Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 03 Agustus 2023

Bisakah Ekonomi Sirkular menjadi Solusi Krisis Iklim?

Ekonomi sirkular mengoreksi ekonomi linear yang eksploitatif. Bisakah menjadi solusi krisis iklim?

Bisakah ekonomi sirkular mencegah krisis iklim

DALAM ekonomi linear, ekstraksi sumber daya alam mengolah bahan baku menjadi produk untuk konsumsi. Residunya dibuang ke alam yang merusak lingkungan. Model ekonomi take-make-waste tak sejalan dengan mitigasi krisis iklim. Karena itu kini ada tawaran model baru yang dikenal sebagai ekonomi sirkular.

Secara sederhana, ekonomi sirkular bermain di ranah 3R, reduce (kurangi), reuse (gunakan kembali), dan recycle (daur ulang)Singkatnya, model ekonomi sirkular mendorong berbagai sektor untuk menghasilkan produk, memanfaatkan sampahnya kembali, dan terus begitu sehingga tidak ada limbah yang terbuang. Alhasil, proses ekonomi yang tadinya linear akan membentuk siklus melingkar tanpa henti. Dengan menerapkan ekonomi sirkular, kita dapat mengeliminasi sampah dan limbah, mengurangi ekstraksi sumber daya alam, dan meregenerasikan alam.

Jika merujuk pada Circularity Gap Report, kegiatan ekonomi global selama enam tahun terakhir telah mengekstraksi dan menggunakan lebih banyak sumber daya dibanding penggunaan sumber daya selama abad ke 20. Ekstraksi dan penggunaan sumber daya alam menghasilkan 70% emisi gas rumah kaca global.

Jika kita terus melanjutkan ekstraksi sumber daya alam seperti sekarang, kita membutuhkan tambahan satu planet setara bumi pada 2050 untuk menampung manusia. Selain itu, ekstraksi sumber daya alam yang cenderung eksploitatif akan membuat bumi melewati batas aman ditinggali. Berdasarkan studi, ekstraksi dan konsumsi sumber daya alam harus dikurangi sebanyak 33% untuk menjaga planet ini tetap berada di batas aman.

Berdasarkan Circularity Gap Report, sejatinya dengan menerapkan ekonomi sirkular, kita hanya membutuhkan 70% material atau sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini. Menurut United Nations Development Programme, manusia hanya perlu memfokuskan mitigasi pada lima  material kunci, yakni semen, baja, plastik, alumunium, dan makanan. Dengan menerapkan ekonomi sirkular di lima material tersebut, kita bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 50% pada 2050.

Di sektor kontruksi, penerapan ekonomi sirkular bisa dimulai dengan menggunakan material daur ulang. Dengan menggunakan besi daur ulang, kita bisa mengurangi penggunaan besi baru sebanyak 50% hingga 2050. Hal ini juga akan berimplikasi ke reduksi emisi karbon dan degradasi lingkungan. Kemudian memadukan material tinggi emisi seperti semen dan beton dengan material lain seperti plastik daur ulang. Dan mengoptimalkan penggunaan bahan bangunan tanpa mengurangi fungsionalitasnya. Dengan menerapkan ekonomi sirkular di sektor ini, kita dapat mereduksi 2,6 miliar ton emisi gas rumah kaca di tahun 2050.

Dari sektor energi, pemakaian 100% energi terbarukan bisa mengurangi emisi karbon sebanyak hampir 50%. Tapi transisi besar-besaran ke energi terbarukan juga akan menimbulkan problem.

Sebab, transisi ke energi terbarukan dan kendaraan listrik membutuhkan sangat banyak mineral sehingga melahirkan aliran limbah baru yang sangat masif dan kerusakan alam. Maka dari itu, transisi energi terbarukan harus menerapkan model ekonomi sirkular.

Selain itu, daur ulang limbah logam berat juga menjadi hal penting. Alih-alih menambang mineral baru, kita bisa mendaur ulang sampah logam berat, seperti tembaga, litium, nikel, dan kobalt, untuk diolah kembali menjadi baterai dan suku cadang baru. Hal yang sama juga berlaku untuk limbah elektronik.

Untuk sektor makanan, menurut United Nations Development Programme, manusia telah bumi kehilangan 13% makanan sejak pemanenan dan tambahan 17% makanan yang terbuang setelah konsumsi. Dengan menerapkan ekonomi sirkular, kita bisa memaksilkan hasil panen, meminimalikan sampah makanan dan mengurangi angka kelaparan di seluruh dunia.

Sekilas, model ekonomi sirkular terlihat menjanjikan sebagai solusi mencegah krisis iklim. Tapi walau terdengar menjanjikan, faktanya hanya 7,2% kegiatan ekonomi saat ini yang menerapkan ekonomi sirkular. Kenapa?

Pertama, karena tidak semua paham akan konsep ekonomi sirkular. Tidak semua sektor dan negara memiliki pemahaman yang sama tentang ekonomi sirkular dan manfaatnya.

Kedua, sekalipun konsep ekonomi sirkular meluas, butuh biaya besar untuk beralih dari ekonomi linear ke sirkular. Bahkan untuk usaha dengan finansial kuat, beralih ke ekonomi sirkular membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setidaknya, sebuah entitas industri butuh sedikitnya tiga tahun beralih ke ekonomi sirkular.

Karena itu dukungan global dan negara sangat penting mendukung ekonomi sirkular. Dukungan finansial dan investasi, transfer pengetahuan, pembangunan komunitas yang kuat, dan pelatihan memegang peran penting untuk adopsi ekonomi sirkular.

Ikuti percakapan tentang ekonomi sirkular di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain