Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Mei 2022

Vaksin Menurunkan Risiko Long Covid

Pada beberapa orang infeksi Covid-19 diikuti penyakit panjang atau long Covid. Vaksin menurunkan risikonya.

LONG Covid atau gejala ikutan yang lama setelah terinfeksi virus corona menjadi problem kesehatan baru setelah jumlah kasus infeksi Covid-19 turun di semua negara. Kementerian Kesehatan memastikan tak ada lonjakan kasus baru setelah tiga pekan libur Lebaran 2022.

Hanya ada 250 kasus baru per hari setelah perayaan Idul Fitri. Meski belum terkonfirmasi apakah memang tidak ada infeksi baru atau karena yang terinfeksi tak melaporkan gejalanya ke rumah sakit atau tidak ada pengetesan.

Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan bahwa masyarakat boleh membuka masker saat bertemu dengan orang lain di ruang terbuka. Pengumuman Jokowi ini menandakan satu fase penting pandemi Covid-19 menuju ke arah endemi. 

Vaksinasi yang hampir menyentuh seluruh penduduk, kekebalan alamiah yang terbentuk setelah puncak infeksi tahun lalu, diduga menjadi faktor menurunnya kasus baru setelah Lebaran yang membuka mudik setelah dua tahun pembatasan sosial.

Meski begitu, infeksi Covid-19 adalah intersepsi virus yang serius. Meski sembuh atau tak menimbulkan kematian, pada mereka yang terinfeksi mengalami gejala efek infeksi yang lama (long Covid-19), seperti kegagalan ginjal, kelelahan, pusing berkepanjangan, gangguan hati.

Sebuah studi terbaru di Nature Medicine yang terbit 25 Mei 2022, menunjukkan perlindungan vaksin memang tak cukup mencegah penyakit ikutan setelah infeksi virus corona. Studi di Rumah Sakit Veteran Amerika Serikat terhadap 13 juta pasien menunjukkan vaksin Covid-19 hanya menurunkan risiko dampak akut penyakit ikutan virus corona hanya 15%.

Ini angka yang kecil dari sebuah studi tentang dampak infeksi Covid-19 yang besar untuk pertama kali setelah dua tahun pandemi.

Mendeteksi long Covid atau gejala akut pascainfeksi Covid-19 memang sulit. Sebuah penelitian menyimpulkan sebanyak 30% pasien yang terinfeksi virus corona mengalami long Covid. Tapi studi terbaru menunjukkan hanya 7% pasien yang mengalami gejala ini. Pasien maupun peneliti kesulitan menentukan apakah gejala tertentu setelah infeksi masuk kategori long Covid

Penelitian long Covid membandingkan mereka yang terinfeksi virus ini dengan mengelompokkannya menjadi pasien yang sudah mendapatkan vaksin dan tak mendapatkan vaksinasi, mereka yang mendapatkan vaksin dosis kedua dan pasien yang baru sekali vaksinasi. Hasilnya tak berbeda signifikan.

Long Covid terjadi pada pelbagai kelompok pasien. Tim tidak menemukan perbedaan dalam jenis atau tingkat keparahan gejala antara mereka yang telah divaksinasi dan mereka yang belum mendapatkannya. “Sidik jari yang sama kita lihat pada orang yang terinfeksi kedua kali,” kata nefrolog, spesialis ginjal, Ziyad Al-Aly dari Saint Louis Health Care System di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat, penulis studi tersebut.

Misteri long Covid membuat kebijakan kesehatan menjadi sulit. Keputusan mengubah pandemi dan endemi bisa tertunda akibat gejala ikutan setelah infeksi karena akan mempengaruhi biaya kesehatan publik. Jika pemerintah menetapkan endemi sementara masih ada infeksi, biaya kesehatan akan tetap tersedot mengobati mereka yang mengalami gejala penyakit ikutan setelah infeksi.

Para peneliti belum memiliki resep jitu melindungi atau mencegah penyakit long Covid, selain cara konvensional memakai masker dan hidup tetap bersih serta mengurangi pertemuan dengan banyak orang serta jaga jarak. “Sekarang kita tergantung sepenuhnya pada vaksin,” kata Al-Aly 

Sama juga dengan efek long Covid pada mereka yang terinfeksi Omicron atau Delta. Para peneliti tak menemukan perbedaannya. Pasien di dua varian Covid-19 sama-sama mengalami long Covid, dan sama-sama tak merasakannya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain