Laporan Utama | Juli-September 2018

Piknik Bersama Lagi Setelah 25 Tahun

Angkatan 27 punya slogan P4: Pahutan Pamili Poreper Paham. Hobi piknik bareng sejak kuliah.

BUKAN tentang Pancasila, bukan kaitannya dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. P4 ini adalah cetusan nama untuk kumpulan mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB Angkaran 27. Kami masuk IPB tahun 1990 dengan kuliah tahun pertama di Tingkat Persiapan Bersama di kampus Baranangsiang. Baru pada tingkat II kami dijuruskan di fakultas di kampus Dramaga. 

Waktu itu baru ada tiga jurusan: Manajemen Hutan (MNH), Teknologi Hasil Hutan (THH) dan Konservasi Sumber Daya Hutan (KSH). Rasio mahasiswa 1:4. Artinya 1 perempuan diperebutkan oleh 4 laki-laki. Kelas “Menehe” didominasi mahasiswi termasuk kelompok Fahutan yang manis, sopan dan pintar. Kelas “Tehaha” didomisasi laki-laki yang macho, gagah, ganteng dan garang, walaupun terselip juga beberapa di antaranya mahasiswi yang tomboi. Sedangkan kelas “Kaesha” merupakan kumpulan yang jumlahnya imbang antara mahasiswa dan mahasiswi, rata-rata mereka berpenampilan nyentrik dan unik.

Tahun ke-2 di Fahutan IPB kami masih menjalani masa kuliah bersama, dipisahkan menjadi kelas A dan kelas B. Masa-masa kuliah kami dihabiskan di Ruang Kuliah DAR-1, DAR-2 dan DAR-3. Saat ini kondisi bangunan DAR itu sudah rata dengan tanah dan berganti menjadi Gedung Tanoto.

Hari-hari pertama kami di Fahutan dijalani dengan Ospek oleh kakak-kakak senior. Senior tinggal kelas menjuluki dirinya sebagai “RCD”. Rangkaian kegiatan OSPEK di sekitaran Arboretum dan Gunung Walat menjadi hari-hari yang berat bagi kami karena setiap hari harus kami habiskan dengan “digalaki” para senior itu. 

Tapi semuanya itu menjadi kenangan manis, berkat kegiatan OSPEK itu menjadikan kami selalu hormat dan segan kepada senior, “harus” kenal dengan baik kepada senior dan selalu menghargai sesama teman kami. Rasanya semangat care dan peduli itu sudah diajarkan dari awal kami menginjakkan kaki di Kampus Fahutan.

Pengelaman paling berkesan saat Ospek adalah ketika saya dipaksa makan jengkol atau petai mentah, dipaksa minum rendaman pasak bumi, dan makan permen yang digilir dari ujung ke ujung, dibedaki lumpur, lalu menangis karena dimarahi senior akibat salah mengeja kepanjangan RCD. Padahal saya sudah mengatakan RCD itu kependekan dari “recidivis”. Ternyata itu salah menurut senior.

Masa-masa kuliah adalah masa yang mengeratkan kami. Saya masih ingat ketika sekali waktu praktik di Gunung Walat. Bus yang membawa kami tak kuat menanjak dan remnya blong. Untung ada pohon di bawah yang menahan laju bus yang meluncur mundur.

Ujian Dendrologi juga sangat berkesan karena memakai ujian ketok. Kita harus mengamati daun lalu menuliskan nama lokal dan ilmiahnya dalam sepersekian detik. Tanda selesai adalah ketokan pengawas ke papan tulis yang keras. Karena daun harus dicium untuk mengenal jenisnya, daun-daun itu tinggal tangkainya yang tersisa untuk mahasiswa yang tiba giliran terakhir. Mungkin ada yang jail mencabuti daun-daun itu.

Lalu Praktik Umum ke areal Perhutani yang ada di  Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Sebulan kami melakukan praktik. Tinggal di rumah dinas Administrator dan Asisten Perhutanidalam kelompok-kelompok kecil (1 kelompok terdiri dari 5-6 orang).  Setiap hari kami mengikuti kegiatan kerja Bapak-bapak Perhutani ke lapangan dari mulai pembibitan, perawatan tanaman, pemanenan, tumpang sari, ternak lebah dan lain sebagainya. Sebulan kami tinggal menetap di rumah Asper atau ADM, diasuh, dirawat dan diberi makan layaknya anak sendiri.

Saat selesai PU itulah beberapa di antara kami menerima kabar yang menyedihkan karena harus “tinggal kelas”. Kenyataan pahit yang dialami sebagian dari teman-teman kami ini menyisakan luka mendalam, mereka mendapat julukan baru RCD, mereka kecewa karena 1-2 mata kuliah tidak lulus mengharuskan mereka mengulang kelas selama satu tahun penuh.

Pelampiasan kekecewaan mereka diarahkan kepada kegiatan Ospek mahasiswa baru. Demikianlah siklus tradisi “harus galakin junior” ini berulang terus setiap tahun.

Tahun ke-3 kami di Fahutan sudah mulai masuk ke Jurusan sesuai dengan pilihan kami masing-masing. Hari demi hari kami lalui dengan kesibukan kuliah, praktikum dan sebagainya. Kantin Kornita menjadi saksi bisu kami menghabiskan waktu istirahat kuliah. Waktu itu Kornita masih berantakan dan kursi ala kadarnya.  Tapi saat itu kami menikmati semuanya, jajan dalam kebersamaan yang tidak akan terlupakan bahkan mi ayam Kornita sampai sekarang masih jadi mi ayam terenak.

Di akhir tahun ke-3 kami semua harus menjalani tugas akhir berupa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dipusatkan pelaksanaannya di desa-desa yang ada di Provinsi Jawa Barat.  Tugas dan praktik mengamalkan  secara langsung ilmu-ilmu kuliah yang telah kami peroleh kepada masyarakat adalah tujuan utama dilaksanakannya KKN. Dua bulan kami lalui bersama dengan Tim Mahasiswa Gabungan dari Fakultas-fakultas lain di IPB.

Tahun ke 4 kami mulai dijuruskan sesuai bidang studi yang kami ambil. MNH memiliki bidang studi Perencanaan, Pembinaan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. THH memiliki bidang studi Pengolahan dan Pemanenan sedangkan KSH memiliki bidang studi Hidupan Liar, Eko-wisata dan Tanaman Obat. Dan di tahun ke-4 ini kami mulai disibukkan dengan tugas akhir berupa penelitian dan penyusunan skripsi.

Sebagai tugas akhir kami menjalani Praktik Kerja Lapang (PKL) di perusahaan HPH dan HTI yang berada di Pulau Sumatera.  Dua bulan kami lewati dengan melihat langsung praktik kerja pelaksanaan pengelolaan hutan alam dan hutan tanaman  hutan Jambi, hutan Riau, hutan Padang dan hutan di Pulau Mentawai.

Tanpa kami sadari setiap akhir pelaksanaan praktik lapang, kami E27 selalu “kabur” untuk curi waktu berinisiatif piknik sendiri ke lokasi-lokasi wisata terdekat tempat pelaksanaan praktik. Saat praktik di Jawa Timur, kami pelesir ke Bali dengan uang saku sekadarnya dan pulang nebeng bus yang kosong karena baru mengantar turis.

Ketika praktik di Jambi, kami ngabur ke Gunung Kerinci. Sialnya, bus ke sana bannya kempes dan tak ada ban serep. Akhirnya kami tidur semalam di aspal menunggu pagi. Sungguh pengalaman tak terlupakan. Dan menjadi tidak mengherankan jika semangat piknik itu terus membara sampai saat ini hingga menerbitkan istilah P4 itu.

Angkatan 27 rata-rata kuliah empat hingga lima tahun. Ada dua yang drop-out dan kualih terlama tujuh tahun. Sebagian memilih bekerja di luar Jawa (Sumatera dan Kalimantan), sebagian menjadi pegawai negeri sipil, sebagian menjadi konsultan, menjadi dosen, dan berwirausaha.

Yang istimewa adalah kami punya tujuh pasang keluarga karena menikah sesama teman angkatan. Mereka menjadi pasangan yang harmonis dan kian mengeratkan kebersamaan kami.

Setelah lama berpencar dan tak bertemu kami dipersatukan kembali oleh reuni perak pada 2015. Malamnya kami Bajiguran di Hotel Royal Juanda Bogor yang dihadiri 100 alumni yang datang dari seluruh Indonesia. Di acara itu kami membentuk pengurus Angkatan yang menjadi pemegang kendali untuk tetap menyatukan teman-teman dari berbagai profesi kerja supaya mereka tetap solid dan bersatu dalam keluarga Paguyuban P4.

Fokus utama P4 adalah kegiatan sosial. Setiap bulan kami menyisihkan rezeki untuk membantu uang saku anak-anak dari teman E-27 yang sudah meninggal dan juga membantu anak-anak di Panti Asuhan binaan salah satu teman E-27. Kami juga meneruskan kegiatan piknik sambil menanam. Beberapa kegiatan piknik dan tanam yang sudah dilakukan P4 adalah :

  1. Tanam ketapang di Kawasan Ekowisata Mangrove Karangsong – Indramayu yang dilakukan tanggal 5 Mei 2016
  2. Piknik dan edukasi cinta lingkungan di Sentul Eco Edu Tourism Forest (SEETF) – Sentul yang dilakukan tanggal 2-3 Januari 2016
  3. Tanam di KM 0,27 Hulu Sungai Ciliwung – Citamiang Puncak Bogor yang dilakukan 5-6 November 2016
  4. Tanam mangrove di Muara Gembong – Bekasi berkolaborasi dengan E-18 yang dilakukan tanggal 18 Februari 2018

Apa yang telah kami lakukan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota P4. Sampai-sampai Dekan Fakutas Kehutanan IPB Rinekso Soekmadi memberikan gelar kepada P4-E27 sebagai “Lokomotif Gerakan Tanam Alumni Fahutan IPB”. Fahutan memang ASIK.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.