Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|21 Juni 2022

Solusi Menghentikan Perburuan Tenggiling

Tenggiling kian langka karena diburu akibat mitos obat kuat. Perlu solusi ekonomi.

TENGGILING adalah mamalia unik yang memiliki sisik dan menggulungkan badannya jika merasa terancam seraya menguarkan bau busuk. Ada delapan jenis spesies tenggiling yang di dunia. Indonesia memiliki tenggiling endemik Sunda pangolin atau Manis javanica. Karena kampanye bodong khasiat sisik tenggiling sebagai obat membuat perburuan hewan pemakan serangga ini cukup masif.

Tapi di Pematang Siantar, Sumatera Utara, penduduk desa punya kesadaran pentingnya tenggiling bagi ekosistem di sekitar mereka. Pada 3 Juni 2022, penduduk Desa Bah Birong Ulu menemukan seekor tenggiling yang melintasi kebun karet. Mereka menangkapnya dan menyerahkannya kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara. Esoknya, petugas BKSDA melepaskan kembali tenggiling ini ke hutan.

Tenggiling termasuk ke dalam daftar satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya tenggiling termasuk satwa yang dilindungi. Status keberadaannya di alam menurut IUCN tergolong kritis (critically endangered). Sementara menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) tenggiling masuk dalam Appendix 1, artinya tidak boleh diperjualbelikan.

Burhanuddin Masy’ud, dosen konservasi sumber daya hutan dan ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, menerangkan penyebab tenggiling masih jadi hewan buruan. Ada anggapan, kata burhan, daging tenggiling bisa mengobati pelbagai macam penyakit, sisiknya untuk kosmetika, hingga menjadi campuran narkotika. “Di Cina daging tenggiling disajikan di restoran VIP,” kata Burhan pada 19 Juni 2022.

Berdasarkan studi kasus-kasus hukum di Indonesia, tenggiling dijualbelikan untuk makanan dan obat. Statusnya yang dilindungi dan kian langka di alam membuat harga daging tenggiling jadi mahal. Tiap satu kilogram daging tenggiling Rp 500.000 hingga Rp 4 juta. Biasanya, satu ekor tenggiling dewasa berbobot 3,5 kilogram. “Saat penelitian, saya menemukan orang kaya mendadak dari hasil penjualan tenggiling,” kata Burhan.

Penjualan dan pasar tenggiling merusak nilai-nilai budaya masyarakat adat hutan. Masyarakat adat orang rimba di Jambi, misalnya, tidak mengenal pemanfaatan tenggiling. Permintaan yang besar, kata Burhan, mendorong masyarakat adat ikut berburu dengan motif ekonomi.

Jika terus diburu, hutan akan kehilangan tenggiling. Padahal, ia pemakan serangga yang bisa menjadi predator bagi hama. Di Kalimantan, pohon-pohon kelapa sawit di perkebunan masyarakat tak berbuah akibat dimakan serangga akibat tenggiling menghilang dari hutan di sekitarnya. "Saat tenggiling membangun sarang, tanah menjadi gembur sehingga bisa meningkatkan kesuburan tanah dalam mendukung pertumbuhan pohon,” terang Burhan.

Solusi agar pemburuan tenggiling berhenti, menurut Burhan, adalah dengan cara menegakkan kebijakan terkait perdagangan ilegal satwa. Soalnya, perdagangan ilegal tenggiling melibatkan aparatur pemerintahan.

Selain itu kampanye dan pendidikan untuk membangun kesadaran melindungi hewan sebagai penyeimbang ekosistem. Kesadaran masyarakat Desa Bah Birong Ulu terbentuk setelah petugas Balai BKSDA memberikan peringatan-peringatan tentang pentingnya tenggiling bagi komoditas perkebunan masyarakat.

Menurut Burhan, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan bisa menjadi solusi lain dalam mencegah perburuan tenggiling dan hewan-hewan dilindungi. Perhutanan sosial atau usaha multiproduk hutan akan menciptakan rantai ekonomi yang menggantikan nilai ekonomi berburu satwa liar.

Latar belakang perburuan tenggiling adalah motif ekonomi. Karena itu solusi mencegah perburuannya juga mesti berbasis ekonomi. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar mereka mendapatkan manfaat hutan akan menumbuhkan kesadaran bahwa satwa liar menjadi penopang sumber ekonomi mereka.

Jalan lain melindungi tenggiling melalui penangkaran ex-situ. Masalahnya, belum terbukti secara empiris penangkaran tenggiling berhasil. "Manipulasi habitat dan pakan tak mendorong tenggiling bereproduksi di habitat buatan," kata Burhan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain