang? “Banyak yang utang, biasa,” kata Nur. Selama ia menjadi pedagang di kantin Fahutan, mahasiswa jarang yang menunggak lama. Mereka akan bayar begitu mendapat kiriman uang saku dari orang tua atau bea siswa baru cair.

Menurut Nur, kantin juga acap jadi ajang konsolidasi. Mahasiswa yang baru dapat proyek dari dosen biasanya mentraktir teman-temannya di kantin sambil cerita macam-macam. Jika ada alumni yang datang, mereka mengumpulkan junior juga di kantin lalu cerita-cerita sambil mentraktir. “Memberi uangnya juga banyak,” kata Nur. “Harga mi semangkuk Rp 10.000 tapi beri uang Rp 50.000 tak usah kembali,” katanya.

Saat masa orientasi atau Ospek, kata Nur, kantin merupakan salah satu spot persinggahan mahasiswa baru sebagai bagian dari perkenalan kampus. Dari situ, mahasiswa dan pedagang menjadi kenal. Mereka berbaur tak canggung saling guyon. “Dulu banyak yang bantu cuci-cuci piring,” kata dia. “Meskipun dilarang tapi memaksa, ya, sudah kami biarkan.”

Puncak kejayaan kantin memudar setelah 2000, terutama karena ruang-ruang kuliah pindah ke gedung-gedung baru yang jauh dari kantin. Mahasiswa langsung pulang atau nongkrong di tempat lain setelah kuliah atau di antara jam kuliah. Hubungan pedagang dan mahasiswa pun, kata Nur, tak lagi dekat.

Di awal berdagang sehari ia bisa menjual 30 mangkok, lalu naik menjadi 150 mangkok sehari menjelang 2000. Belum lagi melayani makanan mahasiswa yang seminar. Mahasiswa yang seminar skripsi meski mengundang teman-temannya melihat presentasi. 

Seminar menjadi semacam syukuran sudah melalui masa genting skripsi dan ditutup dengan makan-makan. Para pedagang kantin menyediakan makanannya. “Sehari bisa empat yang seminar, sampai capek memasaknya," kata Nur. “Sekarang tak ada lagi yang memesan makanan untuk seminar skripsi.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain