Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 12 Januari 2026

Ekosistem Terlupakan di Tengah Krisis Iklim. Apa Itu?

Lamun mampu menyimpan karbon puluhan kali lebih banyak dibanding hutan hujan tropis. Mengapa jarang diperhitungkan?

ekosistem padang lamun (foto: unsplash.com/Benjamin L. Jones)

APA yang terjadi jika sebuah ekosistem penting tidak dianggap penting? Selama ini kita fokus menghitung karbon di hutan dan restorasi terumbu karang. Kita jarang membicarakan sebuah ekosistem di perairan dangkal, yang telah lama menyimpan karbon, dan menopang kehidupan pesisir. Dia adalah padang lamun.

Selama ini lamun sering disalahpahami sebagai “rumput laut”. Sejatinya lamun adalah tumbuhan berbunga, sedangkan rumput laut bukanlah tumbuhan, melainkan alga. Di dunia, ada lebih dari 70 spesies lamun dan tersebar di area seluas 600.000 km2, lebih luas dari Pulau Madagaskar.

Indonesia memiliki sekitar 660.000 hektare padang lamun berdasarkan hasil pemetaan nasional di 2025. Dengan padang lamun seluas itu, Indonesia menjadi rumah bagi 5-15% ekosistem lamun dunia.

Lamun memang tak seterkenal hutan hujan tropis atau terumbu karang. Tapi soal peran, ekosistem ini krusial bagi kehidupan dan iklim bumi. Kemampuan lamun menyerap dan menyimpan karbon per satuan luas 35 kali lebih besar dibanding hutan hujan tropis.

Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Communications, ekosistem padang lamun memiliki simpanan karbon sebanyak 24,2 ton per hektare. Data tersebut didapat dari analisis data global yang mencakup lebih dari 2.700 inti sedimen lamun.

Studi lain yang pernah dilakukan di Indonesia, menunjukkan bahwa stok karbon lamun relatif tinggi. Nilai karbon biomassa dan sedimen lamun berkisar 22,7 hingga 98,5 ton karbon per hektare. Atau secara rata-rata senilai 56,8 ton karbon per hektare.

Di berbagai belahan dunia, padang lamun terus mengalami penyusutan. Menurut IUCN, 7% dari luas padang lamun dunia hilang setiap tahun. Perubahan iklim, pengembangan pesisir, pencemaran, dan penyebaran spesies invasif menjadi ancaman utama bagi ekosistem ini.

Apabila tidak dilakukan upaya perlindungan dan konservasi, cadangan karbon lamun akan mengalami degradasi dan melepas emisi sebesar 1.154 juta ton CO2 dengan nilai kerugian ekonomi sebesar Rp 3.090 triliun.

Fungsi lamun tak hanya sebagai penyimpan karbon. Padang lamun juga telah lama dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Berdasarkan penelitian di kawasan Indo-Pasifik, padang lamun telah menjadi daerah penangkapan ikan utama bagi banyak rumah tangga di empat negara, yaitu Kamboja, Tanzania, Sri Lanka, dan Indonesia. Karena perairan dangkal, lamun menjadi habitat yang mudah diakses masyarakat dan kaya akan tangkapan ikan.

Di Indonesia, walau luasan lamun tergolong besar, pengelolaannya tertinggal dibanding ekosistem pesisir lainnya, seperti terumbu karang dan mangrove. Baik secara ketersediaan data ataupun kebijakannya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia saat ini tengah menyusun amendemen terhadap Peraturan Pemerintah tahun 2019. Amendemen tersebut diarahkan untuk menetapkan 17 habitat lamun di seluruh kepulauan Indonesia sebagai Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT).

Sebanyak 17 lokasi telah ditetapkan sebagai calon indikatif KSNT untuk cadangan karbon biru dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) 2025–2045.

Zona-zona yang diusulkan tersebut tersebar luas, mulai dari Kotabaru hingga Kepulauan Derawan dan Tanimbar, serta dari Kepulauan Aru hingga wilayah pesisir di sekitar Bombana, Pohuwato, Kwandang, Lingga, Menui, Bontang, Sapudi dan Kangean, Tual, Nias, Subi, Toli-Toli, hingga Supiori.

Dorongan Indonesia untuk melegalkan penetapan zona karbon biru yang berfokus pada ekosistem lamun telah memunculkan optimisme terhadap solusi iklim berbasis alam. KKP memperkirakan bahwa zona-zona tersebut mampu menyimpan lebih dari 30 juta ton karbon dan mengunci emisi setara dengan lebih dari 6 juta ton CO₂.

Ikuti percakapan tentang karbon biru di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Bagikan

Komentar



Artikel Lain