Laporan Utama | Juli-September 2018

Cintaku di Kampus Abu-Abu

Fahutan telah jadi nama generik para mahasiswa, dosen, dan alumni. Ia kampus, ia rumah, ia juga keluarga yang mengikat 6.000 lulusannya untuk selalu pulang ke sini, menjenguk kenangan, menyiapkan masa depan. Fahutan tak sekadar Fakultas Kehutanan yang menjadi bagian dari Institut Pertanian Bogor. Ia mengajarkan lebih dari mata kuliah akademis, tapi nilai-nilai hidup yang utama: kebersamaan, solidaritas, peduli, dan saling menghargai.

Rina Kristanti

Penjelajah bentang alam dan voluntir pelestarian lingkungan.

DI Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, warna abu-abu jadi setengah sakral. Dalam setiap orientasi mahasiswa baru, atau dalam pelbagai kegiatan mahasiswa yang resmi maupun tak resmi, warna abu-abu ini bahkan diberi nama khusus: “abu-abu Fahutan”, seolah ada abu-abu lain selain lambang Fahutan. 

Artinya pun mentereng. Secara umum warna abu-abu sering diartikan sebagai simbol “keseriusan, kestabilan, kemandirian, dan penuh tanggung jawab.” Di Fahutan, warna abu-abu ditambahkan artinya dengan “kekompakan, sportivitas, intelektuil, dan kreatif.”

Abu-abu memang warna bendera Fakultas Kehutanan untuk membedakan dengan fakultas lain jika dideretkan di ruang sidang rektorat. Di IPB, Fahutan adalah fakultas kelima sehingga perlu ada pembeda agar tiap-tiap fakultas itu punya ciri dan identitas yang unik. Pemilihan bendera fakultas ini terjadi pada 1963.

Syahdan, dekan pertama Fahutan waktu itu adalah Kuswanda Widjajakusumah. Menurut surat keputusan pendirian IPB tanggal 1 September 1963, namanya masih Departemen Kehutanan, departemen ketiga di antara lima departemen Institut Negeri Bogor. Setahun kemudian, Presiden Sukarno menerbitkan surat keputusan yang mengubah departemen menjadi fakultas dan INB disahkan menjadi IPB.

Kuswanda orang Bandung yang lahir tahun 1933, masuk jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, tahun 1952 atau Angkatan Minus 11. Waktu itu, Fakultas Pertanian masih jadi bagian UI. Satu jurusan di tahun itu hanya berisi 20 mahasiswa dan yang lulus menjadi kandidat Sarjana Kehutanan pada 1957 tinggal delapan orang.

Begitu lulus, Kuswanda langsung mengajar di jurusan Kehutanan. Ia lalu meneruskan master dan doktor ke Amerika Serikat. Pulang dari sana diangkat menjadi dekan karena jurusan kehutanan naik status menjadi fakultas. “Seharusnya yang menjadi dekan itu Pak Soenarjo Hardjodarsono karena beliau Ketua Panitia Khusus Pembentukan Fakultas Kehutanan,” kata Kuswanda, dalam sebuah perbincangan dengan Forest Digest bulan lalu. “Tapi kemudian saya yang ditunjuk.”

Karena IPB baru berdiri pada 1963 dengan menjadi institut mandiri berpisah dari UI, identitas kampus belum terbentuk secara ajek. Fakultas-fakultas baru berdiri. Rektor Profesor Tojib Hadiwijaja memanggil pulang mahasiswa-mahasiswa yang studi di luar negeri kembali ke IPB. “Saya sedang doktor di Amerika disuruh pulang karena dosen Belanda diusir Bung Karno,” kata Kuswanda.

Tibalah saatnya memilih warna bendera untuk tiap-tiap fakultas. Waktu itu bahkan lambang IPB belum dikukuhkan secara pasti. Lambang IPB yang kita kenal sekarang diresmikan pada 24 Mei 1964. Cerita pembentukan lambang ini direkam Howard W. Beers, profesor dari Universitas Kentucky, Amerika Serikat, yang mengajar di jurusan Pertanian UI, dalam bukunya: An American Experience in Indonesia yang terbit tahun 1971.

Kuswanda telat tiba di ruang rapat Rektor di kampus Baranangsiang dalam pemilihan bendera itu. Ia harus rapat di fakultas terlebih dahulu. Ketika masuk ruangan, Dekan Fakultas Pertanian, Kedokteran Hewan, Peternakan, dan Perikanan sudah memegang kain dengan warna yang berbeda-beda. Tersisa kain abu-abu yang mau tak mau harus ia pilih sebagai warna Fahutan. “Harusnya pemilihan diulang menunggu semua dekan hadir,” kata Kuswanda.

20180906000734.jpg

Rudy Tarumingkeng (kiri) dan Kuswanda Widjajakusumah (bertopi).


Jadi, menurut Kuswanda, tak ada arti spesifik terhadap warna abu-abu itu pada awalnya. “Mungkin karena Bogor selalu mendung, jadi abu-abu itu cocok dengan warna kota Bogor,” katanya. Ia sendiri belum punya referensi warna yang ia inginkan seandainya ia tak telat hadir dalam rapat pemilihan bendera waktu itu.

Jika kemudian warna abu-abu itu diberikan makna yang megah dan berwibawa, menunjukkan Fahutan adalah fakultas yang punya naluri bertahan (survival) yang kokoh. Abu-abu, yang sudah ada, diberikan makna baru agar cocok dengan ilmu dan pendidikan yang diajarkan di dalamnya.

Sejarah Fahutan adalah sejarah dan kisah survival itu.

Menurut Kuswanda, pada 1963 hanya ada tujuh dosen yang terlibat mengajar mata kuliah di Fakultas Kehutanan yang menempati gedung semi permanen seluas 500 meter persegi di belakang kampus utama Baranangsiang. Ia mengajar mata kuliah Silvikultur. “Mengajar sebisanya dengan membaca text book sebelum kuliah,” katanya. “Jadi kelihatannya lebih tahu, padahal kalau mahasiswa baca bukunya juga mereka akan tahu materinya.”

Ketika diminta memimpin Fakultas Kehutanan, Kuwanda memanggil alumni-alumni jurusan Kehutanan kembali ke kampus untuk membantunya mengajar 39 mahasiswa. Mereka yang dipanggil antara lain Ir. Sjafii Manan, Ir. L.M.W Meulenhoff, dan Ir. Atep Sudrajat. Empat dosen yang sudah jadi pengajar adalah Ir. Rubini Atmawidjaja, M.Sc, Ir. Rahardjo S. Suprapto, Ir. Sadikin Djajapertjunda, M.Sc, dan Ir. Sambas Wirakusumah.

Di awal perkuliahan, kata Kuswanda, jadwal pelajaran hanya sampai pukul 2 siang. Meskipun udara Bogor masih dingin ketika itu, duduk dalam kelas yang apak dan sempit menjadi gerah karena belum ada mesin pendingin. “Tidak seperti sekarang, setiap ruang kelas ada AC,” kata dia.

Kuswanda menjadi Dekan Fahutan hingga tahun 1965. Penggantinya Ir. Rubini Atmawidjaja, M.Sc hanya bertahan tiga bulan, dari 1 Januari 1966 hingga 14 April 1966 karena situasi politik yang meruncing akibat perseteruan ideologi kiri, kanan, dan tengah di level nasional. Para mahasiswa protes tapi tak bisa menahan pengunduran Rubini.

Imbas gejolak politik nasional tak hanya menerpa para dosen. Mahasiswa juga acap gontok-gontokan, terutama yang berbeda organisasi. Mereka acap bentrok dan saling tekan. “Saya dulu di HMI, ditekan terus oleh teman dari organisasi yang berafiliasi ke partai komunis,” kata Kurnia Sofyan, mahasiswa angkatan 1962 atau minus 1, yang lulus pada 1969 dan mengajar di Fahutan.

Tak hanya bentrok secara ide, perkelahian fisik antara mahasiswa yang berbeda organisasi dan pandangan juga tak terhindarkan. Suwarno Sutarahardja, mahasiswa angkatan 1965, yang menjadi anggota Resimen Mahasiswa acap melihat perkelahian mahasiswa dua organisasi berbeda. “Mereka bahkan saling culik,” katanya.

Situasi panas ini membuat kuliah di IPB sempat dihentikan pada 1965 selama enam bulan. Itulah kenapa, kata Suwarno yang kini pensiunan dosen Fahutan, tak ada angkatan 1966 di IPB maupun Fahutan. Angkatan 4 adalah mereka yang masuk kuliah di IPB pada 1967. Peristiwa 1965 juga menghentikan pembangunan gedung IPB di Dramaga.

Sejak 1961, Presiden Sukarno punya ide menambah besar gedung kuliah Fakultas Pertanian di Baranangsiang ke Dramaga. Setelah kemerdekaan, pemerintah baru mengambil alih aset-aset pemerintah kolonial Belanda, termasuk perkebunan karet yang luas di Dramaga itu. Ide meluaskan kampus tercetus sejak kepulangan Tojib Hadiwidjaja studi komparasi pendirian universitas ke Amerika Serikat, Belanda, dan Prancis pada 1957.

Hasilnya, sistem anglosaxon yang diadopsi dari Belanda kurang cocok diterapkan di Indonesia. Mahasiswa yang seharusnya kuliah lima tahun enam bulan molor hingga sepuluh tahun. Maka, Fakultas Pertanian UI akan diperluas agar mandiri membuat penelitian dan praktikum.

Sukarno meletakan batu pertama gedung Dramaga pada 3 April 1961 di areal gedung seng (kini jadi kantin Stevi dan Departemen Agronomi). Setelah itu pengembangan merembet dengan membangun Asrama Sylva Sari dan Sylva Lestari, juga gedung baru yang kini jadi Ruang Sylva, serta delapan unit rumah untuk dosen.

Pembangunan gedung Dramaga terhenti akibat perintah Sukarno yang ingin fokus membangun Gelora Senayan untuk menyambut Asian Games. Pasir, semen, dan beton diangkut ke Senayan untuk bahan baku membuat sarana olah raga. Gedung Sylva baru tiang pancang ketika proyeknya dihentikan. Pembangunan tambah molor akibat meletus Gerakan 30 September 1965.

Pengunduran Rubini sedikit banyak terkait dengan kekisruhan politik itu. Setelah perdebatan yang cukup alot, Tojib Hadiwidjaja, yang diangkat menjadi rektor pertama IPB, menunjuk Profesor J.H Hutasoit sebagai care taker Dekan Fahutan. Ia lalu menunjuk empat orang sebagai presidium: Ir. Rahardjo S. Suparto, Ir. Rudy Tarumingkeng, MF, dan Ir. Herman Haeruman JS, untuk melanjutkan tugas Rubini hingga 31 Desember 1967.

Menginjak tahun baru, setelah tugas presidium berakhir, Rudy Tarumingkeng, yang baru pulang menyelesaikan studi Master of Forestry di Duke University, Amerika Serikat, menjadi dekan Fahutan. “Saya diangkat jadi dekan hanya berbekal SK Rektor, tak ada pelantikan,” katanya, bulan lalu.

Baru beberapa bulan menjabat, Rektor Tojib Hadiwidjaja menantangnya agar Fakultas Kehutanan pindah ke Dramaga, meninggalkan ruang sempit dan panas di Baranangsiang, dan menempati gedung baru peninggalan Sukarno. Waktu itu pembangunan gedung Sylva sudah selesai. Tojib sebetulnya mengingatkan kembali keinginan mahasiswa jurusan Kehutanan sejak 1962 yang mengajukan proposal pemisahan jurusan Kehutanan menjadi fakultas sendiri.

Dipimpin Sambas Wirakusumah, Ketua Jurusan Kehutanan kala itu, Toga Silitonga, dan Ketua Mahasiswa Kehutanan Bambang Soekartiko mengadakan seminar tiap Sabtu untuk menjaring suara perlunya sekolah tinggi dan fakultas yang mandiri. Hasilnya, perlu dibentuk Perguruan Tinggi Kehutanan atau setara Fakultas Kehutanan untuk menjawab tantangan pengelolaan hutan yang dirasakan sama pentingnya dengan mengelola padi dan sawah.

Jika Rudy setuju atas tawaran Tojib tersebut, gedung yang baru dibangun itu akan jadi tempat kuliah mahasiswa kehutanan. Luas bangunannya 3.000 meter persegi plus 5.000 meter persegi ruang kuliah dan asrama.

Sebetulnya, fakultas lain juga ditawari pindah ke Dramaga. Tapi hanya Rudy yang meneruskan tawaran itu ke para dosen dan mendengar pendapat mahasiswa, karena meski sudah ada gedungnya, Dramaga adalah wilayah terpencil yang tak terjangkau kendaraan. Semua ternyata setuju. Sementara dekan fakultas lain menolak tawaran itu.

Sebagai tanda kesanggupan pindah, Rudy mengajak dosen dan para mahasiswa yang berjumlah 200 orang (terdiri dari angkatan 1 sampai 5) long march dari Baranangsiang ke Dramaga sejauh 10 kilometer. Mereka berjalan kaki untuk menunjukkan tekad kuat kuliah di Dramaga.

Kuliah pertama di kampus baru ini terjadi pada 1 Oktober 1968, setelah semua mahasiswa menempati asrama Sylva Sari dan Land Huis yang kini menjadi Asrama Putri Dramaga. Ada tiga orang mahasiswi dari angkatan 1 yang harus ditempatkan terpisah dari mahasiswa. Sebab baru angkatan 1 yang kuliah penuh di Dramaga. Land Huis adalah bangunan besar milik pengusaha kebun yang kaya asal Belanda, van Mooten.

Asrama merupakan fasilitas yang diminta Rudy Tarumingkeng karena Dramaga semacam wilayah “jin buang anak” di tahun 1960-an. “Kendaraan hanya oplet, itu pun sopirnya sering tak mau antar dari Baranangsiang karena terlalu jauh,” kata Rudy. “Mereka takut mesin oplet jadi panas.”

Walhasil, mahasiswa Fakultas Kehutanan acap berjalan kaki dari Baranangsiang ke Dramaga, terutama jika ada kuliah atau kegiatan di dua kampus itu. “Oplet itu sudah mewah, seringnya transportasi kaki,” kata Kurnia Sofyan, yang jadi penghuni pertama asrama Sylva Sari.

Air juga sulit, apalagi listrik. Lampu bohlam hanya menyala pukul 6 sore hingga 11 malam. Mahasiswa Fahutan acap mandi di sungai di belakang asrama karena sumur pertama baru dibangun di halaman ruang Sylvikultur enam bulan setelah menghuni. Setahun kemudian, mahasiswa angkatan 1969 (angkatan 6) dan angkatan 7 datang ke Dramaga untuk menempati bangunan baru asrama Sylva Lestari.

Para dosen, sementara itu, yang umumnya para mahasiswa yang baru lulus dan masih bujang serta tak kebagian rumah, menempati wisma Amarilis, dekat asrama Sylva Sari. Di luar jam-jam kuliah, mahasiswa dan dosen ini bercampur baur menempuh permainan yang sama setelah kuliah: sepak bola, badminton, atau main gaple.

Menurut Rudy Tarumingkeng, kepindahan tempat kuliah ke Dramaga membuat dosen-dosen lama tak meneruskan mengajar di Fahutan. “Mereka banyak yang pindah,” kata dia. Akibatnya, satu dosen acap serabutan mengajar apa saja karena mahasiswa Fahutan kian bertambah.

Satu-satunya cara agar jumlah dosen dan mahasiswa imbang, Rudy meminta mereka yang baru lulus untuk mengajar dan meneruskan sekolah ke luar negeri. Kurnia dan Suwarno termasuk dosen awal yang direkrut menjadi staf pengajar setelah lulus sarjana muda.

20180906001515.jpg

Suwarno Sutarahardja

Suwarno dan Sofyan meneruskan kuliah ke Jerman. Suwarno ke Universitas Gottingen dan Kurnia di Universitas Hamburg. Setelah menyelesaikan program master, mereka kembali ke Bogor dan meneruskan mengajar di Fahutan.

Di Dramaga, para mahasiswa dan dosen meneruskan tradisi jurusan Kehutanan yang sudah ada sebelum fakultas terbentuk: pelonco mahasiswa baru untuk menguatkan kekeluargaan. Melalui permain-permainan yang kreatif tapi penuh makna, para senior menggojlok adik-adik kelas mereka untuk menumbuhkan disiplin dan kekompakan. Soalnya, mereka akan tinggal kuliah sendiri di Dramaga yang angker dan terpencil.

Kelak plonco yang kian kreatif itu yang membentuk mahasiswa Fahutan yang menjadi rimbawan dan tersebar ke seluruh Indonesia. Rudy Tarumingkeng kemudian merasa perlu memanggil mereka yang sudah lulus dan bekerja di jawatan-jawatan pemerintah pulang ke kampus untuk sekadar kangen-kangenan dan mengenang masa kuliah dalam acara Home Coming Day.

Acara yang digelar selama dua hari setiap tiga tahun sekali itu merupakan obat kangen dan mengenang kembali cinta yang telah tumbuh di kampus abu-abu ini.

Robi Deslia, Fitri Andiani, Labib Mubaarok, dan Mustofa Fato berkontribusi dalam laporan ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain