Laporan Utama | Juli-September 2018

Langkah 49 Tanpa Getar

Bina Corps Rimbawan 2013 tak seseram yang dibayangkan. Seru-seruan lomba make-up.

Robi Deslia Waldi

Bekerja di Fakultas Kehutanan IPB

CERITA-cerita yang kami dapatkan saat masuk IPB bahwa Fahutan itu senior-seniornya beringas, galak, dan seram. Sebelum masuk ke Fahutan, kami harus merasakan satu tahun di IPB belajar mata kuliah seperti SMA kelas 4. Di sini banyak mahasiswa yang gugur karena nilainya tidak cukup .

Kami masuk Fahutan dengan alasan macam-macam: cita-cita, bingung memilih jurusan, orang tua alumni Fahutan, saran kakak kelas di SMA, atau disarankan keluarga. Kami melangkah ke Fahutan dan harus melewati BCR, masa orientasi yang berat karena kesan seniornya itu.

BCR sangat panjang dan menghabiskan banyak waktu. Tapi berkat BCR kami yang tidak kenal menjadi kenal, yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak dekat menjadi dekat, yang tak peduli menjadi peduli, kami berproses menjadi yang lebih baik.

Juni 2013, kami dikumpulkan oleh Panitia BCR di Gladiator. Seharusnya hari itu kami sudah libur. Kami datang ke sana dengan rasa tak senang dan malas. Panitia mengajak berkenalan dengan beberapa dari kami yang ditunjuk, menjelaskan alasan kami dikumpulkan dan memberikan penugasan BCR yang akan dilaksanakan kepada kami tanpa memberitahu kapan waktunya. Tiba-tiba panitia mengatakan kami harus bubar dalam hitungan mundur 10.

Kami kocar-kacir berlarian tanpa arah dan nafas kami terengah-engah meninggalkan Gladiator tersebut agar kami tidak terkena marah. Penugasan yang diberikan oleh panitia telah kami catat meskipun belum lengkap. Saat itu alat komunikasi kami melalui SMS dan Group Facebook “El Arbol de La Sabina”.

Canda dan tawa menghiasi pembuatan tugas BCR di salah satu rumah teman kami. Ada tiga perempuan tangguh yang bekerja all out menyelesaikan penugasan untuk 378 mahasiswa untuk memenuhi tugas Pra BCR pada 24 Agustus 2013. 

Pra-BCR diisi dengan pemilihan ketua angkatan, pengenalan kampus, dan aturan-aturan BCR, seperti rambut harus botak, seragam kemeja putih-celana hitam. Waktu itu baru selesai Lebaran. Panitia mengizinkan mahasiswa tak mengikuti BCR asal ada izin yang masuk akal. Sebelum pulang kami diminta memakai jas hujan, padahal hari terik di luar gedung.

Agar kompak kami mengontak teman yang belum pulang dari Medan. Ada juga beberapa orang di Bekasi yang dijemput dan meyakinkan orang tua mereka agar mau ikut BCR. Meski izin orang tua diberikan, teman kami tetap menolak BCR. Di Cigombong, negosiasi dengan orang tua sangat alot karena teman kami sedang tipus.

Pra-BCR dibuka Dekan Fahutan Profesor Bambang Hero Saharjo. Kami senang saat upacara berlangsung karena secara sah kami sudah diterima sebagai Keluarga Besar Fakultas Kehutanan IPB meskipun upacara tersebut baru langkah awal. Hari pertama berlangsung mulus. Para senior menampilkan mahasiswa-mahasiswa berprestasi seperti pengenalan Sekolah Rimbawan Kecil (Serincil) oleh pendirinya, Brigita Laura dari angkatan 46, Bagus Rama dari angkatan sama mengenalkan Rimbacadas sebagai Suporter Fahutan di Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI).

Hari kedua BCR kami diajarkan jungle survival oleh anggota Rimbawan Pecinta Alam (Rimpala) di antaranya manajemen perjalanan, navigasi darat, mengenal makan-makanan yang dapat dimakan di hutan, membuat perangkap hewan untuk di makan, dan packing barang-barang. Selain itu ada penampilan kreatifitas pada H-2 ini menampilkan Musikalisasi Puisi oleh Masyarakat Rompoet (MR).

Setelah JS kami praktik di sekitar kampus yang dibarengi dengan kegiatan tur dan Pengenalan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang ada di Fahutan diantaranya BEM-E, DPM-E, Himpunan Profesi Departemen MNH -FMSC, Himpunan Profesi Departemen Hasil Hutan -Himasiltan, Himpunan Profesi Departemen KSHE -Himakova, Himpunan Profesi Departemen SVK -TGC, Rimbawan Pecinta Alam (Rimpala), DKM Ibadurahman, Masyarakat Rompoet (MR), IFSA, dan PC Sylva IPB.

Untuk melatih kreativitas kami, panitia meminta kami membuat barang bermanfaat dari barang bekas. Panitia memberikan hadiah kepada anak kelompok yang punya ide cemerlang.

Hari sabtu tanggal 6 Oktober 2013, kami dikumpulkan di lapangan Ruang Sidang Sylva dengan membawa penugasan yang sudah diberikan panitia kepada kami. Pengecekan kehadiran, kesehatan, dan penugasan dilakukan oleh panitia BCR. Sekitar jam 08.00 ada dua departemen yaitu Departemen MNH dan SVK yang harus melakukan praktik Pengantar Ilmu Tanah (PIT) di Cikabayan. Mahasiswa yang telat diminta melengkapi barang-barang yang ditugaskan.

Praktikum Ilmu Tanah selesai kami di mobilisasi kembali ke Kampus Fahutan untuk persiapan pemberangkatan ke Gunung Walat. Hari itu hujan deras dan kami dikumpulkan dalam ruangan Audit 2-3 Fahutan. Kami diberikan sedikit wejangan-wejangan sebelum berangkat agar kami mengerti dan memahami cara beretika, sopan, dan santun di tempat baru dikarenakan pegawai HPGW bukan dari Fahutan saja namun ada warga lokal.

Pemberangkatan ke HPGW sekitar jam 9 malam dikarenakan hujan sudah tidak besar lagi. Kami dimobilisasi ke truk TNI dan jumlahnya disesuaikan dengan kapasitasnya. Tiba  di gunung Walat sekitar jam 11 dan menuju kamp dengan jalan kaki karena jalan licin.

Kegiatan hari pertama di Gunung Walat berupa pengenalan HPGW oleh Direktur HPGW dilanjutkan persiapan tracking dan implementasi jungle survival. Kami berolahraga dan hiburan sembari menunggu giliran untuk melakukan tracking di HPGW. Setiap pos kami dilatih rasa kepedulian dan kebersamaan seperti pada Pos 1 kami diperintahkan saling mencari teman yang berbicara (contohnya Wek-wek-wek-wek, Kukuruyuk-Kukuruyuk-Kukuruyuk-Kukuruyuk, uuaa-uuaa-uuaa-uuaa, dan lain-lainnya) ini menjadi menarik saat pencarian tersebut karena kami ditutup mata. Pos-demi pos kami lalui dengan semangat dan keceriaan setiap Anggota Keluarga (AK) sehingga rasa lelah itu hilang.

Menuju pos terakhir kami diperintahkan lari dan merayap dan secepatnya membuat barisan yang rapi. Di sini banyak sekali senior dan dosen. Kami diberikan wejangan jiwa Korsa Rimbawan dan berkehidupan di kampus Fahutan.

Pandangan kami terhadap Fahutan yang berdasarkan rumor-rumor sewaktu TPB bahwa senior galak dan seram, sirna seketika dan merasakan sambutan yang luar biasa kepada kami Fahutan Angkatan 49 sebagai bagian dari keluarga Besar Fahutan IPB.

BCR 2013 belum selesai setelah Gunung Walat. Kami dianggap belum memahami jiwa Fahutan. Sehingga senior memberikan tugas agar kami membuat sebuah acara besar Malam Kreativitas Rimbawan (MKR 2013).

Sebelum melaksanakan MKR 2013 kami mengikuti dan meramaikan kegiatan Semarak Kehutanan ke-50 yaitu kegiatan bersih-bersih sungai Ciherang yang berada di bawah jembatan Ciherang. Keseriusan kami buktikan dengan tidak takut kotor untuk bahu-membahu membersihkan sungai dari sampah-sampah yang ada pada aliran dan bantaran sungai.

Konsentrasi Fahutan 49 selama Pasca-BCR menuju MKR tidak pernah pudar. MKR kami buat dan persembahkan untuk civitas akademika IPB sebagai wujud ucapan terimakasih Fahutan 49 kepada Civitas yang menrima kami sebagai bagian Keluarga Besar Fakultas Kehutanan IPB. MKR kami laksanakan pada  bulan Desember 2013 di Auditorium Sylva Pertamina (ASP)  dengan mengambil konsep teatrikal.

Pada 26 April 2014 merupakan momen bersejarah bagi kami karena mendapatkan jaket Rimbawan yang kami rancang sendiri.

Kami Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) bulan Agustus 2014 di beberapa daerah. Daerah-daerah yang digunakan untuk praktek ini diantaranya Kamojang, Sancang Barat, Gunung Papandayan, Sancang Timur, Pangandaran, Gunung Syawal, Cilacap, dan Baturaden. P2EH ini memberikan informasi tambahan terkait jenis-jenis tanaman di daerah seperti Palahlar, Ki Leho, Ki Hujan, Ki Hideung, dan yang lebih lucu yaitu adanya jenis tanaman rumput-rumputan yang diberi nama Jukut Bool oleh warga setempat. P2EH ini merupakan pertama bagi angkatan kami untuk melakukan 17 Agustus di lapang.

Selepas P2EH kami melakukan KRS Online yaitu sistem akademik dengan mengatur jadwal sesuai yang tertera dan diharapkan oleh kami. Dengan KRS Online ini kami dididik untuk saling bahu membahu mendapatkan matakuliah yang diharapkan, ada yang menimbun mata kuliah penunjang terlebih dahulu dibandingkan matakuliah wajib.

Pada Mei 2015, kami sibuk Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI). OMI ini ajang bergengsi antar fakultas di bidang olahraga. Kejadian OMI 2015 yang tak terlupakan adanya keributan hebat antara Fakultas Kehutanan dan Peternakan. Seorang pendukung Fapet memukul pendukung Fahutan. Keributan hingga dini hari. Diwakili Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pak Agus Priyono Kartono jalan damai terjadi dalam diskusi yang alot dan panjang.

Praktik di Gunung Walat pada Juli-Agustus 2015 terjadi pada bulam musim kemarau, sehingga kami selalu berebut kamar mandi untuk mandi, buang air besar, dan buang air kecil. Kami juga ikut membantu pegawai HPGW memadamkan kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di area HPGW akibat pembukaan lahan oleh masyarakat untuk perladangan. Di tengah praktik kami mengadakan lomba 17 Agustus. Lomba paling menarik dan berkesan yaitu lomba make-up laki-laki.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.