Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|30 Juni 2022

Benarkah PMK Tak Menular Kepada Manusia

 Penyakit mulut dan kuku bukan penyakit zoonosis. Benarkah PMK tidak menular kepada manusia?         

SEJAK awal kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terekspos di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 28 April 2022, Kementerian Pertanian berkali-kali menyebutkan bahwa penyakit ini tidak berbahaya bagi manusia. Benarkah klaim ini? Benarkah PMK tak menular kepada manusia?

Wasito, guru besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, meminta masyarakat tetap waspada. "Ada beberapa kasus PMK bisa menular ke manusia,” kata dia kepada Forest Digest pekan lalu.

Menurut Wasito, meski bukan penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia), pada beberapa kasus langka, PMK bisa menular kepada manusia. Dia merujuk pada sejumlah jurnal yang meneliti beberapa kasus di dunia.

Pada 1834, PMK dilaporkan menular ke manusia di Inggris. Pasiennya adalah tiga dokter hewan yang mengkonsumsi susu sapi mentah selama empat hari berturut-turut. Masih di Inggris, kasus terakhir penularan PMK dari sapi ke manusia terjadi pada 1966. Pasiennya, seorang laki-laki yang tinggal di peternakan yang terpapar virus ini.

Pada 1921-1969, kata Wasito, ada 40 kasus temuan kasus PMK pada manusia di Eropa. Mereka yang terinfeksi adalah orang-orang yang berkontak langsung dengan ternak yang mengidap penyakit ini di daerah wabah. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), kata Wasito, juga menyebutkan pada 2007 virus PMK bisa hidup di saluran pernafasan manusia selama 28 jam. Temuan ini terjadi pada seorang peneliti yang berkontak langsung dengan virus di laboratoriun riset PMK.

Menurut Wasito, tanda-tanda manusia terpapar PMK hampir sama dengan hewan. “Ada lesi di mulut dan kaki, demam tinggi,” katanya. Bedanya, manusia tidak mengalami hipersaliva seperti halnya pada hewan ternak yang terpapar PMK.

Wasito juga menampik pendapat yang menyebutkan bahwa daging ternak terpapar PMK bisa dikonsumsi manusia. Dia menjelaskan bahwa virus akan mengkonsumsi asam amino, asam folat, vitamin B1, B6, dan mineral yang ada pada tubuh hewan yang dihinggapi (inangnya). Sehingga, ketika daging sapi terinfeksi PMK dikonsumsi manusia, kandungan gizi dan nutrisinya tidak sebaik daging sapi yang sehat.

Sebelumnya Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner dari IPB University, Denny Widaya Lukman menyebutkan bahwa daging terinfeksi PMK aman dikonsumsi manusia. “Tidak berdampak pada manusia,” katanya.

Bahkan, jika manusia mengonsumsinya dalam keadaan setengah matang, seperti untuk steak, daging ternak yang terinfeksi PMK masih aman dimakan. “Tubuh manusia tidak memiliki sel yang bisa menjadi reseptor virus penyebab PMK,” kata Denny yang juga menjelaskan ihwal penyakit mulut dan kuku dalam rapat Komisi Fatwa MUI, pada akhir Mei lalu.

Menurut Denny, yang berbahaya dari daging mentah atau setengah matang adalah bakteri Salmonella thypii, penyebab thypus. Denny juga tak sepakat dengan pendapat yang menyebutkan bahwa daging terinfeksi PMK memiliki nilai gizi dan kandungan yang berbeda dibandingkan daging ternak yang sehat. “Butuh waktu yang lama bagi virus untuk membuat sapi menjadi kurus,” katanya.

Meski ada perbedaan pendapat, Wasito dan Denny sepakat bahwa penyakit ini sangat menular dan harus secepatnya dikendalikan. Sebagian besar badan kesehatan dunia dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE/WOAH) hingga Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyebutkan PMK bukan penyakit zoonosis.

Penularan kepada manusia terjadi dalam beberapa, yakni ketika virus ini bisa melewati batas spesies dengan susah payah. Sehingga, penyakit ini tidak bisa dikesampingkan dari kesehatan mansia

Hingga artikel ini ditulis, PMK telah menginfeksi 297.813 ekor ternak di 222 kabupaten kota dan 19 provinsi di Indonesia. Satuan Tugas Penanganan (Satgas) PMK tengah menggenjot vakinasi 800.000 dosis vaksin PMK pada ternak yang belum terpapar wabah sebelum Hari Raya Idul Adha. Pada akhir Juni 2022, vaksinasi baru mencapai angka 172.192 ekor.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain