Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|02 November 2021

Seruan Keras dari Arena COP26

Pemimpin PBB menuntut negara maju segera membuat kebijakan nyata mengurangi emisi. Seruan-seruan keras dari arena COP26.

ENAM tahun berturut-turut sejak ditandatanganinya Perjanjian Paris 2015, bumi mencapai rekor suhu terpanas. Ketergantungan manusia pada sumber bahan bakar fosil membawa umat manusia ke tepi jurang bencana iklim. Pilihannya, apakah kita menghentikan atau sebaliknya.

“Saatnya mengatakan cukup,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres di Konferensi Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia, 1 November 2021. “Cukup menghancurkan keanekaragaman hayati, cukup membunuh diri kita sendiri dengan karbon, cukup memperlakukan alam seperti toilet, cukup mengeruk, menambang lebih dalam lagi. Cukup kita menggali kubur sendiri.”

Dalam beberapa tahun terakhir planet kita berubah cepat. Dari laut terdalam hingga pegunungan, melelehnya gletser hingga cuaca ekstrem yang makin intens. Bahkan kini permukaan laut naik dua kali lipat dari 30 tahun lalu. Lautan lebih panas dan menjadi hangat lebih cepat.

António juga menyoroti hutan hujan tropis Amazon mengeluarkan lebih banyak karbon daripada menyerapnya. Ia menyindir banyak kepala negara yang yakin beberapa aksi untuk iklim memberi kesan seolah kita berada di jalur yang tepat. "Ini adalah ilusi," ujarnya.

BACA: Yang Harus Anda Tahu tentang COP26

Laporan terakhir Nationally Determined Contributions (NDC) menyebut suhu global saat ini mengarah ke angka 2,70 Celcius. Bahkan dengan skenario terbaik pun, menurut PBB, suhu bumi akan naik di atas 20 Celcius. Bumi mengarah kepada bencana iklim. 

Menurut António, sains sudah menjelaskan apa yang harus kita lakukan. Yang utama, kita harus menekan suhu tak lebih dari 1,50 Celcius. Lalu memangkas emisi 45% pada 2030 dari produksi tahunan 51 miliar setara CO2. Adapun negara-negara G20 memiliki tanggung jawab untuk menekan emisi hingga 80%.

Menurut António, bumi yang terancam ini harus disadari oleh anak muda, hingga para pejabat negara. Apalagi, bagi negara kecil kepulauan, kegagalan mengantisipasi ini bukanlah pilihan. "Kegagalan artinya hukuman mati," kata António.

Ancaman bencana ini juga disoroti Perdana Menteri Barbados Mia Mottley dalam pidato pembukaan COP26. Puluhan negara kepulauan di Pasifik, kata dia, sudah merasakan dampak perubahan iklim, seperti badai super besar, serta naiknya permukaan laut. “Apakah kita akan meninggalkan Skotlandia tanpa hasil untuk menyelamatkan planet ini?" katanya dengan nada keras.

Menurut Mia kenaikan suhu 20 Celcius artinya hukuman mati buat orang Antigua dan Barbuda, Maladewa, Dominika, Fiji, Kenya, Mozambik, dan Barbados. "Rakyat kami, dan planet ini butuh aksi sekarang bukan tahun depan, bukan dekade berikutnya.”

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain