Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|01 Maret 2022

Macan Kumbang Muncul di Gunung Halimun

Macan tutul Jawa atau macan kumbang berusia 1 tahun terlihat di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Populasinya bertambah.

TIM pengendali ekosistem hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak melihat dan merekam langsung macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang bertubuh hitam pada Ahad, 27 Februari 2022. Macan kumbang ini terlihat di area operasi Star Energy, perusahaan pembangkit panas bumi di Gunung Salak.

“Saat itu sekitar pukul 6 sore, macan tutul kumbang terlihat sedang berjalan santai, berhenti, lalu guling-guling seperti kucing, lalu berjalan lagi," kata dokter hewan Septi Dewi Cahaya, veteriner di Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) yang ikut melihat langsung macan tutul tersebut. "Kami berhasil memotret dan merekam untuk mengidentifikasi."

Bagi Septi, ini pengalaman pertamanya bersirobok langsung dengan macan kumbang setelah tiga tahun bekerja di Balai TNGHS. Ia pun memotret dan merekam kemunculan macan kumbang itu. “Kesempatan seperti ini jarang sekali,” kata dia.

Biasanya, ia hanya melihat macan kumbang dari kamera para peneliti yang memasang kamera jebak di lokasi-lokasi perlintasan macan kumbang untuk identifikasi atau survei populasi. Maka begitu mereka melihat macan itu menyeberang jalan, Septi meminta peneliti lain mematikan mobil yang mereka kendarai.

Mereka berada di wilayah operasi Star Energy—anak usaha Barito Pasifik Group—karena sedang persiapan melepaskan elang Jawa esoknya. Kepala TNGHS Ahmad Munawir akan melepaskan elang Jawa sitaan yang telah cukup kondisi psikologis dilepaskan kembali ke habitatnya.

Menurut Septi setelah mengamati ratusan foto macan kumbang itu, ia mengidentifikasi bahwa macan tersebut berkelamin betina berusia sekitar 1 tahun. Informasi ini bagi Septi menggembirakan karena, dengan begitu, macan kumbang di Gunung Halimun telah berkembang biak.

Dari kamera jebak yang mereka pasang dan survei 2018 dan 2021, jumlah macan kumbang di area operasi Star Energy sekitar 11 individu, enam jantan dan lima betina. Kemunculan anak macan kumbang di area pembangkit panas bumi memungkinkan populasinya bertambah.

Munculnya macan kumbang di wilayah operasi panas bumi yang dihuni manusia, kata Septi, juga menandakan bahwa habitat di sini telah kembali membuat macan kumbang betah. Dari 10.000 hektare wilayah operasi Star Energy, sekitar 3% menjadi area infrastruktur.

Beroperasi sejak 1982, Star Energy mereklamasi hutan yang terbuka dengan menanam pohon 1 banding 100—artinya, tiap menebang 1 batang pohon, mereka akan menanam 100 pohon di lokasi lain di area operasi pembangkit.

Di Jawa, habitat macan kumbang tersebar di 28 petak. Dari Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten hingga Taman Nasional Alas Purwo di Provinsi Jawa Timur. Jumlahnya diperkirakan sebanyak 320 individu (antara 120-570). Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak diperkirakan hidup macan kumbang sekitar 42-50 ekor.

Macan tutul Jawa termasuk hewan dilindungi yang tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 5/1990 dan PP 7/1999 tentang konservasi sumber daya alam hayati. Berdasarkan IUCN Red List, status macan kumbang kritis dan terancam punah (critically endangered) akibat perburuan dan kehilangan habitat.

Kepala Balai TNGHS Ahmad Munawir mengatakan penemuan macan kumbang di areal Star Energy sangat penting. Sebab sebagai predator teratas dalam ekosistem ini menunjukkan ekosistem Gunung Halimun Salak masih baik. "Artinya konservasi berjalan, habitatnya terjaga," katanya.

Selain itu, menurut Munawir, kehadiran macan kumbang atau macan tutul Jawa yang berjalan santai dengan menandakan teritori (marking) di area operasi Star Energy menandakan bahwa anak macan tersebut merasa aman dan nyaman. Ini juga membuktikan pembangunan melalui pembukaan hutan untuk pembangkit energi terbarukan panas bumi bisa selaras jika monitoring konvervasinya dilakukan dengan terencana dan ketat.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar



Artikel Lain