Laporan Utama | Juli-September 2018

Bajiguran: Don't Crack Under Pressure

Bajiguran angkatan 31 menjadi pengalaman paling mengesankan. Mengamalkan nilai-nilai Ospek dalam acara penutupan masa orientasi.

Rizki Pandu Permana

Sector Leader Agriculture SNV Indonesia.

INDONESIA membuka Asian Games 2018 dengan sebuah pagelaran kolosal yang mengundang decak kagum. Satu demi satu pertunjukan tampil secara spektakular dengan tidak memberikan ruang bagi penonton untuk menarik nafas. Setiap aspek dipersiapkan secara detil, mulai dari koreografi, busana, panggung, hingga tata lampu. Persiapan selama 1,5 tahun oleh ribuan anak negeri terbayar sudah. Semua orang memuji dan mengacungkan jempol 

Di depan televisi, pikiran saya terlempar pada sebuah momen 23 tahun yang lalu: Bajiguran.

“Puncak dari ospek dan program pembinaan kampus adalah bajiguran. Kalau mau ‘lulus’ dari pembinaan, bajiguran kalian harus sukses.”

“Kalian harus kreatif dan memberikan penampilan yang menghibur, keren dan tidak terlupakan untuk para senior dan dosen.”

“Jika senior tidak puas, mereka akan menekan, mencemooh dan, lebih parah lagi, mendaratkan makanan ke panggung.”

Bagi kami, para mahasiwa baru, yang baru saja mengalami ‘kerasnya’ Ospek dan berada di dalam program pembinaan kampus, semua ucapan itu tentu membuat senewen. Saat itu, kami harus bangun pagi-pagi buta, tidak boleh terlambat hadir di kelas, menyanyikan lagu-lagu Rimbawan, diharuskan menghafal semua nama teman-teman dan menjalankan semua program-program pembinaan. Teriakan-teriakan senior menjadi menu sarapan pagi, dan sesekali ditambah ‘sentuhan fisik’ jika melakukan kesalahan. Masa pembinaan juga membuat kata janc*k terdengar sangat familiar di kuping. Pembinaan kampus seperti itu saja sudah cukup membuat kami tertekan. Tambahan mempersiapkan bajiguran membuat hari-hari kami semakin melelahkan.

Sigit Pamungkas dan Hera Hendrasana diceburkan sebagai ketua panitia bajiguran. Kami semua wajib ikut memberikan tenaga dan pikiran. Kata ‘tidak mau terlibat’ tidak ada di dalam kamus kami saat itu. Bahkan jika ada yang dengan manja bilang “Saya bantu doa saja yaaa” niscaya akan diikat di pohon sengon besar di arboretum. Alhasil, semua orang, baik secara sukarela dan ‘terpaksa’, ikut terlibat dalam persiapan event akbar ini. Semua posisi dalam kepanitiaan langsung terisi: seksi acara, seksi konsumsi, seksi peralatan, seksi dokumentasi, bagian umum, pengisi acara, hingga bagian keamanan.

Dalam situasi penuh tekanan, ternyata jiwa seni dan kemampuan manajemen beberapa orang muncul ke permukaan. Banyak ide liar bermunculan dan hampir semua diakomodasi oleh Heru dan tim acara, kecuali ide tari perut yang ditolak mentah-mentah sejak awal.

Iwan Tricahyo Wibisono mengajukan ide brilian untuk memainkan lagu Hotel California dari The Eagles dengan menampilkan 10 orang gitaris. Tidak butuh waktu lama, para gitaris handal angkat 31 pun bermunculan. Sebagian di antaranya adalah perempuan, seperti Fitria, Virni, dan Amaliah. Dalam satu kali latihan mereka sudah bermain layaknya profesional.

Hardian (alm.) membuat skenario operet komedi Rama-Shinta. Berperan sebagai Rahwana yang kurus kering, ia sibuk tebar pesona mengejar Indra, sang Shinta. Rohasan memimpin paduan suara aqua layaknya Addie MS. Khaerudin, Aji dan Hendi muncul dengan ide parodi olahraga dan iklan yang tak kalah seru. Novi membawakan tari jaipongan dengan sangat luwes. Andi dan Kholid memainkan pantomim. Isti membawakan puisi. Yadi dan Rinaldi berkolaborasi dalam group dangdut Bang Rhoma, dan teman-teman lain membawakan atraksi-atraksi yang tak kalah menarik.

Latihan dibagi per kelompok. Semua memiliki tempat latihan masing-masing, mulai dari kos, taman rektorat, lapangan kornita, hingga danau dekat perpustakaan. Kami menyembunyikannya dari siapa pun, apalagi senior. Sebagian karena ingin menjadikan penampilannya sebagai kejutan. Sebagian lagi mengaku pemalu dan tidak sombong. Sisanya memang tidak percaya diri sama sekali. Maklum, tidak berjiwa pesohor.

Sebagian dari kami bertugas sebagai panitia persiapan. Seksi konsumsi sibuk mempersiapkan menu bagi para tamu. Bajigur, wedang jahe dan kopi menjadi minuman wajib. Makanan dipersiapkan dengan matang, seperti kacang, ubi, singkong, hingga pisang rebus. Kombinasi sempurna yang diharapkan mampu menyenangkan para tamu.

Seksi dekorasi sibuk membuat desain backdrop yang diperlukan. Vera sibuk mengumpulkan koran sebagai pengganti kain pembatas. Seksi perlengkapan, yang digawangi Hera, menghadirkan lampu disko bulat dan warna-warni layaknya diskotik di kawasan puncak. Sound system dipilih yang canggih. Kamera dan video dipersiapkan dengan rapi oleh Yayat, Gamma, Atar dan timnya. Seksi keamanan dipilih mereka yang berbadan besar, walaupun faktanya mereka juga tetap takut dengan senior.

Menjelang hari H, satu demi satu terkena sindrom demam panggung. Mual, mulas, kembung, deg-degan, dan masuk angin melanda. Bagaimana tidak, sebagian besar dari kami bahkan tidak pernah tampil untuk acara tujuh belasan di kampung. Hari itu, kami tampil dengan dandanan lengkap di hadapan ratusan orang yang butuh hiburan dan juga memiliki keahlian membuat ubi rebus terbang.

Oktober 1995. Malam itu pun tiba. Satu persatu senior dan dosen tiba di ruangan DAR 1. Ruangan kelas disulap menjadi panggung layaknya Djakarta Warehouse Project. Riuhnya suara senior, berbaur dengan kepulan asap rokok membuat degup jantung semakin kencang. Berdoa bersama menjadi penawar yang ampuh. Semua kekuatan dan keberanian kembali hadir. Kami siap. The show must go on.

Cerita selanjutnya adalah sebuah sejarah, setidaknya bagi kami. Rhoma Irama a.k.a Yadi Supyandi menghentak ruangan dengan lagu Judi dan langsung membuat penonton bergoyang, termasuk Prof. Ishemat Soerjanegara yang hadir menonton sang anak. Rombongan gitar akustik membuat ruangan semakin riuh dengan tepuk tangan. Parodi olah raga dan iklan mampu membuat suasana semakin cair. Lagu-lagu dan tarian membuat hati senang. Terbunuhnya Rahwana oleh Rama dan kembalinya sang pujaan hati menutup malam itu dengan manis. Tidak ada makanan terbang ataupun cemoohan hadir. Tidak ada drama yang berarti. Semua bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Kami resmi menjadi bagian dari Fakultas Kehutanan IPB.

Usaha memang tidak membohongi hasil. Kerja keras kami menjadikan bajiguran menjadi sebuah hal yang patut dikenang. Penampilan kami malam itu menjadi pembicaraan di kampus selama berhari-hari. Andai media sosial sudah ada, kami pasti sudah menjadi trending topic di twitter. Akun Facebook pasti akan banjir dengan tagging dan komentar. Beberapa kami mungkin akan menjadi viral dan menjadi selebgram dadakan. Follower pasti akan meningkat tajam.

Yang terpenting, kami mendapatkan banyak pembelajaran dari semua proses selama berbulan-bulan itu. Semua tekanan, emosi, ketakutan, amarah dan lelah yang dimiliki, ketika dihadapi secara bersama-sama ternyata mampu diubah menjadi sesuatu yang sangat positif. Semua energi negatif dan penderitaan kolektif itu bertransformasi menjadi hal-hal yang kreatif dan mampu membuat kami melakukan hal yang tak terbayangkan sebelumnya.

Bajiguran menjadi momen perekat bagi angkatan 31 dan membuat kami lebih kompak. Hubungan kekerabatan yang baik terjalin hingga bertahun-tahun setelahnya. Gotong royong pun menjadi bagian kehidupan kami selama masa kuliah, praktek lapangan di hutan, pertandingan olahraga antar fakultas, dan bahkan selama masa ujian. Harus diakui, resiliensi dan daya tahan kami di dunia bekerja pun berkat semua proses yang dilewati di kampus, termasuk bajiguran.

Pikiran saya kembali ke televisi. Saya tersenyum membayangkan wajah sumringah semua pengisi acara, para kreator di belakangnya, bahkan para pembuat panggung Asian Games yang spektakular. Kebahagiaan mereka pasti beratus-ratus kali lipat dari kami yang ‘hanya’ menyelenggarakan acara bajiguran. Namun saya percaya, rasa itu tak akan terlupakan hingga puluhan tahun ke depan. Seperti halnya saya, si Rama, dan juga semua teman-teman di angkatan 31.

Dipersembahkan bagi angkatan BAZIGUR 31. Salam hormat bagi sahabat-sahabat yang telah meninggalkan kami: Ricky Khrisna Panji, Hardian, Moh Atim Gumelar, Taju Solichin, Deni Ronalesa, dan Eka Prasetyo.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain