Laporan Utama | Juli-September 2018

Cerita di Era Reformasi

Angkatan 34 ini kuliah ketika ekonomi sedang sulit. Saksi sejarah tumbangnya rezim Soeharto.

Samsul Ulum

Angkatan 34

ANGKATAN 34 masuk Institut Pertanian Bogor pada 1997. Ada dua gelombang penerimaan yaitu melalui jalur Undangan Seleksi Masuki IPB dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Mahasiswa yang masuk melalui jalur USMI telah memulai masuk ke kampus pada bulan Juni 1997, sedangkan mahasiswa yang masuk melalui jalur UMPTN mulai masuk ke kampus pada Bulan September 1997. 

Angkatan E34 sepakat menamakan angkatannya dengan nama BOTOL, kependekan dari BarOdak Tilu Opat Luar biasa.

September 1997 merupakan bulan mengerikan, karena bulan itu kami melaksanakan MPF (Masa Perkenal Fakultas) yang terkenal seram. Sebelum MPF, kami kuliah setahun dalam masa perkenalan IPB di kampus Baranangsiang. Sebagai mahasiswa baru dari jalur UMPTN saya belum terlalu mengetahui posisi kampus Baranangsiang, apalagi saya berasal dari Kendal yang baru pertama kali ke Kota Bogor.

Karena ketidaktahuan tersebut saya mengajak teman satu anak kelompok menginap di kos temannya di Baranangsiang. Celaka, teman saya juga lupa letak persis kos sesampainya di kota. Akhirnya kami tidur di Masjid Alumni Baranangsiang yang nyamuknya luar biasa banyak.

Esoknya ketika kami berkumpul di lapangan Barangsiang teman-teman heboh. Mereka mengira saya sakit beri-beri karena sekujur tubuh saya penuh dengan bentol-bentol merah bekas gigitan nyamuk. Saat masa perkenalan IPB kami di kelompok mahasiswa Kehutanan cenderung santai karena kami tahu yang melakukan ospek bukan senior kita dari Kehutanan. Bahkan kami berani menggoda para senior itu.

Panitia MPF angkatan E34 adalah dari angkatan E32. Pusat operasional kegiatan MPF dilaksanakan di kos Asrama Mahasiswa Tampan (Asmat) yang berada di Jalan Bateng. Hari pertama Ospek kami harus berjalan jongkok dari Grawida sampai di kawasan DAR, tempat ruang-ruang kuliah di dalam kampus. Kawasan DAR adalah areal pusat penyiksaan kami setiap hari. Berbagai tugas yang aneh-aneh harus kami kerjakan.

Puncak kegiatan MPF dilaksanakan di Gunung Walat. Di sini kami “dihajar” habis-habisan dan makan jengkol dan minum ramuan pasak bumi di pos terakhir. Saya yang tak suka jengkol susah payah menelannya.

Setelah selesai Ospek setiap malam kami menonton kegiatan Porseni antar Fakultas yang di laksanakan di gimnasium. Pertandingan paling seru adalah basket. Pada setiap pertandingan Fahutan lawan dengan tim Fakultas lain selalu diakhiri dengan tawuran, yang selalu dimenangkan mahasiswa Fahutan. Sampai pada akhirnya tim Basket Fahutan menjadi Juara.

Ulah itu membuat fakultas lain bersatu dan menyerbu kampus Fahutan yang sedang kosong karena jam istirahat kuliah. Saat itu, saya bersama sekitar sepuluh orang baru pulang kuliah TPB dari kampus Perikanan melewati kampus Fahutan. Kami lihat banyak sekali mahasiswa yang sedang demo di kampus Fahutan, tetapi kami terus jalan keluar. Sebelum sampai di pintu keluar kampus IPB , kami ketemu dengan sekitar 30 senior. “Kalian mau kemana?” kata Dendi Kurniawan dari angkatan 32. “Itu kampus diserang ayo balik lawan mereka.”

Akhirnya kami berlari ke arah kampus Fahutan kembali. Saat itu baru akan dimulai pembangunan kampus pertanian. Para senior meminta kami mengambil kayu-kayu yang dipakai proyek pembangunan. Kami masuk ke kampus Fahutan melalui arboretum secara menyebar dan masuk kerumunan pendemo.

Rupanya mereka mahasiswa baru yang tak saling kenal sesama mereka. Sebab ketika ada seorang Fahutan berteriak, “Yang bukan Fahutan menyingkir,” mereka bingung. Teriakan itu membuat kami tahu siapa saja yang menjadi pendemo. Maka dengan jumlah yang sedikit kami bisa memukul mundur mereka yang lari kocar-kacir.

Banyak korban yang berjatuhan dari mahasiswa lima fakultas tersebut, dari tulang patah sampai rahang retak. Tapi banyak juga fasilitas kampus Fahutan yang rusak, kaca pecah termasuk mobil dosen yang dirusak para penyerbu. Akhirnya kampus Fahutan bisa kami kuasai dan mahasiswa Kehutanan semakin banyak berkumpul di kampus.

Setelah berkumpul kami long mach keliling kampus Darmaga untuk sweeping mahasiswa lima fakultas penyerbu Fahutan. Sweeping berakhir di rektorat, karena ada kabar para mahasiswa penyerbu bersembunyi di sana. Saat mahasiswa masuk ke kompleks rektorat terdapat satu dosen yang coba menenangkan mahasiswa Fahutan yang sedang emosi.

Naas buat dosen tersebut kepala terkena lemparan batu sampai berdarah. Setelah sweeping di kampus, malamnya sweeping dilakukan di kos para penyerang, tapi ternyata para penyerang telah bersembunyi di kompleks militer di daerah Loji.

Kami mulai kuliah ketika ekonomi Indonesia mulai krisis moneter. Harga-harga naik dengan cepat. Salah satu kawan kami ada yang makan nasi dengan kuah saja karena tipisnya uang kiriman. Krisis yang makin parah membuat mahasiswa di Indonesia berdemo, kecuali mahasiswa IPB. Sampai-sampai senat mahasiswa IPB mendapat kiriman paket berisi pakai dalam perempuan.

Malu karena mendapat kiriman itu, sejumlah mahasiswa dari kos YYZ, Asmat, Alas Roban dan Seroja membentuk (Keluarga Mahasiswa) KM IPB untuk berdemo. Soalnya Senat Mahasiswa IPB tidak bergerak dan lebih condong mendukung Presiden Soeharto.

Saya yang waktu itu kos di Asmat akhirnya mengikuti demo awal di depan rektorat IPB. Hanya ada 30 orang mahasiswa membawa gitar dan menyanyikan lagu-lagu Slank. Rektor IPB Soleh Solahudin menyebut kami mahasiswa residivis.

Rupanya demo awal itu memantik mahasiswa lain melakukan hal serupa. Semakin hari semakin banyak hingga puncaknya perusakan kantor Senat Mahasiswa IPB. Mahasiswa menyatakan Senat dibubarkan karena tak punya sikap dalam gerakan mahasiswa.

Sebagai mahasiswa baru, tugas kami memobilisasi massa dari angkatan kami. Salah satu cara untuk mengumpulkan massa adalah dengan “mengusir” dosen yang akan mengajar di kelas. Kami katakan, “Maaf, pak, hari ini kami tidak ada kuliah karena akan demo.” Dosen paham dan setuju tak jadi mengajar dan hanya memberi tugas. Selain di kelas kami juga bertugas menjaga pintu masuk kampus, kami mengusir para mahasiswa yang akan masuk kuliah, kami katakan hari ini tidak ada kuliah karena kita akan berdemo.

Tahun 1998 demo mahasiswa semakin ramai. Saat demo besar bulan Mei 1999 di Kampus Baranangsiang kawan-kawan dari Fahutan meminta Dendi Kurniawan sebagai Ketua Senat Fahutan berorasi. Salah satu tema demo adalah penghapusan dwi fungsi ABRI. Saat para mahasiswa berteriak “Hapuskan Dwi Fungsi ABRI!” Dendy malah lari ke belakang barisan. “Kenapa lari, Den?”

“Bokapku kan anggota DPRD dari Fraksi ABRI. Lah kalau dwi fungsi ABRI dihapuskan nanti bokapku kerja apa?” kata Dendi. Semua tertawa karena tahu Dendi ketua senat yang suka ngocol.

Saat itu mulai kerusuhan di berbagai kota besar di Indonesia. Saat semua mahasiswa IPB berdemo di kampus IPB Baranangsiang, sekelompok massa yang berjumlah banyak berteriak-teriak agar mahasiswa IPB keluar dari kampus. Massa meminta agar massa dari IPB berdemo di jalanan saja. Tetapi saat itu mahasiswa IPB tidak terpancing keluar kampus. Rupanya mereka provokator yang hendak memancing mahasiswa keluar kampus untuk menjarah pertokoan.

Saat pendudukan DPR saya sedang diare. Di dalam gedung DPR rupanya ada posko dokter sehingga saya periksa ke sana. Untuk bisa masuk ke gedung DPR kami harus menunjukkan kartu mahasiswa. Tak lama setelah saya sampai di DPR, Soeharto mengumumkan mundur sebagai presiden. Kami semua bersorak. Ada juga yang naik ke atap gedung keong.

Beberapa jam kemudian, puluhan bus mahasiswa IPB datang. Mereka disambut dengan teriakan karena datang telat. Masuknya disambut marinir pula. Di dalam gedung DPR kami tukar menukar kancing jaket almamater dengan mahasiswa kampus lain. Mahasiswa IPB ada yang pulang ada yang bertahan. Saya termasuk yang bertahan.

Pada hari ketiga setelah Soeharto lengser, massa pendukung Presiden BJ Habibie dari Banten mulai ramai masuk gedung DPR. Bahan makanan yang tadinya berlimpah mulai berkurang dan kami mulai kelaparan. Farid Faqih, salah satu tokoh mahasiswa IPB, mengumpulkan kami dan mentraktir bakso di belakang gedung DPR. Dia mengatakan, anak IPB sebaiknya kembali ke Bogor karena gedung DPR sudah tak kondusif. Ada kemungkinan bentrok sesama pendemo.

Malamnya kami sampai di Bogor dan televisi mengabarkan tentara masuk gedung DPR menyisir mahasiswa yang bertahan. Di Kampus Fahutan sudah dibuka Posko Reformasi dengan bantuan dana cukup besar dari himpunan alumni.

Krisis makin mencekik. HAE lalu membuka dapur umum Malari, makan ala rimbawan. Awalnya gratis, tapi kemudian mahasiswa harus bayar Rp 1.000 untuk segala menu sepuasnya. Malari sangat membantu uang bekal mahasiswa yang menipis dan tak sanggup menjangkau harga-harga yang naik.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.