Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 23 November 2022

BMKG: Waspada Cuaca Buruk Setelah Gempa Cianjur

Lereng perbukitan yang rapuh pasca gempa Cianjur berpotensi longsor dan banjir bandang.

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat di Jawa Barat mewaspadai bencana lanjutan setelah gempa Cianjur, 21 November 2022. Bencana itu berupa berupa banjir bandang dan tanah longsor.

Peringatan BMKG itu disampaikan pada Selasa, 22 November 2022, setelah gempa dengan 5,6 magnitudo mengguncang Kabupaten Cianjur. Imbauan itu terutama bagi penduduk yang bermukim di lereng dan perbukitan serta lembah atau bantaran sungai.

BMKG memperkirakan kawasan ini menjadi rapuh usai gempa dan berpotensi makin parah dengan perkiraan hujan intensitas tinggi. "Lereng-lereng yang rapuh ini akan longsor jika hujan deras yang memicu banjir bandang dengan membawa material runtuhan lereng. Jadi masyarakat dan pemerintah setempat juga perlu mewaspadai adanya kolateral hazard atau bahaya ikutan usai gempa kemarin," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Dia meminta masyarakat tidak memaksakan diri kembali ke rumah jika bangunannya rusak atau ada keretakan pada dinding dan atap. Hingga pukul 06.00 WIB, telah terjadi 117 gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai 4,2 magnitudo dan kekuatan terkecil 1,5.

Dwikorita menjelaskan bahwa tim BMKG sudah terjun ke lokasi gempa bersama BPBD Kota Cianjur untuk sosialisasi dan menenangkan masyarakat yang terdampak. Tim survey BMKG melakukan perekaman gempa-gempa susulan dan tingkat kerusakan, untuk menghasilkan peta makrozonasi dan mikrozonasi yang diperlukan untuk mendukung proses rekonstruksi dan penyempurnaan tata ruang.

Pada Senin, 21 November 2022, gempa Cianjur berkekuatan 5,6 magnitudo berada di kedalaman 10 kilometer dari permukaan tanah. Hingga Selasa, 22 November 2022 pukul 17.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sebanyak 268 orang meninggal, dengan 122 jenazah teridentifikasi. "Masih ada 151 korban hilang. Kami berusaha semaksimal mungkin agar semua bisa ditemukan,” kata Kepala BNPB, Suharyanto.

BNPB menyebutkan akibat gempa Cianjur sebanyak 58.362 orang mengungsi, 1.083 orang luka-luka, dan 22.198 unit rumah rusak.

Suharyanto menjelaskan bahwa dua rumah sakit di Kabupaten Cianjur ikut terdampak gempa. Sehingga penanganan kesehatan dilakukan di tenda-tenda di sekitar rumah sakit sebagai rumah sakit darurat. "RSUD Cianjur dan Rumah Sakit Sayang sudah beroperasi dan ditambah tenda lapangan termasuk tambahan tenaga kesehatan," katanya.

Sebanyak 100 pasien dikirim ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Bencana-bencana hidrometeorologi yang menyusul usai gempa Cianjur seperti yang disebutkan Kepala BMKG Dwikorita adalah dampak perubahan iklim yang menyelewengkan musim dan cuaca. Kekeringan, cuaca ekstrem, kenaikan suhu merupakan jenis-jenis bencana hidrometeorologi atau bencana iklim yang makin meluas di seluruh dunia.

Ikuti perkembangan terbaru bencana iklim di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain