Penelitian | Oktober-Desember 2019

Pembunuh Hama Berdarah Dingin

Pohon mimba bisa dikembangkan sebagai bahan baku produk pengusir hama hingga reboisasi. Semua komponennya berguna.

Arief Heru Prianto

Peneliti pada Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

POHON mimba (Azadirachtaindica A. Juss), merupakan salah satu famili Meliacea yang termasuk tanaman tropis dan sub tropis cepat tumbuh. Tanaman ini bisa tumbuh pada lokasi dengan curah hujan tahunan 400-800 milimeter dan musim kemarau yang panjang, bahkan pada tanah marginal. Tanaman ini menyebar dari India, Myanmar, Sri Lanka, Thailand, Malaysia hingga ke Indonesia.

Di Indonesia, mimba bisa kita temukan di Lampung, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Puluhan juta pohon mimba telah ditanam masal di banyak negara untuk penghijauan dan pemanfaatan bagian  tanamannya. Manfaatnya yang luas pada bidang kesehatan dan pertanian membuat para ahli menyebutnya “tanaman multiguna”

Mimba sangat cocok untuk reboisasi hutan yang gundul, karena tahan kekeringan yang panjang sehingga minim pemeliharaan. Penanaman skala besar dapat membantu mengurangi  penggundulan hutan, erosi tanah, dan mencegah pemanasan global karena mimba memiliki tingkat fotosintesis yang tinggi sehingga lebih banyak oksigen yang diproduksi daripada pohon lain. Mimba memiliki kemampuan tumbuh kembali setelah ditebang yang bisa mencapai ketinggian 25 meter

Buah dan daunnya merupakan bagian terpenting mimba. Buah-buahan dihasilkan pada bagian malai pada satu atau dua kali dalam setahun. Bunga mulai muncul pada bulan September dan buah masak pada bulan Januari.  Bentuk buahnya oval dengan panjang sekitar 1,5 sentimeter, bagian luar berwarna hijau kekuningan yang ketika masak akan terkelupas dan menyisakan cangkang coklat pucat yang berisi inti biji berwarna coklat tua.

Satu pohon bisa menghasilkan biji antara 10-50 kilogram, tergantung pada umur dan faktor lingkungan. Daunnya berukuran sedang, menyirip tidak berpasangan, pinggir daun bergerigi dan runcing. Sementara batangnya berwarna coklat muda sampai coklat tua dan dekorasi kayu yang cukup baik menyebabkan kayu ini banyak digunakan masyarakat untuk kusen dan daun pintu.

Mimba memiliki 35 senyawa bioaktif antara lain azadirachtin, isomeldenin, salanin, nimocinol, 2-3 dehydrosalanol gedunin, nimbin, nimbidin, nimolicinol, odoratone, azadironolide, isoazadironolide, naheedin, dan mahmoodin. Senyawa aktif ini bersifat sedikit hidrofilik, tetapi banyak yang bersifat lipofilik dan sangat larut dalam pelarut organik. Pada aplikasi pengendalian serangga hama, mimba tidak langsung mematikannya, tetapi mengganggu pertumbuhan dan reproduksi serangga.

Minyak mimba mengandung bahan aktif utama yang dikenal dengan nama azadirachtin. Namun bioaktif ini tidak bekerja sendiri, tetapi bersinergi dengan bahan aktif lain seperti nimbin, salanin, dan fenol. Azadirachtin ditemukan di semua bagian pohon tetapi lebih banyak terkonsentrasi pada biji. Kandungan Azadirachtin berbeda pada tiap pohon karena perbedaan tempat tumbuh dan umur pohon. Kandungan azadirachtin dalam biji menurun jika terjadi kerusakan atau pembusukan biji.

Mimba mudah disiapkan dan digunakan, dan aman bagi lingkungan, tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Rasa pahit dalam minyak biji mimba diakibatkan oleh senyawa meliacin sedangkan bau khasnya salah satunya karena kandungan asam tignat.

Senyawa bioaktif menurut bagian tanaman mimba antara lain.

  1. Biji mengandung azadirachtin, azadiron, azadiradion, epoksiazadiradion, gedunin, 17-epiazadiradion, 17-hidroksi azadiradion, ester asam lemak, meliantriol, salanin, diepoksiazadion, ester benzoat, mimin, nimbolin, salanol, nimbandiol, dan odoratan
  2. Daun mengandung nimonol, nimbolida, 28-deoksi nimbolida, a-linoleat, 14-15-epoksinimonol, 6-K-O-asetil-7-deasetil mimosinol, melrasinol, nimbotalin, dan paraisin.
  3. Kulit batang diketahui mengandung nimbin, nimbinin, nimbidin, nimbosterol, nimbosterin, sugiol, nimbiol, margosin, asam gallic, polisakarida, polisakarida GIa, polisakara GIb, polisakarida GIIa, polisakarida GIIIa.
  4. Bunga ditemukan kuersetin, kaemferol, dan mirisetin.
  5. Kayu mengandung nimaton dan 15% zat samak terkondensasi

Kandungan senyawa dalam tanaman mimba

Azadirachtin merupakan golongan terpenoid yang bisa diisolasi dari biji pohon mimba, sebagai bioaktif pertahanan alami tanaman melalui mekanisme penghilangan rangsangan makan (phagostimulant) dan melalui pengurangan dalam asupan makanan karena efek toksik jika dikonsumsi.

Mimba menjadi salah satu sumber senyawa bioaktif yang telah diteliti berbagai ilmuan di seluruh dunia. Azadirachtin juga memiliki efek mengganggu pertumbuhan pada larva seperti gangguan moulting, penghambatan pertumbuhan, malformasi, yang berakhir pada kematian. Hal ini disebabkan oleh gangguan endokrin sebagai regulasi turunnya kadar hormon ecdysteroid. Aktivitas azadirachtin dalam mengganggu pertumbuhan larva akan meningkat dengan naiknya suhu, sehingga hal ini akan menguntungkan bila diaplikasikan pada daerah tropis.

Mahmoodin, yang juga berasal dari isolasi minyak biji mimba terbukti bersifat antibakteri bakteri patogen. Tanin terkondensasi dari kulit kayu mimba dapat menghambat peradangan. Pada aplikasi di bidang pertanian dan kehutanan produk berbasis mimba digunakan untuk mengendalikan serangga hama. Mimba memiliki spektrum pengendalian yang luas untuk lebih dari 200 jenis serangga yang tergolong dalam Lepidoptera, Diptera, Heteroptera, Homoptera, Orthoptera, Hymenoptera, Thysanoptera, dan Coleoptera.

Karena itu mimba memiliki potensi besar sebagai pengendali hama gudang, dengan memanfaatkan efek repellentnya sehingga mencegah masuknya hama ke dalam penyimpanan produk. Efek repellent ini juga berhubungan dengan efek mencegah peletakan telur serangga terhadap produk yang dilindungi.

Aktivitas farmakologi tanaman mimba telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian di antaranya sebagai antifertilitis, antiplasmodial, antiinflamasi, antiteramatik, antipiretik, penurunan gula darah, antitukak lambung, hepatoprotektor, imunopotensiasi, antifertilitas, antibakteri, antijamur, anti kanker, antitripanosoma dan antivirus.

No.

Nama Senyawa

Sumber

Aktivitas biologi

1

Nimbidin

Biji

  • Anti-inflammatory
  • Antiarthritis
  • Antipyretic Hypoglycaemic Spermicidal Antifungal Antibacterial Diuretic

2

Sodium nimbidate

 

Anti-inflammatory

3

Azadirachtin

Biji

Antimalerial

4

Nimbin

Biji

Spermicidal

5

Nimbolide

Biji

  • Antimalerial
  • Antibacterial

6

Gedunin

Biji

Antimalerial

Antifungal

7

Mahmoodin

Biji

Antibacterial

8

Gallic acid, (-) epicatechin dan catechin

Kulit

  • Anti-inflammatory
  • Immunomodulatory

9

Margolone, margolonone dan isomargolonone

Kulit

Antibacterial

10

Cyclic trisulphide dan cyclic tetrasulphide

Daun

Antifungal

11

Polysaccharides

 

Anti-inflammatory

12

Polysaccharides G1A, G1B

Daun

Antitumour

13

Polysaccharides G2A, G3A

Daun

Anti-inflammatory

14

NB-2 Peptidoglucan

Daun

Immunomodulatory

Salah satu temuan, misalnya, senyawa nimbidin, dari ekstrak minyak mimba. Nimbidin  memiliki aktivitas antiinflamasi setelah diujikan pada tikus. Pemberian nimbidin secara oral menunjukkan efek hipoglikemik dan menekan asam lambung yang signifikan. Nimbidin juga dilaporkan memiliki aktivitas spermicidal sehingga dapat dipakai sebagai alat kontrasepsi alami. Nimbidin terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur Tinea rubrum dan mycobacterium tuberculosis. Nimbolide  dan gedunin menunjukkan aktivitas antimalaria dan antmikroba.

Dengan segala manfaat itu, terlihat bahwa mimba memang layak disebut tanaman multiguna.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.