Laporan Utama | Juli-September 2018

Fahutan yang Asyik

"Bagaimana rasanya menjadi alumni mahasiswa Kehutanan?"

Diana Andriani

Angkatan 50

SERING orang bertanya seperti ini. Apa yang sebenarnya mahasiswa Fakultas Kehutanan lakukan?  Sebagai perbandingan, mungkin ada Fakultas Ekonomi yang sudah jelas melihat sistem mikro dan makro pasar. Atau mungkin mahasiswa Ilmu Gizi yang jelas memperhatikan baik buruk kandungan bahan makanan. Bagaimana dengan mahasiswa Kehutanan? Benarkah menghitung tebangan kayu? Atau bagaimana cara membuat kertas?

Awal semester III, yaitu ketika materi mengenai kehutanan mulai banyak disajikan oleh bagian kurikulum, banyak pertanyaan mengenai judul mata kuliah kami. Apa itu Ilmu Ukur Tanah dan Pemetaan Wilayah? Ilmu untuk jualan tanahkah? Atau Hasil Hutan sebagai Bahan Baku, apa maksudnya? Dan bahkan ada Dendrologi, ilmu menggambar, menghafal dan memahami struktur serta kegunaan daun? Bagaimana mungkin hutan seluas itu harus dihafal isi daunnya? Lalu mengapa batang tidak? Mengapa akar tidak? Dan lain sebagainya yang membuatku semakin penasaran.

Saat tahun kedua kuliah berakhir, nilaiku terjun seperti seorang anak kecil meluncur dari prosotan. Curam, tapi asyik. Aku tidak lagi terlalu memikirkan nilai, dapat memahami kuliah sesuai harapan dosen saja sudah bagus. Karena ini semua hal baru untukku. Beberapa temanku bahkan ada yang merasa salah jurusan dan harus putar haluan, dan mundur dari jalan ini.

Di tahun ini juga, ada satu momen yang belum pernah ada dalam sejarahku sebelumnya. Bina Corps Rimbawan (BCR). Sebelumnya banyak yang takut akan momen ini. Beberapa rumor bahkan melebih-lebihkan sampai BCR terdengar seperti masuk ke rumah hantu, atau hal menakutkan lainnya. Tapi jika kamu melaluinya langsung, mungkin kamu akan berharap kembali ke jaman BCR.

BCR di benakku adalah penyambutan adik baru di keluarga Fahutan, secara hangat dan berkesan. Bayangkan bagaimana kakak-kakak serta dosen-dosen begitu meluangkan waktu untuk kegiatan sekali dalam seumur hidup ini. Bagaimana mereka menyiapkan tenaga serta pikiran agar adik-adiknya mengenal dunia yang akan dihadapinya. Dunia kehutanan itu bukannya keras atau kasar, tapi dunia sesungguhnya, di mana jika kamu tidak berani menaklukkannya, kamu yang akan ditaklukkan. Dunia yang jujur, jika kamu memperlakukan hutan dengan baik, hutan akan berlaku yang sama. Sesederhana itu tujuan mereka.

Selepas BCR, barulah terasa efeknya. Kami jadi tahu keluarga Fahutan. Tidak lagi ragu menyapa atau bertanya. Senior dan junior sudah seperti kakak dan adik kandung. Beberapa kasus sebelumnya bahkan menjadi keluarga di dunia nyata. Dunia kuliah semakin mudah karena kita mengenal senior. Bisa bertanya mengenai mata kuliah, tugas, ujian, dosen, bahkan pekerjaan. Selepas BCR juga, baru aku memahami bahwa kuliah di kehutanan tidak bisa disamakan dengan kuliah di fakultas lain. Mungkin seorang saja cukup sebagai ahli di dunia gizi atau ekonomi. Tapi di kehutanan, sekalipun kamu ahli, kamu tidak bisa berjalan sendiri. Kamu tidak bisa menangani tanah, hasil hutan dan daun-daun yang banyak jenisnya itu sendirian. Dan sulit menjelaskan hal ini kepada orang yang bukan dari kehutanan.

Mulailah banyak praktikum ke hutan yang kami alami bersama. Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan ke enam ekosistem yang belum pernah kami kunjungi seumur hidup kami. Hutan pegunungan, hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan mangrove. Lelah, tapi sangat mengesankan. Dari sini bahkan awal dari sebuah cerita, sebuah hubungan atau sebuah pandangan.

Lanjut lagi ke semester 6 ada Praktik Pengelolaan Hutan (PPH). Selama satu bulan, berada di hutan yang sama, belajar semua hal tentang hutan. Kebakaran Hutan, Inventarisasi Hasil Hutan, mengamati flora dan fauna di hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat, membuat kami rindu juga akan BCR yang juga diadakan di sini. PPH adalah momen terakhir kami berada dalam satu atap yang sama melakukan praktik kehutanan.

Hingga tibalah kita di tahun keempat kuliah. Beberapa dari kita mulai mempersiapkan penelitian, pergi ke wilayah studi untuk pengambilan data, menerapkan ilmu yang pernah diajarkan. Ada yang hanya tiga hari, seminggu, dua minggu, sebulan, hingga berbulan-bulan pengambilan data demi garis finish yang harus dicapai.

Penelitian juga ada rumornya, apalagi penelitian di bidang kehutanan. Tidak sedikit cerita dari senior tentang sulitnya mengambil data di alam. Hubungan dengan cuaca, kesesuaian literatur dengan kondisi sebenarnya, belum lagi lamanya pengurusan perizinan yang berlapis. Cerita tersebut banyak membuat hati ciut, hingga teman yang selalu menguatkan dibutuhkan dalam setiap tahapan penelitian. Dari mulai proposal, survei, pengambilan data, seminar, sampai wisuda, setiap tahapan itu butuh dukungan dan penguatan. Beruntung kami semua pernah melalui BCR, dan pengalaman lain di Kehutanan yang mengajarkan keakraban. Sehingga senior dan bahkan dosen pun di beberapa kasus, ikut turun tangan dan membantu.

Setelah waktu-waktu pengambilan data yang sulit berlalu, muncullah wisudawan dan wisudawati Fakultas Kehutanan yang tangguh. Sudah teruji di lapangan maupun di meja penuh kertas. Jangan ditanya berapa banyak kami harus melawan rasa berat menyelesaikan penelitian kami sendiri. Berapa banyak kertas revisi yang harus diperbaiki. Atau waktu yang dihabiskan karena menunggu ACC dosen atau kadang sekedar form cliring dari fakultas yang hanya dua kali seminggu.

Apa kami menyesal? Banyak hal yang kami dapatkan. Dan meski praktikum kami sangat padat, kegiatan Himpunan, UKM, BEM/DPM sangat padat, tapi kami sangat bersyukur. Rapat hingga pulang dini hari, mengerjakan laporan dan proker dalam satu waktu yang sama sangat menyulitkan, tapi harus diakui bahwa kami merindukan masa itu.

Masa ketika salah satu dari kami tidak mengerjakan tugas dengan baik, kami akan mulai “ngegas”. Masa ketika cewek dan cowok bisa bersama menggunakan chain saw dengan baik. Banyak sekali hal yang didapatkan, dan kemudian dirindukan. Meski rindu itu berat, tapi kami bisa tetap mengenangnya dengan baik.

Maka, apa rasanya menjadi alumni Fahutan? Jawabannya: asyik...

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.