Laporan Utama | Juli-September 2018

Seperti Kondom, Kami Saling Melindungi

Angkatan 25, angkatan pertama yang bergelar S.Hut karena Ir dihapuskan. Jumlah laki-laki dan perempuan nyaris sama.

R. Eko Tjahjono

Suka jalan-jalan sambil memotret

E-25 atau Angkatan 25 cepat akrab sebagai nama di benak semua mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB tahun 1988. Sebab waktu itu sedang terkenal merek alat kontrasepsi “Kondom Dua Lima”. Angkatan 25 juga unik karena baru kali itu komposisi jumlah mahasiswi dan mahasiswanya hampir sama. 

Komposisi ini sempat menjadi trending topic bagi sebagian anggota populasi mahasiswa Fahutan yang didominasi laki-laki. Fahutan itu seperti STM zaman dulu. Isinya cowok semua.

Status “Rimbawan Salon” juga pernah menancap kuat, bukan hanya karena banyaknya rimbawan pesolek (karna memang banyaknya populasi wanita), namun pada era itu berbagai kegiatan keluar kampus selalu mendapat fasilitas bus yang  lebih nyaman ketimbang truk bak terbuka seperti yang dialami para senior kami.

Saat itu kondisi kampus Darmaga masih semi terisolir, dengan hanya dihuni oleh tiga fakultas (Fahutan, Fateta dan Faperikan) serta satu jurusan Faperta (GMSK).  Menjadi popular bukanlah hal yang sulit bagi Fahutan, didukung dengan jalur trayek angkutan kota “Merdeka-Pahutan” yang membranding kampus Darmaga sebagai kampus Fahutan.

Bibit kebersamaan dalam internal angkatan 25 mulai tertanam sejak padatnya berbagai kejadian yang melibatkan kebersamaan aktivitas mahasiswa di luar lingkungan kampus; mulai dari Osma Gunung Walat, pembinaan mahasiswa RCD selama setahun, acara Rabuan dan Bajiguran hingga beragam kegiatan Praktek dan Kuliah Kerja Nyata.

Akhir masa perkuliahan E-25 juga ditutup dengan “kerut dahi” massal, akibat dihapuskannya gelar Insinyur dan menjadi S.Hut, yang terpampang di dalam ijazah kelulusan. Lagi-lagi rasa itu tanpa disadari membangun ke-ASIK-an tersendiri.

Nama angkatan kami adalah Edulish. Ini adalah nama tanaman buah sejenis salak yang sangat digandrungi banyak orang, membentuk sebuah kerumunan dan tidak terlalu merepotkan, menggambarkan sebuah kecocokan karakter dengan kerumunan alumni Angkatan 25 Fahutan IPB.

Nama Edulish yang diinisialkan sebagai nama bagi angkatan 25, diawali dari riungan kecil bersama Kang Boen Purnama,  hingga akhirnya menjadi payung nama yang menaungi ikatan persaudaraan alumni Fakultas Kehutanan IPB angkatan 25,  termasuk di dalamnya para senior yang memutuskan kuliah bersama dengan E25.

Edulish terlahir sebagai sebuah kebutuhan akan “rumah tinggal” untuk berkumpul bersama, bertukar rasa, dan membangkitkan kenangan masa muda dalam dinamika memasuki masa tua. Kata Harmonis dan Sejahtera dalam inisiasi nama Edulish lebih dimaknai sebagai keselarasan dalam membangun ikatan persaudaraan yang mengedepankan kesadaran dan keikhlasan untuk tiba pada sebuah capaian sejahtera batin.

Kang Suhendro A Bashori, adalah orang pertama yang secara musyawarah ditunjuk sebagai Ketua sejak berdirinya Edulish di tahun 2013. Melakukan sosialisasi dalam membangun kembali hubungan komunikasi antar alumni  E25 yang tersebar di seantero bumi, ditempuh dengan sabar dan perlahan di tengah kesibukannya sebagai abdi negara di institusi kehutanan. 

Pola menjaring informasi  lewat anggota menjadi satu basis yang akhirnya mampu mempertemukan lebih dari 150 alumni E25 hingga saat ini.  Media Sosial menjadi sarana penunjang yang sangat efektif.

Kualitas pertemuan antar alumni E25 semakin meningkat dengan sendirinya.  Meja-meja riungan kecil antar alumni E25 selalu meramaikan tayangan foto-foto di media sosial khususnya pada setiap akhir pekan.  Rasa bangga menayangkan foto bertajuk “Ngopi Bareng” di tiap acara di seantero Indonesia, tanpa disadari adalah buah yang dipetik dari “gemblengan” ala Edulish.  Rasa Bangga dapat bercengkerama  dengan teman sesama alumni E25 adalah sebuah capaian, dari mimpi yang selama ini dibangun.

Bogor dan Jakarta selalu menjadi basis pertemuan baik sekedar silaturahmi maupun dalam membahas acara-acara kecil untuk kemaslahatan.  Edulish tidak membutuhkan kantor, karena dia bukan organisasi yang sarat tata aturan apalagi sanksi.  Tak ubahnya seperti Organisasi Tanpa Bentuk, Edulish mampu memutar roda komunitasnya kapan saja dan dimana saja.  Media Sosial dijadikan  kanal terakhir bagi berlangsungnya putusan yang melibatkan komunitas alumni E25.

Halal bi halal saat Idul Fitri dikemas sebagai puncak pertemuan kecil alumni yang terjadi di sepanjang tahun.  Tausiah, makan dan musik adalah menu hidangan utama dalam acara yang bertajuk Halal bi halal.

Piala Bergilir Mantu, menjadi salah satu kegaduhan di tengah pesta pernikahan bagi anggota Edulish yang menikahkan anaknya. Mampu mendampingi pernikahan anak adalah sebuah kebahagiaan yang ingin dirasakan oleh seluruh orang tua yang sudah bersusah payah mendidik dan membesarkan anaknya.  Piala Bergilir adalah sebuah media berempati  yang mendorong kehadiran Edulish untuk menyerahkannya pada hari perhelatan acara pernikahan tersebut.

Edulish hidup dan dihidupi oleh seluruh anggotanya.  Sumbangan rutin sebesar Rp, 25.000 per anggota per bulan tidak dikeluhkan sebagai bentuk kewajiban. bahkan ia sudah menjadi semacam sinyal kepada komunitas bahwa “dirinya masih ada untuk Edulish”.

Saat ini Edulish dipimpin oleh kang Bambang Tri Sasongkoadi menggantikan pendahulunya. Terpilih secara musyawarah. Dia mulai memimpin Edulish pada jejak fondasi keharmonisan yang sudah terbangun sebelumnya.  Pergantian ketua Edulish tidak dibangun dengan ketetapan tata waktu dan target penyelesaian program.  Barangsiapa suka dan ikhlas menjadi ketua maka ia pasti akan mendapat restu dari seluruh anggota Edulish untuk dipilih.

Satu manuver penting yang mulai dijalankan oleh “rezim Bambang” adalah merealisasikan mimpi Edulish dalam membantu meringankan biaya pendidikan putra putri Edulish yang telah yatim atau yatim piatu, melalui sebuah Program Beasiswa Edulish.

Beasiswa Edulish dilakukan dengan membantu meringankan beban biaya pendidikan bagi putra-putri Edulish hingga ia dapat menyelesaikan program sarjananya,  atas seizin ibunya.  Biaya bantuan pendidikan di serahkan rutin pada setiap awal bulan dengan nilai yang beragam sesuai  tingkatan pendidikannya.  Beasiswa pendidikan juga disalurkan untuk kebutuhan biaya penunjang pendidikan lain di luar rutin bulanan, seperti biaya ujian, biaya buku, biaya praktik dan sejenisnya. 

Beasiswa Edulish dibangun dan dibesarkan oleh sepenuhnya peran anggota, yang secara bersama-sama memberikan bantuan sukarela baik dalam bentuk sumbangan yang disepakati rutin bulanan maupun temporer.  Hingga dua tahun berjalannya program, telah mampu membiayai delapan anak yatim Edulish dengan beragam tingkatan yaitu  2 anak SD, 2 anak SMP, 2 anak SMA dan 2 anak yang sedang Kuliah S1.

Satu harapan besar bahwa,  dengan berjalannya program Beasiswa Edulish,  kelak saat mereka dewasa akan tumbuh rasa kebanggaan mereka kepada orang tuanya yang pernah menjadi bagian dari sebuah ikatan persaudaraan sejati yaitu Edulish. Di Edulish kami saling melindungi.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.