Laporan Utama | Juli-September 2018

Pelopor Wisuda di IPB

Pemanenan menjadi cikal bakal Hapka. IPB menirunya kemudian.

Labib Mubaarok

Rimbawan IPB

SELAIN masa orientasi pengenalan kampus yang keras tapi berkesan, sejak awal Fakultas Kehutanan juga punya tradisi merayakan kelulusan menjadi sarjana. Wisuda yang kini disebut “pemanenan” itu pertama kali digelar pada 1966. Karena bertepatan dengan hari lahir IPB yang ketiga, pemanenan pertama itu dinamakan “Tri Warsa”. 

Disebut pemanenan karena merujuk pada panen pohon setelah cukup umur. Tapi, acara ini mula-mula tak berasosiasi pada hasil menjadi sarjana, melainkan hari berkumpul para sarjana. Pada tahun ketiga itu, Fakultas Kehutanan sudah punya lebih dari 140 alumni.

Karena para alumni bekerja di bidang kehutanan dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan IPB, mereka masih sering main ke kampus, apalagi banyak yang menjadi dosen karena minimnya tenaga pengajar di awal Fahutan berdiri.

Seperti diceritakan dalam buku Sejarah Singkat Fakultas Kehutanan IPB (2013) tahun-tahun berikutnya, wisuda sarjana itu berubah menjadi acara “Home Coming Day”, yang berubah lagi menjadi Hari Pulang Kampus pada 1982 setelah Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan terbentuk.

Sebelum menjadi Hapka, HCD maupun wisuda digelar sepenuhnya oleh kampus. Para dosen dan mahasiswa yang belum lulus membuat acara penyambutan dan pelepasan mereka yang sudah menjadi Sarjana Kehutanan. Macam-macam acaranya. Yang pokok adalah memotong kayu memakai gergaji manual dan mesin.

“Pemanenan” sarjana ini menjadi tradisi Fakultas Kehutanan, hingga IPB menirunya pada 1987. Jika simbol wisuda Fahutan berupa penyematan selendang, wisuda IPB sudah memakai topi toga. “Ketika itu putri bungsu Presiden Soeharto lulus,” kata Ahmad Hadjib, angkatan 6 atau 1969 yang lulus pada 1976. Tahun 1987 Hadjib sudah menjadi dosen Perencanaan Hutan di Fahutan.

Putri bungsu Soeharto itu adalah Siti Hutami Endang Adiningsih, yang akrab dipanggil Mamiek. Ia masuk jurusan Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam pada 1983 atau angkatan 20. Setelah menyelesaikan skripsi berjudul  “Ciri-ciri Antropometri”, penelitiannya di sejumlah perusahaan perkebunan di Irian Jaya, Mamiek diwisuda pada 26 September 1987.

Seperti dilaporkan Kantor Berita Antara, Mamiek lulus bersama 594 wisudawan lain. Presiden Soeharto dan Ibu Tien serta kakak-kakaknya datang ke Graha Widya Wisuda di Kampus Dramaga untuk melihat anak dan adik bungsu itu memakai toga sebagai Insinyur. Mamiek menjadi sarjana IPB nomor 14.467.

Dalam wisuda itu, Soeharto juga berpidato mewakili orang tua mahasiswa yang diwisuda. Agaknya, ia menjadi satu-satunya presiden yang berpidato dalam wisuda mahasiswa IPB. Dalam pidato itu Soeharto menyinggung masih langkanya jumlah sarjana dibanding 170 juta penduduk Indonesia. Dalam hitungannya hanya ada 2 sarjana di tiap 1.000 penduduk.

Menurut Soeharto, hingga tahun 1987, negara menyubsidi tiap mahasiswa di perguruan tinggi negeri sebesar Rp 3 juta selama masa studi, yang rata-rata lima tahun. Sementara untuk mahasiswa di perguruan tinggi swasta sebesar Rp 200 ribu selama kuliah. Waktu itu nilai rupiah terhadap dolar masih di bawah Rp 2.000.

Dari informasi yang beredar di kalangan dosen IPB, GWW dibangun dari patungan para pengusaha pemegang konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang sedang berjaya di masa Soeharto. GWW dibangun selama dua tahun hingga terlihat seperti sekarang.

Setelah menghadiri wisuda, Soeharto lalu meresmikan fasilitas baru berupa Gedung Fakultas Teknologi Pertanian, Gedung Laboratorium Analisis dan Produksi Benih, Jurusan Perbenihan, Fakultas Politeknik Pertanian, serta Gedung Lembaga Sumber Daya Informasi dan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup.

Menurut Hadjib, wisuda tahun 1987 adalah wisuda pertama tingkat IPB. Mahasiswa Fakultas Kehutanan kemudian ikut dalam wisuda tingkat kampus itu kendati sudah punya tradisi pelantikan sarjana di kampus Fahutan. Di tahun-tahun berikut, wisuda berubah format. Setelah bubar dari GWW mereka diarak ke kampus Fahutan untuk merayakannya dalam acara “Pemanenan”.

Tradisi ini terus berlanjut setelah itu. Para mahasiswa junior yang masih kuliah menyambut kakak-kakaknya yang sudah lulus itu di halaman GWW dengan membuat bunyi-bunyian, terutama gergaji mesin sehingga mengundang penasaran pengunjung, terutama mahasiswa lain dan orang tua para sarjana baru.

20180906010825.jpg

Pemanenan gelombang VIII, 2018.

Bunyi chain shaw itu sampai memekakkan telinga, apalagi ketika mengarak wisudawan ke kampus. Teman-teman para wisudawan yang masih bergulat dengan skripsi, datang ke GWW membawa buket kembang untuk diberikan kepada para wisudawan sebagai tanda syukur dan selamat.

Dekan Fahutan akan menyambut dan memberikan wejangan-wejangan kepada sarjana baru itu di acara “pemanenan”. Para orang tua dan keluarga wisudawan yang mengiringinya juga mendapat tempat khusus. Sehingga jika seremonial di GWW hanya menerima ijazah, di kampus Fahutan para rimbawan ini punya acara lebih bebas.

Pemanenan sempat terhenti setelah tahun 2000. Baru tahun 2018, di bawah dekan Rinekso Soekmadi, “pemanenan” diadakan lagi. Pemanenan terakhir digelar pada 24 Juli 2018 di Gedung Autorium Sylva Pertamina. Himpunan Alumni Fahutan menjadi sponsor acara ini karena itu acara ini sekaligus penahbisan mereka menjadi anggota HAE.

Menurut Rinekso, saat ini sudah ada 7.300 lulusan Fakultas Kehutanan IPB yang tersebar di seluruh daerah Indonesia, bahkan di luar negeri. “Ini potensi luar biasa besar jika kita bisa saling membantu,” kata dia. “HAE adalah wadah untuk konsolidasi itu karena kompetisi di sektor kehutanan akan semakin ketat.”

Rina Kristanti berkontribusi dalam laporan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain