Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|27 September 2021

Cina Setop Pembangkit Batu Bara

Cina akan menghentikan dukungan pembiayaan pembangkit batu bara baru. Belum jelas tata waktunya.

BERBICARA selama 15.05 menit dalam Sidang Umum PBB pada 21 September 2021, Presiden Cina Xi Jinping berjanji negaranya tak akan membiayai pembangkit batu bara baru di luar negeri. Janji Presiden Xi ini penting mengingat Cina menjadi negara yang paling banyak membangun pembangkit batu bara melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI) sejak 2013.

BRI menjadi program utama Presiden Xi setelah berkunjung ke Kazakhstan dan Indonesia pada 2013. Ia bertekad menyalurkan bantuan untuk mengurangi ketimpangan infrastruktur dunia, meski dalam kacamata lain BRI dianggap sebagai cara Cina menguasai dunia melalui pembiayaan dan utang. 

Salah satu proyek unggulan BRI adalah pembangkit listrik batu bara untuk menyediakan setrum di banyak negara berkembang. Batu bara juga menjadi andalan Cina dalam menghidupkan industri mereka. Dengan konsumsi batu bara dan pasar yang diciptakan Cina itu, emisi global mencapai 51 miliar ton setara CO2 per tahun.

Dalam pidato di PBB itu, Presiden Xi memaparkan empat poin yang menjadi program pemerintah Cina ke depan. Setelah bicara panjang soal pandemi Covid-19, ia menghubungkannya dengan keseimbangan alam dan manusia.

Xi sadar bahwa batu bara membuat keseimbangan alam terganggu. Karena itu ia menyebut negaranya akan berkomitmen mendorong harmonisasi manusia dan alam melalui kerja sama global membangun ekonomi hijau. “Kita perlu meningkatkan tata kelola lingkungan global, secara aktif menanggapi perubahan iklim, dan menciptakan komunitas kehidupan bagi manusia dan alam,” katanya.

Desember lalu lembaga pemikir Cina mengumumkan akan membatasi kredit proyek batu bara di luar negeri melalui skema BRI. Pengumuman itu menyusul pengumuman Presiden Xi bahwa Cina akan mencapai karbon netral pada 2060. Dalam pidato terbaru di PBB, Xi berjanji akan menurunkan emisi sebelum 2030, tanpa menyebut waktu spesifik memulainya. “Ini membutuhkan kerja keras luar biasa dan kami akan melakukan segala cara mencapainya,” katanya. 

Dengan tekad baru ini, pemerintah Cina mesti secara radikal menutup pembangkit batu bara di negaranya. Meski Xi menyebut krisis iklim bisa ditangani dengan teknologi, produksi emisi harus ditekan secara drastis. Dalam Kesepakatan Paris, PBB meminta seluruh negara membuat proposal untuk menurunkan emisi hingga 45% pada 2050 untuk mencegah suhu bumi naik 1,50 Celsius dibanding suhu masa praindustri 1800-1850.

Masalahnya suhu hari ini sudah naik 1,1C. Analisis IPCC, panel PBB yang berisi ahli iklim, menyatakan bahwa batas suhu itu kemungkinan tercapai lebih cepat dalam 20 tahun ke depan, jika melihat proposal banyak negara yang tak ambisius menurunkan emisi melalui program-program pembangunan rendah karbon.

Menurut analisis Climate Tracker Action, Cina satu kelompok dengan Indonesia sebagai negara yang program menurunkan emisinya masuk kategori “sangat tidak cukup”. Karena itu jika benar Cina hendak menurunkan emisi sebelum 2030, mereka harus menetapkan target puncak emisinya pada 2025. Banyak analisis yang menyebutkan target itu mustahil mengingat Cina pembangkit-pembangkit Cina masih memakai energi fosil.

Penetapan puncak emisi Cina akan mengubah cukup signifikan produksi emisi karbon global. Karena, itu berarti, Cina akan dengan radikal mengubah kebijakan pembangunannya, terutama dalam pembangunan rendah karbon. Sebagai negara besar yang menjalin banyak perdagangan dengan negara lain, kebijakan dan strategi ekonomi Cina ini akan berpengaruh ke dalam kebijakan banyak negara, termasuk Indonesia yang mengekspor 40% batu baranya ke negara ini. 

Tahun ini target produksi batu bara Indonesia sebanyak 625 juta ton. Pemerintah Cina sudah setuju mengimpor 200 juta ton batu bara dari Indonesia tahun ini. Nilai ekspor tersebut mencapai Rp 20,6 triliun. Jika benar Cina hendak menurunkan emisi dan mengurangi batu bara, ekspor Indonesia akan terimbas.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain