Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 20 Februari 2024

Deforestasi Akibat Kelapa Sawit Kembali Naik

Deforestasi akibat perluasan perkebunan kelapa sawit kembali naik di 2023. Setelah sebelumnya terus mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir.

deforestasi akibat perluasan perkebunan sawit (foto: ArcGis Story Maps)

SELAMA dua dekade terakhir, kelapa sawit telah menjadi bagian penting bagi perekonomian Indonesia. Lebih dari 30 juta ton kelapa sawit diproduksi per tahunnya dan mempekerjakan jutaan orang. Namun, kelapa sawit juga memainkan peran penting dalam deforestasi atau penggundulan hutan Indonesia.

Sejak 2012, deforestasi hutan Indonesia akibat perluasan kelapa sawit turun. Tren itu terhenti pada 2023. Sejak tahun lalu, tren deforestasi akibat perkebunan kelapa sawit kembali naik.

Dari pengamatan TreeMap, tahun lalu, perluasan kelapa sawit mengubah hutan seluas 30.000 hektare, naik 36% dibanding 2022. Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibanding deforestasi akibat perkebunan sawit pada 2012. Pada tahun tersebut kelapa sawit bertanggung jawab terhadap habisnya 227.000 hektare hutan Indonesia.

Ekspansi perkebunan sawit 2001-2023 (sumber: TheTreeMaps)

Kenaikan deforestasi terjadi di rawa gambut. Total ada 10.787 hektare rawa gambut yang dikonversi jadi kelapa sawit, naik 17% dibanding tahun sebelumnya.

Secara historis, deforestasi akibat perkebunan kelapa sawit terjadi di Sumatera. Dalam dua tahun terakhir, kenaikan deforestasi akibat perkebunan sawit sebagian besar terjadi di Kalimantan dan Papua.

Dalam penelusuran TreeMap dan The Gecko Project, ada 53 konsesi yang membuka hutan lebih dari 50 hektare untuk kelapa sawit. Sebanyak 20 di antaranya mengeksploitasi lahan gambut. Seperti 2022, grup Ciliandry Anky Abadi (CAA) paling banyak mengubah hutan untuk sawit pada 2023. Perusahaan ini membuka hutan seluas 2.302 hektare di tiga anak perusahaannya, termasuk 1.702 hektare di konsesi Inti Kebun Sawit, Papua Barat, yang baru saja diakuisisi. Konsesi itu menjadi salah satu kontributor utama kerusakan hutan karena kelapa sawit di 2022 dan 2023.

Tim The Gecko Project mengungkap bahwa CAA terafiliasi dengan First Resources, salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Padahal, First Resource telah menyatakan komitmen menerapkan zero-deforestation pada 2015. Dengan begitu, mereka bisa terus menjual produk mereka ke pasar internasional, dimana tekanan terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan sangat besar.

Investigasi Gecko Project mengungkap bahwa First Resources menggunakan perusahaan bayangan untuk melakukan deforestasi dan menghindari pelanggaran terhadap standar keberlanjutan. Total, First Resources dan perusahaan bayangannya bertanggung jawab atas pembukaan hutan seluas 3.285 hektare pada 2023.

Perusahaan ini dan grupnya diduga membuka hutan lebih dari  95.000 hektare sejak mereka mengungkapkan komitmen zero-deforestation. CAA dan First Resources menyangkal menaikkan deforestasi dan menyatakan bahwa mereka adalah dua entitas yang berbeda dan tak terafiliasi.

Terlepas dari itu, perkebunan kelapa sawit sendiri merupakan penyumbang deforestasi terbesar di Indonesia pada 2021 dan 2022. Banyak aturan global yang melarang sawit dihasilkan dari deforestasi, namun pelanggaran-pelanggarannya terus terjadi di negara tropis.

Ikuti percakapan tentang deforestasi di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain