Laporan Utama | Juli-September 2018

Para Sarjana yang Dipercepat

Sistem belajar di IPB tak kenal ampun. Drop-out hingga residivis dengan masa studi kian pendek.

Mustofa Fato

Mahasiswa program master Fakultas Kehutanan IPB. Penyuka kopi dan fotografi.

KERASNYA belajar di Institut Pertanian Bogor terekam dalam istilah-istilah yang populer di kalangan mahasiswa. Mereka yang tidak lulus satu mata kuliah wajib mengulangnya selama setahun penuh. Mereka yang nilai Indeks Pretasinya kurang dari 2 (dari skala 1-4) langsung pulang kampung alias drop-out. Wasallam.

Para mahasiswa yang tidak lulus satu mata kuliah disebut “residivis” atau RCD, yang merujuk pada istilah kriminal untuk penjahat yang tertangkap dan masuk penjara kembali. Tak ada yang ingat kapan istilah RCD mulai dipakai. “Di angkatan saya istilah itu sudah ada, kami memakai sebutan lain: lulus dipercepat,” kata Ahmad Hadjib, mahasiswa Fakultas Kehutanan angkatan 6 (1969) bulan lalu.

Menjadi RCD itu momok bagi para mahasiswa. Hadjib masih ingat di tingkat persiapan selama dua tahun, mata kuliah Kimia Analitik adalah pelajaran paling sulit. Dari satu angkatan berjumlah 66, hanya satu yang lulus. “Yaitu bukan saya,” kata Hadjib, terbahak. “Mahasiswa yang lulus pelajaran ini hanya Profesor Dudung Darusman.”

Pelajaran-pelajaran sulit tak hanya di tingkat persiapan, tapi juga tingkat berikutnya setelah penjurusan di Fakultas Kehutanan. Angkatan 6 hanya ada tiga mahasiswi. “Semua drop-out ketika akan masuk tingkat III. Jadi kami ini angkatan pejantan,” kata Hadjib.

Bagi mahasiswa Fakultas Kehutanan, pengumuman nilai itu acap bertepatan dengan masa Mapram Fakultas atau ketika praktik lapangan bagi yang sudah tingkat lanjut. “Saya ingat kami sedang praktik umum di Jawa Timur ketika kami menerima berita nilai,” kata Yulita Vitalis dari angkatan 27. “Beberapa di antara kami jadi RCD, sedih banget.”

Agaknya dari situlah tradisi masa orientasi yang sangar di Fahutan terbangun. Selain ada turun-temurun Ospek yang gahar, mahasiswa senior yang menggojlok junior juga baru pulang praktik dari luar Bogor, tak libur selama masa kenaikan tingkat, dan mendapat pengumuman nilai. Mereka yang RCD dipastikan akan ngamuk saat Ospek sebagai bentuk pelampiasan.

Tapi, untungnya, di Fahutan tak ada cerita ngamuk para RCD ini dalam bentuk kekerasan dengan merusak. Di Kampus Baranangsiang, sewaktu gedung-gedungnya belum berubah menjadi mal Botani Square dan Hotel Santika, kaca tempat menempel nilai selalu pecah dihajar mahasiswa yang tak lulus. Kaca pecah kemudian tak terjadi lagi sampai dosen menggantinya dengan papan tulis.

Menjadi RCD artinya menambah masa kuliah satu tahun. Jika di tiap tingkat ada mata kuliah tak lulus, artinya, mahasiswa itu akan menempuh kuliah dengan waktu dobel. Di IPB masa kuliah berganti-ganti sesuai kurikulum dan kebijakan rektor.

Ahmad Hadjib masih mewarisi kebijakan lama dengan kewajiban kuliah selama enam tahun. Kebijakan ini diturunkan sejak IPB masih menjadi Fakultas Pertanian Universitas Indonesia. Enam tahun itu terbagi ke dalam tiga babak: dua tahun masa persiapan, dua tahun sarjana muda, dan dua tahun sarjana penuh. Di tiap jenjang itu ada ujian-ujian sub tahap yang mensyaratkan kelulusan.

Penelitian untuk skripsi juga tak kalah alot. Para dosen Fahutan yang merupakan mahasiswa pilihan di angkatannya juga menempuh masa studi yang lama. Profesor Kurnia Sofyan dan Ir. Ahmad Hadjib, MS kuliah selama tujuh tahun. “Skripsi juga lama karena bolak-balik dikoreksi pembimbing,” katanya.

Naskah skripsi itu harus diketik rangkap sembilan. Waktu itu mesin ketik Brother hanya ada di bagian tata usaha. Para mahasiswa yang sedang penelitian dan menulis laporan meminjam mesin tik itu ke sana. Skripsi sembilan rangkap itu berupa skripsi major, minor, dan electic. “Mengetiknya memakai kertas karbon,” kata Hadjib.

Baru pada tahun 1973, ada perubahan masa studi menjadi empat tahun. Waktu itu rektor dijabat Profesor A.M Satari, lulusan Fakultas Kehutanan angkatan minus 11 atau 1951. Pertimbangan memendekkan waktu kuliah ketika itu karena mahasiswa yang diberi waktu enam tahun kuliah faktanya molor hingga sepuluh tahun.

20180906004526.jpg

Ahmad Hadjib bersama mahasiswa Manajemen Hutan angkatan 33 seusai pertandingan sepak bola, 1999.

Sebelum 1973, tak ada batas waktu kuliah. Ada mahasiswa angkatan 1963 baru lulus setelah 20 tahun kuliah. Ia meninggalkan kampus sebelum menggondol gelar sarjana dan bekerja di perusahaan kehutanan sampai ke luar negeri hingga lupa kembali ke kampus meneruskan skripsi. “Saya yang memintanya menyelesaikan kuliah,” kata Suwarno Sutarahadja.

Suwarno satu-satunya mahasiswa angkatan 1963 yang kemudian menjadi dosen di Fahutan. Mendengar ada teman seangkatannya belum lulus, ia mencarinya dan meminta kawan sepermainan itu jeda sebentar untuk menyelesaikan skripsi. “Saya juga yang jadi pembimbing dan pengujinya,” kata Suwarno, kini 73 tahun, dosen Perencanaan Hutan.

Ada juga mahasiswa abadi yang tinggal di asrama Sylva Sari dipaksa lulus agar tak terkena kebijakan drop-out dari Dekan Profesor Herman Haeruman Js. Masa tenggang dua tahun harus dipakai oleh para M.A ini agar tak dipecat. “Maka satu asrama rame-rame membantu menyelesaikan skripsinya, ada yang menggambar, menghitung, sampai membuat daftar pustaka,” kata Suwarno, penghuni pertama Sylva Sari.

Setelah kebijakan A.M Satari itu, mahasiswa dibatasi kuliahnya. Masa wajib kuliah hanya empat tahun dengan masa tenggang dua tahun. Untuk beberapa waktu pergantian masa studi ini sempat membuat ketegangan. Ada yang meragukan kesarjanaan angkatan 1973 dan seterusnya dibanding angkatan-angkatan sebelumnya. “Walaupun, memang, sarjana angkatan sebelumnya secara emosional lebih dewasa karena kuliahnya lama,” kata Bambang Winarto, dari angkatan 11 atau 1973.

Kebijakan sarjana empat tahun itu bertahan cukup lama, hingga tahun 2000. Transisi setelah reformasi 1998 menghasilkan banyak kebijakan baru di kampus-kampus negeri. IPB bersama empat kampus lain berstatus Badan Hukum Milik Negara. Mahasiswa tak lagi disubsidi kuliahnya, melainkan dicarikan sendiri ongkosnya oleh tiap universitas.

Hal ini mendorong kampus menyingkat masa studi menjadi lebih pendek lagi. Mahasiswa diizinkan kuliah selama 3,5 tahun dan uang kuliah juga naik menjadi Rp 750 ribu pada 2000 dari sebelumnya Rp 450 ribu sejak 1996.

Masa studi yang lama itu juga mempengaruhi citra IPB. Dalam pengamatan Profesor Dudung Darusman, Dekan Fahutan pada 1989, mahasiswa yang masuk IPB atau Fahutan bukan yang terbaik dari SMA favorit, kendati sistem Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) sudah mulai diterapkan pada akhir 1980. “Dulu yang terbaik itu ITB dan UI,” katanya.

Perbaikan-perbaikan masa studi, juga makin banyaknya staf pengajar lulusan master dan doktor dari universitas di luar negeri, membuat pamor IPB naik. Menurut Dudung, kini intelektualitas mahasiswa IPB kian membaik seiring waktu. Perbaikan gizi, teknologi, dan suasana kuliah menjadi ikut menentukan kualitas lulusan IPB.

Rina Kristianti dan Robi Deslia berkontribusi dalam laporan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain