Surat dari Darmaga

Belajar dari Inisiatif-Inisiatif Lokal

Selasa, 31 Maret 2020 14:21 WIB

Para pemuda di di Komunitas Wana Paksi Kulonprogo menyelamatkan burung dari kejaran bedil para pemburu. Inisiatif bertemu dengan kepedulian dan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Wiratno

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

KALAU Anda menuju Kabupaten Kulonprogo, Jawa Tengah, di bulan Maret, Anda akan menyaksikan hamparan hutan rakyat yang didominasi pohon jati yang sedang berbunga menguning di Desa Jatimulyo. Sangat indah.

Apabila mendekat, Anda akan menyaksikan sistem wanatani, bercampur antara jati, sengon, mahoni, sonokeling, sonokembang, kaliandra bunga merah. Sangat rapat. Di bawah tegakan itu tumbuh empon-empon yang menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Kelik, seorang pemuda yang tumbuh di desa itu, menceritakan tentang perubahan penggunaan lahan dari sawah tadah hujan di tahun 1970 menjadi kebun kopi, dan akhirnya kini berubah menjadi wana tani yang sangat beragam tumbuhannya yang memberikan nilai ekonomi sangat layak.

Kita bisa menyaksikan rumah-rumahnya yang kokoh modern tanpa meninggalkan keunikan arsitektur Jawa. Jalan aspal hotmix yang mulus mengular di seluruh pelosok desa-desa di Kabupaten Kulonprogo ini, telah memberikan nilai tambah ekonomi dan lahirnya desa-desa wisata yang luar biasa.

Para petani berhimpun di Wana Paksi, perkumpulan pemuda yang peduli pada burung. Sebelum 2014, banyak sekali pemburu burung di desa Jatimulyo, terutama para pemuda. Lalu ada Peraturan Desa Nomor 8 tahun 2014, yang proses pembahasannya sampai satu tahun, yang bertujuan melindungi burung.

Dengan kebijakan itu pemburu tak lagi berani datang ke sini. Dan binatang ternyata memiliki kesadaran. Mereka tahu Desa Jatimulyo sekarang bebas dari perburuan. Mereka kembali menclok di berbagai pohon dengan rasa aman.

Menurut Kelik, saat ini sudah ada lebih dari 100 jenis burung yang meramaikan suasana perdesaan yang adem. Komunitas Wana Paksi semakin menjadi daya tarik baru. Para mahasiswa datang meneliti, anak-anak sekolah, tamu-tamu volunter Yayasan Konservasi Alam Yogya juga berkunjung ke Jatimulyo. Mereka juga melihat cara Kelik dan teman-temannya mengembangkan Kopi Sulingan. Saat ini mereka sedang mengembangkan ternak lebah madu dan taman bacaan untuk anak-anak.

Dalam ilmu ekologi dan konservasi, apa yang dilakukan Kelik dan masyarakat Desa Jatimulyo adalah kesadaran ekologis yang perlahan menjalan ke kesadaran kelompok lalu membesar menjadi kesadaran komunitas. Menjadi  suatu gerakan bersama, gerakan kolektif.

Dalam “teori U”, yang ditemukan dan dikembangkan dosen di Massachusetts Institute of Technology, Otto C Scharmer pada 2007, model gerakan ini disebut sebagai “awareness based collective action”. Suatu cara baru membangun aksi kolektif by designed. Didasari dari suatu kesadaran (awareness), bukan sekadar karena adanya proyek.

Bekerja dengan kesadaran adalah bekerja dengan tiga prinsip: (1) bekerja dengan senang (enjoyment) gembira, (2) bekerja dengan antusias (enthuiasm), penuh semangat, passion, penuh daya, dan (3) bekerja dengan sikap penerimaan total (acceptance) atau ikhlas.

Apabila gerakan bersama itu bisa disebut kemenangan maka kemenangan itu milik bersama. Kemenangan autentik terletak pada kemauan, kerelaan, dan kemantapan untuk menjadi diri sendiri.

Apa yang dilakukan para pemuda Wana Paksi juga banyak dilakukan oleh komunitas lain di Indonesia. Sebut saja Kang Dayat yang memelopori Gerakan Bersih Mandiri Ciliwung, Pak Sabran yang membangun kesadaran masyarakat berhenti melakukan pembalakan liar di Sebangau 2002, sebelum akhirnya menjadi taman nasional pada 2004, Wak Yun di Tangkahan yang membangun surga di pinggir Taman Nasional Gunung Leuser dengan mengubah perilaku masyarakat pembalak liar menjadi penjaga hutan, penggerak Hutan Kemasyarakatan (Hkm) Kalibiru, Kulonprogo sejak tahun 2013.

Saya sebut mereka sebagai pahlawan lokal untuk lingkungan. Keberhasilan mereka yang mampu mengembangkan nilai kepahlawanan secara mandiri karena ditopang oleh sikap mental “5K”: kepedulian, kepeloporan, keberpihakan, konsistensi, dan kepemimpinan.

Di Jatimulyo, kepedulian pada burung tumbuh karena pemandangan sehari-hari para pemburu yang menembaki burung tanpa alasan. Karena kepedulian kepada burung sebagai penyeimbang ekosistem mereka merancang, mengawali, memelopori suatu langkah awal dan terus-menerus sampai melahirkan peraturan desa itu. Kelik dan para pemuda menjadi pelopor.

Mereka juga punya keberpihakan. Keberpihakan pada alam, bukan pada hasrat dan kesenangan memburu burung. Pemikiran dan keberpihakan itu membuat mereka konsisten dan mendorong gelombang perubahan. Mereka telah terpanggil oleh alam, mendapatkan personal calling sehingga tumbuh jiwa kepemimpinan mewujudkan cita-cita bersama itu.

Belajar dari Komunitas Wana Paksi itu, aparat sipil negara juga bisa menirunya dengan mampu mendeteksi, menemukenali vibrasi atau frekuensi dari para juara lokal itu. Selanjutnya memfasilitasi, mengawal, dan mendorong mereka ke dalam garis edar yang lebih besar dalam membangun jaringan multipihak, multilevel, dan multidisiplin.

Inilah yang diperlukan dalam melakukan reformasi di jajaran birokrasi pemerintah. Menemukan vibrasi tersebut hanya bisa dilakukan ketika kita turun ke lapangan yang untuk melihat (seeing) dan merasakan (sensing) keadaan sesungguhnya. Sensing adalah seeing from your heart.

Para rimbawan harus sering turun ke hutan, ke lautan, untuk menemukan fakta-fakta riil dan problem atau potensi-potensi masyarakat di sekitar lingkungan itu. Juga untuk mengetahui dan menemukan hubungan-hubungan sosio-budaya, sejarah, spiritual, antara masyarakat dengan sumber daya hutan di sekitarnya.

Dalam ilmu kehutanan di kampus, penguasaan lapangan ini disebut sebagai kapasitas untuk “memangku” kawasan hutan.

FOTO: Burung-burung Cikalang chistmas (Fregata andrewsi) dari Kepualaun Christmas, Australia, sedang bermigrasi mencari makan di Pulau Rambut Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Februari 2020 (Foto: Asep Ayat).

Bagikan

Komentar

Artikel Lain