Laporan Utama | Juli-September 2018

Cinta yang Tak Terceritakan

Angkatan 30 ini membebaskan teman di “penjara” sampai gerakan sosial membantu sesama.

Ahmad Siddik Thoha

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara

INI kisah cinta yang tersimpan lama dan tak terceritakan. Ini tentang cinta pada sahabat. Dari cinta dalam bentuk bogem mentah sampai cinta bermuara di pelaminan. Banyak kisah yang tak yang sampai saat ini tersimpan. Ini beberapa fragmen yang membuat persahabatan, kekompakan, dan kebersamaan yang terus tumbuh di antara kami. 

Praktek Lapang yang Selalu Membawa Kelapangan

Sudah jamak bagi mahasiswa kehutanan, setiap liburan semester genap kami tidak pulang kampung karena harus tugas praktik lapang. Ada PUK, PUPH dan PKL. Itulah yang membuat kami jadi Bang Toyib, karena jarang pulang kampung pas liburan panjang. Apa yang kami dapatkan dari praktik lapang memang sebanding dengan pengorbanannya. Praktik lapang banyak mengubah jalan hidup kami, dari sempit menjadi lapang. Yang enggak dapat jodoh, mudah dapat jodoh. Yang hidup pas-pasan jadi “kaya” meski sementara. Yang sering minder jadi percaya diri Yang biasa rapi rambutnya, mulai suka gondrong (karena tak sempat pangkas).

Kelapangan lainnya, kami mendapat koneksi dengan para alumni yang sukses di berbagai tempat kerja. Kami juga dapat uang saku dari alumni yang bekerja di tempat kami praktik. Ada juga yang menawarkan anak stafnya untuk dijodohkan pada kami. Dari praktik lapang, banyak kisah cinta bermula dan sebagian sukses menjadi pasangan cinta sejati. Pasangan cinta yang bersumpah setia hingga nanti berjumpa di alam akhirat.

Misi Membebaskan Teman yang “Terpenjara”

Mahasiswa terpenjara, itu salah satu kebanggaan mereka. Biasanya mereka terpenjara oleh sebab menjadi aktivis pergerakan lalu ditangkap oleh aparat keamanan dan dimasukkan ke sel tahanan/penjara. Tapi ini penjara yang berbeda.

Nurdin Sulistiyono atau Inung adalah anggota Praktek Kerja Lapang (PKL) E30 wilayah Kalimantan Timur mengalami masuk penjara bukan di darat, tapi di laut. Mereka terpenjara kapal besar bernama UMSINI, yang membawa sekitar 50 mahasiswa PKL E30 dari Tanjung Priok ke Pelabuhan Balikpapan.

Selama tiga hari kami harus menikmati suasana sesak kapal besar yang melintasi Laut Jawa dan Selat Makasar. Ini pengalaman pertama naik kapal laut bagi saya dan juga hampir semua teman-teman PKL. Aturan-aturan sebagai penumpang di kapal laut tidak banyak yang paham, termasuk saya. Aturan yang satu ini bila dilanggar berakibat masuk ‘penjara’. Apa itu? Setiap kapal berangkat dari pelabuhan, penumpang harus menunjukkan tiket dan berada pada tempat sesuai yang tertera di tiket.  Ini dilakukan setiap hari khususnya saat kapal mulai berangkat dari pelabuhan pertama maupun pelabuhan transit. Bila kita punya tiket kelas ekonomi, maka kita tidak boleh berada di kelas lain. Nah bagaimana kalau saat kapal berangkat, kita ada di tempat lain dan tiket ketinggalan?

Terjadilah kehebohan pada rombongan PKL E30 Kalimantan Timur. Terjadilah Operasi Tangkap Tangan ala KPK (Komisi Pemeriksa Karcis) bagi penumpang gelap. Penumpang yang tertangkap tangan tak membawa tiket saat pemeriksaan diduga adalah penumpang gelap yang harus ditangkap. Nasib menimpa Inung.

Inung saat itu lagi keluyuran, main-main ke tempat teman lain yang bikin ‘base camp’. Maklum dari sekitar 50 orang mahasiswa yang memiliki tiket ekonomi, hanya sekitar belasan orang yang dapat tempat tidur di tempat normal. Sisanya, bertebaran di seluruh penjuru kapal. Ada teman-teman yang tidur di buritan kapal paling atas. Ada yang di mengumpul di lambung kanan dan lambung kiri. Saya saat itu tidur di lambung kanan kapal bersama beberapa teman, yang bisa memandang lautan lepas. Inung mampir ke tempat kami menginap.

Saat mulai pemeriksaan, Inung terlambat kembali ke tempat asalnya sehingga semua pintu sudah terkunci. Saat itu dia terjebak di tempat pemeriksaan tiket. Nah, tiket tak bisa ia tunjukkan hingga petugas pemeriksa membawanya ke kantor. Teman kami ini dibawa ke penjara sekuriti kapal. Dia ditahan beberapa saat di sana, sampai akhirnya datang teman kami Wiwid Widodo yang memberikan jaminan bahwa Inung bukan penumpang gelap, meski kulitnya memang gelap.

‘Berantem’ sebagai Bukti ‘Cinta’

Saat kami masuk di tahun terakhir kuliah, ada sebuah peristiwa menghebohkan di IPB. Saking hebohnya, kampus sempat diliburkan dari kegiatan akademik selama dua hari. Apa sebab? Di Kampus IPB Dramaga terjadi tawuran massal antara mahasiswa kehutanan dan gabungan Fakultas lain. Ada yang mengatakan ini buntut dari “kecemburuan” Fakultas lain karena mahasiswa Fahutan selalu mengintimidasi mahasiswa saat ada kompetisi olahraga tingkat mahasiswa.

Terjadilah aksi penyerangan yang sama sekali tidak pernah diduga mahasiswa Fahutan. Saat jam istirahat sekelompok mahasiswa menyerang kampus dengan cara melempari beberapa fasilitas kampus dan memukuli beberapa mahasiswa. Saat itu suasana sepi sehingga tidak ada perlawanan. Beberapa mahasiswa Fahutan yang melihat kejadian ini mengontak simpul-simpul markas anak Fahutan di asrama dan kos-kosan. Dalam waktu singkat, mahasiswa Fahutan mengepung kelompok penyerang yang rata-rata adalah mahasiswa baru.

Berhamburanlah mahasiswa penyerang kampus Fahutan ini. Beberapa mahasiswa fakultas lain terkena pukulan sampai masuk rumah sakit. Kelompok penyerang ini lari tunggang-langgang sampai ada yang mengungsi ke markas tentara karena mahasiswa Fahutan melakukan sweeping sampai ke tempat kos mereka.

Rektor Profesor Soleh Solahudin, langsung bertindak. Ia mengumpulkan semua ketua senat mahasiswa fakultas lain untuk datang ke Fahutan meminta maaf. Saya hadir saat pertemuan itu. Pak Rektor sempat emosi melihat beberapa senior Fahutan yang hadir angkat bicara agar rektor menindak tegas penyerang ini. Saya melihat banyak dosen hadir untuk memberi dukungan pada mahasiswa Fahutan. Beberapa alumni juga ikut hadir untuk memberi dukungan.

Inilah “cinta” dalam bentuk lain antar sesama rimbawan E. Cinta dalam bentuk soliditas. Kadang cinta tak selamanya disampaikan secara lembut. Tegas, keras dan harus beradu fisik adalah bentuk cinta mahasiswa Fahutan terhadap sesama dan almamaternya saat itu.

Gerakan Sosial Membantu Sesama

Sejak lulus, kami sering ngumpul bareng, tak sekedar reuni, tapi memikirkan nasib sesama. Kami memiliki beberapa teman yang perlu dibantu. Kami juga mendapati keluarga teman seangkatan meninggal dunia dan meninggalkan anak yatim. Kami bulatkan tekad menjadi pihak yang menanggung sebagian beban biaya hidupnya agar masa depan mereka tetap cerah secerah kami yang masih diberi kesempatan hidup lebih panjang.

Kami juga sering mengumpulkan bantuan untuk membantu korban bencana, membantu merehab rumah janda sebatang kara yang rumahnya tak layak, membantu komunitas yang membina anak-anak yatim untuk mendapat pembinaan di luar sekolahnya dan membantu teman dan keluarganya yang sangat membutuhkan uluran tangan. Doktrin ASIK bermuara pada jejak-jejak kebaikan yang ditorehkan oleh teman-teman. Kami memang sering berantem saat kuliah, tapi berantem yang membuat kami punya sikap saling peduli, bertanggungjawab dan menolong teman-teman kami dan masyarakat yang membutuhkan.

Sungguh ini adalah sebuah cinta dari beragam cara yang tak pernah terlupakan, tak lekang dimakan usia serta melintas batas tempat dan waktu.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.