Laporan Utama | Juli-September 2018

Angkatan "Pemberontak" dan Kritis

“Ada cinta yang silang sengkarut. Subsidi silang antar mahasiswa agar bisa bertahan kuliah. E44 adalah sekelumit kisah panjang tentang cinta, kesetiakawanan dan tenggang rasa, kesahajaan, dan kebebasan”.

Mustofa Fato

Mahasiswa program master Fakultas Kehutanan IPB. Penyuka kopi dan fotografi.

MEMBUKA tabir kenangan E44 berarti “memanggil kembali” ingatan kolektif yang tersimpan rapi didalam lobus temporal cerebrum, yaitu sekelumit kisah panjang tentang cinta, kesetiakawanan, tenggang rasa, kesahajaan, dan kebebasan. E44 dikenal sebagai generasi “babal” dan “gingging” dalam bahasa Medan dan Batak.

Kami dicap sebagai angkatan “pembangkang” oleh para senior karena acap sulit diatur, senantiasa mengajukan protes dan kritis dalam setiap kesempatan, sekaligus mampu mengambil hati terdalam para senior dan menjadi pusat referensi bagi para junior. Hampir di setiap momentum, E44 tampil kritis di dalam berbagai forum atau pertemuan formal dan informal, baik internal dan eksternal di lingkungan Fakultas Kehutanan maupun di lingkungan IPB.

Hal-hal yang di luar nalar sehat dan di luar pakem, simbolik, miskin substansi, tidak langsung bisa dengan mudah diterima begitu saja baik oleh angkatan 44, maupun kumpulan individu-individunya. Kerap kali hal yang tidak bisa dihindarkan adalah adu argumen dengan para senior. Bagi kebanyakan junior, hal tersebut cenderung dihindari untuk menghindari konflik perdebatan. Akan tetapi, bagi E44 bersikap kritis terhadap sesuatu hal tertentu yang di rasa kurang relevan dan kontekstual sama sekali bukan bentuk perbuatan dosa yang perlu ditakutkan.

Momentum-momentum protes juga kerap terjadi. Peristiwa paling menghebohkan adalah demonstrasi massal akibat penebangan pohon langka pada medio Agustus 2011 dan demonstrasi pada medio Desember 2012 yang dilakukan di Gedung Rektorat menuntut perbaikan sistem kelembagaan organisasi kemahasiswaan IPB. Kesemua peristiwa itu di warnai oleh E44.

Sekelumit Kisah Cinta

Pernah merasakan jatuh cinta selama menjadi mahasiswa/i di Fahutan adalah menjadi salah satu memori indah yang bisa membikin “nyengir-nyengir sendiri” ketika kembali mengenangnya. Sekelumit kisah cinta di E44 yang layak “dibeberkan” ini menjadi bahan canda abadi dalam setiap pertemuan E44.

  • Siapa yang akan menyangkal, perebutan adik kelas di antara teman pada satu jurusan yang sama nyaris menyebabkan baku hantam fisik?
  • Siapa yang akan menyangkal, perebutan teman perempuan pada satu jurusan yang sama dilakukan oleh beberapa teman laki-laki yang juga di satu jurusan yang sama?
  • Siapa yang akan menyangkal, ketika cintanya ditolak adalah Gunung Gede-Pangrango sebagai obatnya?
  • Siapa yang akan menyangkal, rebutan teman perempuan di satu jurusan yang sama oleh dua teman yang jurusannya juga sama kemudian curhatnya juga kepada salah satu teman di jurusan yang sama secara bergantian selisih satu malam?
  • Siapa yang akan menyangkal, saking grogi terhadap teman perempuan yang ditaksirnya dan mendadak muncul di depan mata hingga mengakibatkan angkot di depan gang sebuah kontrakan dilap tanpa sadar?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada kalung berbentuk hati, yang masing-masing kepingannya ada pada dua teman pada satu jurusan yang sama?
  • Siapa yang akan menyangkal, banyak mahasiswa E44 yang ditinggal nikah oleh mantan kekasihnya yang juga E44?
  • Siapa yang akan menyangkal, ketika cintanya kandas, move on-nya lama?
  • Siapa yang akan menyangkal, akibat jatuh cinta ada teman yang secara diam-diam menuliskan inisial nama seorang teman perempuan yang ditaksirnya pada halaman depan cover buku John Rawls yang dibeli bersama dari Gramedia?
  • Siapa yang juga akan menyangkal, akibat hanya hampir menyukai adik kelas dari seorang teman sedaerah di satu jurusan yang sama lalu mendapatkan ultimatum ancaman gorokan di leher?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada junior yang kesemsem dengan “kedinginan” seorang teman di E44?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada dua teman berbeda jurusan, kemudian teman yang satu curhat karena menaksir juniornya, sedangkan yang sedang dicurhati tenyata sudah lebih dahulu membangun komunikasi lebih dalam, lalu senyum-senyum sendiri dan merasa menang?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada yang diam-diam memendam cinta yang belum diungkapkan hingga hari ini?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada senior cantik pada jurusan yang sama yang begitu menyukai juniornya di E44?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada teman yang menaksir teman perempuan satu angkatan berbeda jurusan kemudian merasa ada senior yang merebut, sehingga berimbas hampir baku hantam dalam pertandingan futsal di gymnasium?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada yang diam-diam menyanyikan lagu khusus menggunakan instrumen karena cintanya yang tulus terhadap seseorang yang begitu disayanginya?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada teman berani menikung seniornya dalam satu jurusan yang sama karena sangat menaksir juniornya di jurusan yang sama?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada teman di satu jurusan di mana kekasih yang dicintainya ditikung oleh juniornya?
  • Siapa yang akan menyangkal, ada teman yang telah menghadiahkan kado di hari ulang tahun kekasihnya, tetapi kekasihnya diambil orang lain?
  • Siapa yang juga akan menyangkal, ada teman yang mendadak rasionalitasnya hampir hilang akibat mendengar kabar bahwa perempuan yang dikasihinya di luar pulau akan dilamar orang?

 

Kesetiakawanan dan Tenggang Rasa

Mayoritas E44 adalah kumpulan anak-anak kampung/dusun dengan kondisi finansial minim dan serba terbatas. Hal paling menyentuh adalah cara mereka bertahan hidup. Hampir di setiap semester selama kuliah di Fahutan, secara diam-diam banyak personal E44 mengantre hampir di masing-masing Tata Usaha Departemen untuk bisa mendapatkan pinjaman uang (hutang) untuk membayar biaya kuliah satu semeter dan diganti pada semester berikutnya (sistem gali lubang tutup lubang).

Ada juga yang secara diam-diam mencari beasiswa mulai dari beasiswa Prestasi Akademik hingga beasiswa Kurang Mampu setiap tahunnya. Ada juga karena tidak memiliki biaya kuliah sama sekali, juga secara diam-diam menghabiskan waktu dan tenaganya sepanjang hari di sela-sela waktu kuliah dan akhir pekannya melakukan bimbel agar bisa membayar biaya kuliah dan survive.

Sistem subsidi silang secara diam-diam di masing-masing jurusan E44 juga sering dilakukan agar bisa bertahan hidup. Kantin ASIK menjadi tempat berhutang makan kolektif memakai nama beberapa orang ketika kondisi keuangan sedang sulit. Pelunasan hutang makan biasanya dilakukan di setiap awal bulan berikutnya atau ketika kondisi finansial bulanan mulai membaik.

Ketika pemilihan ketua BEM Fakultas pada medio akhir tahun 2010, secara aklamasi kami memilih Rusdi Indra Safutra (E44070054) periode 2010-2011. Peristiwa ini adalah tonggak sejarah di Fahutan, buah dari infrastruktur dan modal sosial yang terbangun kuat di internal E44. 

Mereka yang Telah Tiada

Selamat jalan Perwira Rimba Raya, kawan kami Aditia Nugraha (E44070060); Ari Nuh Ardianto (E14070108); Tri Rohidayati (E14070117). Kenangan dan kebaikanmu akan selalu melekat dan tersimpan baik di dalam “folder” lobus temporal cerebrum E44. Doa kami, semoga Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan sebaik-baik tempat disisi-Nya. Amin. 

Penutup

Akhirnya, hingga saat ini hampir tidak ada yang tidak kenal sosok pribadi dengan nama-nama sebagai berikut: Yasser Pramana, Rusdi Indra, Mustofa Fato, Wira Dana, Anggiana Ginanjar, Arifin, Renato, Alex Yungan, Djayus, Topik Bhadig, Adi Djombang, Rizky Onta, Bayu Pranayudha, Lembong, Hariadi Propantoko, Ardiansyah Putra, Destian Nori, Ambon, Irham Mbek, Reja Bonek, Septian Garo, Rama Ndut, Andri Ridzki, Risky Laleur, Dikdik Sodikin, Bergas, Barus, Novan Pradana, Rizki Naon, Qori, Ade Haerudin, Hansen Sitanggang, Putra Kamputz, Ridho Black, Satria Hitler, Singgih Mukti, Syamsi, Rian Slam, Adit Bedon (alm), dan berbagai nama lainnya. Mereka semuanya itu adalah representatif  “orang-orang gila” dengan warna dominannya masing-masing, “nyeleneh” dan aset berharga yang dimiliki E44 dan tonggak Kehutanan IPB di masa yang akan datang.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.