AKAL imitasi atau kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini hadir di setiap sudut internet. Mulai dari menjawab pertanyaan sederhana hingga membantu menganalisa data kompleks dengan presisi tinggi. Di bidang lingkungan, AI digunakan untuk memantau deforestasi dan kualitas lingkungan.
AI menawarkan kemudahan dan kecepatan. Namun di balik itu, AI meninggalkan jejak lingkungan yang berat. Setiap pertanyaan, gambar, atau video yang dihasilkan AI bergantung pada pusat data raksasa dengan kebutuhan energi, air, dan material yang sangat besar. Itu berarti, penggunaan AI yang semakin masif juga akan memberi tekanan pada sumber daya alam kita.
Pusat data AI bukan fasilitas biasa. Ia dirancang untuk menangani pemrosesan data skala besar, komputasi intensif dan berat. Walhasil, pusat data membutuhkan pasokan listrik tinggi dan sistem pendinginan kompleks.
Satu pusat data skala besar bisa mencakup jutaan meter persegi dan berisi ribuan server performa tinggi. Dalam banyak kasus, satu pusat data AI bisa lebih besar dari sebuah kota kecil. Namun, memiliki kebutuhan listrik dan air dalam jumlah masif.
Berdasarkan riset Goldman Sachs, permintaan listrik pusat data global diperkirakan naik hingga 165% pada 2030 akibat AI. Konsumsi listrik untuk pusat data diproyeksikan melonjak dari sekitar 536 terra watt jam (TWh) pada 2025 menjadi lebih dari 1.000 TWh pada 2030. Sebagian besar lonjakan ini diperkirakan terjadi di negara berkembang.
Masalahnya, sumber energi pusat data masih jauh dari energi terbarukan. Sekitar 60% energi pusat data berasal dari bahan bakar fosil. Sementara energi terbarukan hanya menyumbang seperempatnya. Ekspansi AI dikhawatirkan justru memperpanjang ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.
Selain rakus energi, AI juga sangat haus air. Server AI modern bisa mengonsumsi sepuluh kali lipat energi dibanding server sebelum 2020. Dan hampir seluruh energi itu berubah jadi panas. Untuk mendinginkannya, pusat data membutuhkan air dalam jumlah yang sangat luar biasa.
Pada 2027, pusat data AI diperkirakan membutuhkan hingga 6,4 triliun liter air per tahun. Rata-rata satu orang membutuhkan sekitar 54.750 liter per tahun. Itu berarti, penggunaan air untuk pusat data AI setara dengan kebutuhan air untuk 116,9 juta orang.
Di tengah krisis air global, lonjakan ini adalah alarm serius.Namun ironisnya, justru banyak pusat data AI dibangun di wilayah kering. Alasannya karena udara kering mengurangi risiko korosi pada perangkat keras di pusat data.
Tekanan AI tak berhenti pada energi dan air, tapi juga material. Pembangunan pusat data membutuhkan pipa, kabel, dan komponen dalam jumlah besar. Hal ini mendorong lonjakan permintaan tembaga dan logam lainnya.
Industri penambangan sendiri memiliki catatan lingkungan yang buruk. Dengan kebutuhan tembaga untuk AI, mungkin perlu dilakukan penambangan tembaga dalam 25 tahun ke depan sebanyak jumlah yang pernah ditambang dalam sejarah manusia. Hal ini tentu akan memberi tekanan tambahan bagi alam.
Di saat yang sama, AI akan mempercepat krisis limbah elektronik. Server AI hanya bertahan selama beberapa tahun sebelum menjadi limbah elektronik beracun dan sulit didaur ulang. Padahal, berdasarkan UN, hanya kurang dari seperempat limbah elektronik global saat ini dikelola dengan benar.
Dampak ini paling terasa di wilayah yang rentan secara iklim dan sosial. Di California, pusat data tumbuh di tengah kekeringan dan gelombang panas ekstrem. Di Queretaro, Meksiko, rencana pembangunan puluhan pusat data memicu kekhawatiran warga yang sudah kesulitan air bersih.
Ekspansi serupa kini terjadi di Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, India, hingga Afrika Selatan diposisikan sebagai hub pusat data global, meski jaringan energi dan airnya terbatas. Dalam banyak kasus, keuntungan digital mengalir ke belahan dunia lain. Sementara beban lingkungan ditanggung wilayah lain.
AI sering dipromosikan sebagai teknologi masa depan yang cerdas dan efisien. Namun, tanpa transparansi, regulasi, dan transisi energi yang serius, AI berisiko menjadi mesin baru ekstraksi sumber daya.
BERSAMA MELESTARIKAN BUMI
Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.
Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.
Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.
Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB
Topik :