Laporan Utama | Juli-September 2018

Plonco yang Keras Tapi Berkesan

Plonco mahasiswa baru sudah ada sejak sebelum IPB berdiri. Fahutan meneruskannya untuk mengeratkan kekompakan dan kekeluargaan.

Robi Deslia Waldi

Bekerja di Fakultas Kehutanan IPB

DI usianya yang ke-73, Suwarno Sutarahardja masih bisa mengingat dengan jelas Masa Prabhakti Mahasiwa atau Mapram ketika ia masuk Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada 1965. Tanpa jeda dan fasih, ia menceritakan masa penggojlokan menjadi mahasiswa itu kepada Forest Digest bulan lalu.

Kejadian yang paling ia ingat adalah ketika pada hari ketiga, dari dua pekan masa orientasi, setelah apel siang para Rakawira (mahasiswa senior angkatan 1 dan 2 yang menjadi panitia) membolehkan semua peserta Mapram pulang ke rumah.

Tentu saja para Prama dan Prami itu girang alang kepalang. Gojlokan para senior amat melelahkan. Izin pulang adalah kesempatan istirahat. Rakawira berpesan agar saat apel malam semua mahasiswa baru itu membawa celana renang, serbet, dan cacing tanah. Para mahasiswa tak ada yang bertanya untuk apa barang-barang itu. Masa orientasi adalah masa yang pasal pertamanya, senior selalu benar.

20180906001515.jpg

Suwarno Sutarahardja

Setelah enam jam istirahat mereka kembali ke kampus Fahutan di Baranangsiang. Salat magrib lalu apel malam, panitia mengajak para junior ini bernyanyi bersenang-senang. “Sekarang waktunya berenang,” kata seorang panitia.

Mereka menggiring para mahasiswa ke gedung belakang, di aula Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian (kini ruangan itu menjadi tempat parkir Botani Square). Begitu ruangan dibuka, terhampar kanji cair di lantai seluruh ruangan. Di sanalah para Prama dan Prami itu harus berenang.

Setelah pakaian tinggal celana dalam, mereka mulai merayap di lantai. Dari pintu masuk hingga pintu keluar. Tentu saja badan telanjang itu lengket dengan kanji. “Udara dingin pula,” kata Suwarno, terbahak.

Selesai berenang, panitia bertanya apakah para junior itu lapar. “Tentu saja kami lapar karena renang itu selesai jam 9 malam,” katanya. Panitia meminta para mahasiswa menutup mata dengan serbet. “Sekarang buka bungkusan plastik yang kalian bawa, itulah makan malam kita,” kata seorang panitia.

Bungkusan plastik itu tentu saja isinya cacing. Suwarno sudah membayangkan, malam itu ia akan muntah. Para Prami sudah terdengar menggerutu bahkan ada yang sudah hampir muntah. “Sekarang silakan makan,” teriak panitia. 

Cacing di mangkok itu bau amis. Suwarno memakannya dengan lahap karena takut disetrap senior. Mahasiswa lain berteriak dan muntah. Setelah selesai, panitia meminta mereka membuka serbet. Rupanya mereka sudah menukar cacing dengan spageti yang beri minyak ikan. “Pantas bau amisnya menyengat,” kata Suwarno.

Selesai makan malam yang tak menyenangkan itu mereka digiring ke lapangan. Di sana sudah ada api unggun. Suwarno dan kawan-kawannya lega karena sedikit mengurangi rasa dingin. Namun, lama-lama badan mereka jadi kurang nyaman. Bulu-bulu serasa dicabuti dengan paksa.

Rupanya, kanji di sekujur badan mereka menjadi kering akibat panas. Proses pengeringan itu membuat bulu di sekujur tubuh menjadi tertarik. “Saya lihat yang paling menderita itu para Prami. Terbayang peureus, he-he-he,” katanya.

Esoknya, panitia berpesan agar para junior membawa cermin rias. Mapram waktu itu berlangsung sejak pukul 5 hingga pukul 11 malam. Panitia menggiring mereka ke bioskop Suryakencana. Malam itu acara ditutup dengan nonton bersama. Para mahasiswa yang kelelahan kembali girang karena akan mendapat hiburan.

Suwarno tak ingat film yang diputar. Yang dia ingat adalah perintah senior agar para junior itu menghadap ke belakang begitu layar berkembang. “Kami harus menonton film melalui cermin rias itu,” katanya. Sudah lelah seharian kegiatan, malam itu mereka harus menonton film secara terbalik. Banyak Prama dan Prami tertidur karena kelelahan.

Penderitaan tak cukup sampai di situ. Panitia meminta para junior itu membuat resume jalan cerita film digabungkan dengan laporan kegiatan selama hari itu. “Edan,” kata Suwarno.

Ketika ia menjadi panitia Mapram untuk masa orientasi angkatan di bawahnya, Suwarno juga memakai cara serupa menggojlok junior-juniornya. Berenang di air kanji, makan “cacing”, menonton film dari cermin kemudian menjadi tradisi dari semua Ospek di tiap angkatan. “Pak Warno itu senior paling galak,” kata Ahmad Hadjib dari angkatan 6 (1969). Seperti kakak kelasnya itu, Hadjib juga mengajar di Fahutan sampai pensiun pada 2015.

Angkatan 1969 adalah angkatan transisi tempat kuliah pindah dari Baranangsiang ke Dramaga. Hadjib masih ingat ia telat masuk kampus saat Mapram karena salah naik oplet. Bersama Profesor Dudung Darusman, ia kos di belakang Internusa. Hadjib salah naik angkot ke Ciherang. “Alhasil saya lari sekencang-kencangnya sambil membawa cangkul dan atribut lain yang nyeleneh,” katanya. “Karena Ciherang-Dramaga jauh, ya, telat juga, akhirnya dihukum push-up.”

Meski menyebalkan selama mengikuti Mapram itu, umumnya para mahasiswa terkesan setelahnya. Apalagi untuk mahasiswa Fahutan, perpeloncoan itu berlanjut begitu mereka masuk fakultas. Plonco di fakultas jauh lebih sadis tapi kreatif. “Ospek Fakultas sudah memasukkan materi kuliah seperti pengenalan pohon di Gunung Walat,” kata Rudy Tarumingkeng, Dekan Fahutan 1968-1969.

20180906003110.jpeg

Di awal-awal Fahutan, kata Suwarno, para junior dipanggil Kunyuk dan Kunyik, sementara senior dipanggil Kakak Rimbawan. Cara senior “ngerjain” yunior juga tak kalah jail tapi tidak kurang ajar. Mata ditutup lalu disuruh pipis berhadapan adalah salah satunya.

Selepas acara, para senior meminta maaf jika selama Ospek membuat tersinggung dan marah. Para junior diizinkan “balas dendam” kepada Kaka Rimbawan yang paling galak dan menyebalkan.

Ada juga “siraman rohani” untuk menguatkan ikatan kekeluargaan, untuk apa menempuh semua kelelahan dan kesuntukan selama masa orientasi. “Mampram atau plonco itu kan pura-pura marah saja karena tujuan utamanya mengeratkan kekeluargaan,” kata Kuswanda Widjajakusumah, dekan pertama Fahutan.

Plonco di universitas sudah ada sejak masa kolonial. Para calon dokter di Stovia Batavia juga mengenal masa orientasi yang disebut “ontgroening”. Dalam bahasa Belanda, groen artinya hijau. Ontgroening berarti menghilangkan yang hijau. “Maksudnya yaitu mahasiswa baru yang akan beranjak ke jenjang lebih tinggi jadi tidak muda dan tidak kekanak-kanakan lagi,” kata Kuswanda.

Asal-usul plonco bisa terbaca dari buku Bunga Rampai dari Sejarah, jilid III karangan Muhammad Roem. Ia masuk Stovia tahun 1924. Setelah kemerdekaan, ontgroening berubah menjadi plonco, bahasa Jawa untuk menyebut anak berkepala botak. Demikianlah sejarahnya, asal-usul para junior berkepala botak ketika mengikuti masa orientasi.

Di Fahutan, saat masa orientasi juga ada kebiasaan memberikan nama angkatan di acara puncak saat kemping. Kemping masa orientasi biasanya di Baturaden, Cilacap, Pantai Carita, atau Leuwiliang. Setelah Hutan Pendidikan Gunung Walat terbentuk, penutupan Ospek berlangsung di gunung yang berada di Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, ini.

Tak ada pola pemberian nama angkatan. Angkatan pertama (1963) diberi nama “Ompreng” karena sewaktu kemping di Baturaden, mahasiswa memukul tempat makan dari seng itu hingga riuh. “Sejak itu nama angkatan kami jadi Kompreng,” kata Jojo Ontario, yang kemudian mengajar di Fahutan.

Angkatan 33 diberi nama “Blandong” oleh Ketua Panitia Orientasi Mahasiswa Baru tahun 1996, Hendra Wijaya. Dia angkatan 29 yang menjadi panitia OSMA. Blandong merujuk pada penebang kayu yang dipekerjakan pemerintah Belanda di era kolonial. “Kami ingin angkatan 33 sekuat blandong baik fisik maupun mental,” kata Hendra, kini bekerja di Kementerian Koordinator Kemaritiman.

20180906003436.jpg

Menurut Hendra, yang akrab dipanggil Inyong, nama itu lahir atas rembukan dan kesepakatan panitia. Sejak orientasi angkatan 1, pemberian nama angkatan merupakan kewajiban dan sudah menjadi tradisi. Panitia menyiapkan nama angkatan bagi mahasiswa baru agar menjadi identitas mereka. “Saya ingat, kami rapat untuk memutuskan nama buat mahasiswa yang di Ospek,” katanya.

Masalahnya, panggilan “blandong” juga disematkan kepada angkatan 32 yang masa orientasinya menyusul setelah 33, ketika mereka sudah penjurusan di tingkat II dan sewaktu akan mulai kuliah di Dramaga. Karena Ospek dua angkatan ini hampir bersamaan, panitianya pun tak jauh beda.

Tapi angkatan 32 kemudian diberi nama “Gondewa”, untuk membedakan dengan nama angkatan 33. “Gondewa itu kependekan dari tigo-duo narsis tapi dewasa,” kata Syamsul Budiman, Ketua Angkatan 32. “Tidak nyambung memang, he-he-he.”

Rina Kristanti, Mustofa, Muhammad Labib Mubarok berkontribusi dalam laporan ini.

 

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain