Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Desember 2021

Don’t Look Up: Parodi Krisis Iklim

Leonardo DiCaprio membintangi film Don’t Look Up. Parodinya mengubur pesan penting krisis iklim.

SEBUAH parodi yang berhasil biasanya cerkas, witty. Ia mengolok sesuatu yang mapan dengan menghibur. Film Don’t Look Up di Netflix yang mulai tayang 5 Desember 2021, bukan satire semacam ini. Parodinya menjengkelkan.

Pertama, tak ada hal baru. Kiamat karena meteoroid yang menabrak bumi sudah diwakili oleh Armageddon yang kian mempopulerkan lagu Leaving on a Jetplane. Parodi Don’t Look Up menjadi tidak lucu karena meteoroid yang menghantam bumi jelas bukan bahan olok-olok karena dalam sistem semesta, itu bisa saja terjadi.

Kedua, untuk apa memarodikan sesuatu yang tak lucu sampai dimainkan oleh Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep, hingga Cate Blanchett? Mereka jelas bukan aktor sembarangan, yang tak akan memilih film sembarangan. Untuk apa pula parodi tak lucu menghabiskan US$ 75 juta?

Ketiga, parodinya sangat Amerika. Meryl Streep sebagai Presiden dan Jonah Hill, anaknya, sebagai Kepala Staf Presiden, tentu memarodikan Donald Trump yang mengangkut keluarganya ke Gedung Putih. Juga penolakannya pada sains sehingga kabar yang dibawah astronom Randall Mindy (Leonardo DiCaprio) bahwa bumi akan ditabrak oleh meteor sebesar 9 kilometer persegi mereka abaikan.

Memarodikan Trump dengan cara seperti ini tak lucu sama sekali. Dalam pemilu, mengolok pikiran-pikiran aneh Donald Trump malah mengantarkannya ke kursi presiden.

Sampai adegan di menit 1 jam 44 menit. Setelah Ariana Grande bernyanyi di sebuah konser sebelum kiamat yang menyanyikan syair bahwa dunia mesti mengikuti apa kata ilmuwan yang kredibel tentang keadaan bumi. Kita tahu ia sedang berbicara tentang krisis iklim. Dari sini cerita jadi serius dan penting.

Meteoroid itu adalah metafora krisis iklim, karena ia yang paling mengancam bumi saat ini. Dunia sedang menuju kehancuran pelan-pelan karena para politikus ogah membuat kebijakan mencegahnya. Pengusaha yang justru memanfaatkan keadaan dengan rencana menambang meteoroid, alih-alih menghancurkannya untuk mencegah kiamat, adalah kesombongan industri yang mencari celah bisnis di tengah krisis iklim. Apalagi, mereka diam-diam membangun pesawat untuk kabur ke planet lain jika benar meteoroid menghantam bumi.

Secara keseluruhan, parodi film Don’t Look Up bukan hal baru—kecuali mungkin di Amerika yang ilmuwannya tak didengarkan. Di luar Amerika, pesan film Adam McKay ini jamak kita tahu. Ada sebagian orang yang tak percaya krisis iklim, ada banyak yang meragukannya. Kepala-kepala negara pura-pura paham dunia sedang tak baik-baik saja, tapi membuat kebijakan yang mempercepat kehancuran planet ini.

Soal-soal ini sudah kita tahu. Pidato dan protes para remaja seperti Greta Thunberg jelas mengungkap pengabaian itu. Suara para saintis yang tiap kali mengabarkan bukti krisis iklim, juga bencana-bencana yang datang silih berganti, menguap dan dianggap angin lalu begitu saja. Kebijakan politik tetap saja pro pada industri ekstraktif. Banyak perjanjian menjadikan bumi lebih baik—seperti dalam COP26 di Glasgow yang baru lewat—tapi kebijakan-kebijakan politik berjalan ke arah sebaliknya.

Maka film Don’t Look Up sebenarnya punya misi bagus mengolok para penolak krisis iklim. Namun, cara bertuturnya dengan memberi panggung kepada kelompok ini membuat pesannya menjadi kabur. Randall Mindy dan Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence) bahkan digambarkan sebagai ilmuwan pemarah (mungkin mengacu pada kemarahan Greta Thunberg) sehingga penonton akan menganggapnya wajar jika informasi yang mereka bawa dianggap palsu.

Agak mengherankan bahwa Leonardo DiCaprio menerima naskah skenario yang buruk ini. Kita tahu ia aktor Hollywood yang berada di barisan Greta Thunberg, orang yang gigih mempromosikan bahwa krisis iklim begitu nyata. Tak hanya berkampanye, Leo juga bergerak secara nyata dalam pemuliaan lingkungan melalui yayasannya.

Tampilnya Leo sebagai ilmuwan gugup dan pemarah yang membutuhkan Xanax untuk menghentikan kegelisahan ketika menjelaskan sains, justru mengolok para saintis yang mengabarkan bukti-bukti krisis iklim. Mungkin ada saintis yang gagap menjelaskan temuannya, tapi banyak juga yang cerkas menjelaskan soal kompleks dan ruwet ini dengan bahasa dan cara tutur yang asyik.

Walhasil, Don’t Look Up buruk dalam hal cara bertutur: masuk melalui parodi untuk mengolok para penolak krisis iklim hingga kehilangan fokus pada pesan pentingnya berkhidmat pada sains.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain