Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|24 Juni 2022

Restorasi Ekosistem dalam FOLU Net Sink

Meningkatkan serapan karbon adalah tujuan utama FOLU Net Sink. Restorasi ekosistem berbasis genetik berperan besar.

FOLU Net Sink atau penyerapan emisi karbon di sektor kehutanan dan penggunaan lahan akan dicapai dengan beberapa program, salah satunya pemulihan atau restorasi ekosistem di lahan konservasi. Kegiatan pemulihan tersebut meliputi peningkatan cadangan karbon, peningkatan regenerasi natural, dan mengelola ekosistem bernilai konservasi tinggi. Luasan lahan untuk mencapai kegiatan tersebut ditargetkan sebesar 958.960 hektare.

Ammy Nurwati, Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan pencapaian restorasi ekosistem memerlukan sinkronisasi data. Data tersebut meliputi peta arahan optimasi kawasan hutan berdasarkan indeks jasa lingkungan tinggi, peta tipologi kelembagaan, dan peta indeks biogeofisik. “Hasil uji petik menunjukkan ada beberapa lokasi tidak layak menjadi target FOLU Net Sink,” kata Ammy dalam webinar Pojok Iklim, 22 Juni 2022.

Koordinasi dan integrasi kelembagaan, kata Ammy, menjadi penting dalam mencapai target FOLU di kawasan konservasi. Koordinasi tersebut harus ada di lintas eselon I melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, Direktorat Jenderal Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan, serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. “Selain itu, perlu ada sinergi skema pendanaan untuk pemulihan ekosistem,” kata Ammy.

Mencapai target restorasi ekosistem di kawasan konservasi harus memperhatikan fungsi ekosistem awal untuk mencapai tujuan restorasi, yaitu membangun kembali fungsi ekosistem awal. Konsep restorasi adalah bagaimana ekosistem yang rusak bisa kembali ke kondisi awal atau menyerupai kondisi awal. “Harus sesuai dengan definisi dan tujuannya jika ingin mencapai keberhasilan restorasi ekosistem,” ujar Widiatmoko, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurut Widiatmoko, restorasi ekosistem dengan basis keanekaragaman genetika menjadi kunci agar ekosistem yang rusak bisa kembali ke seperti semula. Restorasi ekosistem berbasis genetika juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. “Pada tahap awal peraturan tersebut sudah disebutkan bahwa menjaga kemurnian dan keanekaragaman genetik itu penting,” kata Widiatmoko.

Keanekaragaman genetika, kata Widiatmoko, menentukan tingkat adaptasi tumbuhan dalam suatu kawasan. Jika keanekaragaman genetik tinggi, tanaman akan lebih tahan dan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Keseimbangan genetika akan berlangsung terus dalam suatu lingkungan walau terjadi perubahan.

Kegiatan restorasi ekosistem saat ini masih berbasis jenis, bukan berbasis genetika. Jika berbasis jenis, kata Widiatmoko, maka kegiatan restorasi tidak menimbang asal bibit karena fokus pada spesiesnya yang sama. “Seharusnya dalam pemilihan itu harus tahu asal-usul bibitnya agar bibit bisa beradaptasi,” terang Widiatmoko.

Restorasi ekosistem berbasis genetika ini sudah dipraktikkan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Jawa Tengah. Di taman nasional ini, kegiatan restorasi dengan memilih bibit yang berasal dari pohon di kawasan taman nasional yang sudah diketahui asal-usulnya. “Persentase hidup tanaman menjadi tinggi sehingga tanaman akan bertahan lama dalam perubahan lingkungan,” kata Widiatmoko.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain