Laporan Utama | Juli-September 2018

Kenangan Lama di Dramaga Plaza

Angkatan ini punya prinsip: jika tak dilarang, lakukanlah.

Adrian Bestari

Angkatan 23

KALA itu, 1986, ribuan wajah berseri datang dari seantero negeri, berbondong menginjak kota Bogor dengan tujuan sama. Menjadi maha cantrik perguruan tinggi ternama, Institut Pertanian Bogor, angkatan dua tiga (23). 

Tiga bulan pertama, para ‘cantrik‘ jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), mengikuti ‘matrikulasi’ dengan mengunyah tuntas Fisika, Kimia, dan Matematika, lanjut 2 semester berikutnya, bersama insan 23 jalur tes pada kelas Tingkat Persiapan Bersama (TPB), menyantap 10 mata kuliah dalam tahun ajaran (TA) 1986/1987.

Di akhir semester terkabarkan beberapa harus meninggalkan IPB. Sedih. Sebagian lagi masih harus memperdalam di TPB, sementara sebagian besar telah bersiap menuju Fakultas  pilihannya. September 1987, para pemilih Fakultas Kehutanan, Fakultas ‘E’, harus rela meninggalkan hiruk pikuk Kota Bogor, berpindah menuju kesunyian pelosok Kampus Dramaga.

Kampus Dramaga, kala itu sedang dalam pengembangan. Beberapa gedung baru dibangun, dan membiarkan bangunan lama. Sudah menjadi nasib mahacantrik Kehutanan, dapatlah kuliah di gedung tua lama. Lengkap sudah. Sepi dan tua.

Gedung berlantai dua itu memang paling tua dibandingkan gedung Dekanat fakultas lainnya.  Namun ketuaannya tak memperlihatkan kerentaan. Pilarnya tampak kokoh, dikelilingi berpuluh pohon menjulang. Arboretum di depan, dan gerombolan pohon karet di belakang. Pun demikian di gedung perkuliahan, ruang DAR (Darmaga) 1 dan 2. Ocehan satwa liar, lambaian tajuk rimba, berbaur celotehan cantrik-cantrik penelisik fakta, berpadu mendendangkan simponi Hai Perwira Rimba Raya. Senyatanya, kampus Fahutan itu kokoh, asri juga ramai.

September 2017, calon rimbawan E23 memulai pergumulannya. Tidak ada angkatan 23 yang tidak pernah menginjak pelataran Dramaga Plaza. Setelah Arboretum, yang penuh nyamuk itu, Dramaga Plaza adalah tempat misterius kedua tempat para calon rimbawan digodok menjadi rimbawan sejati.

Tempat itu mengingatkan setiap insan E23 pada bentakan pertama, pada kepasrahan yang mulai menjalar menjadi bagian pelajaran akademis dan hidup sebagai rimbawan. Yang tidak pernah push-up akan merasakan push up yang baik dan benar, yang cantik akan memperoleh komentar, demikian juga yang gagah dan berdada bidang. Semua diuji, semua memperoleh kenikmatan menjadi calon rimbawan.

Dramaga Plaza juga menjadi pusat Bimasakti semua kegiatan para calon rimbawan, sentra memamerkan diri atau malah menjadi bulan-bulanan cemoohan.

Para gadis E23, yang dilarang membawa payung saat panas terik maupun hujan lebat, sering melenggang dengan manis di pelataran itu. Berjalan dengan tatapan menyerbu dari seratusan pasang mata, yang mengintip di sela-sela celotehan dan terbahak tawa dari segerombolan pemuda berdada rata.

Tentu saja, tidak semua anggota populasi diwakili oleh mereka. Ada juga yang duduk manis, menundukkan wajah di bawah kerudung. Ada yang serius mendiskusikan tugas-tugas kuliah dan praktikum. Tak sedikit yang berbual-bual soal masa depan; soal menjadi rimbawan impian para mertua. 

Tempat itu dapat dilukiskan dalam bait-bait sederhana berikut ini:

Dramaga Plaza
asuntana/E23

Tidak ada duanya di dunia
Tidak kentara wujudnya
Tiada garis batas
Luput tiang pancang pembeda

Dramaga Plaza

Lapang misterius rimbawan muda

Wadah tumpah ruah pengelelana remaja tua

Panggung eskpresi rimba raya

Rupa kejadian terpapar dalam hamparan batu batanya

Dengusan amarah

Lenguhan putus asa

Lengkingan agung suara tarzan kota

Gelegar tawa

Rampak gelisah akhir tahun ajaran

Di sana lah insan hutan belajar berkacak pinggang
Atau, terbungkuk dengan statistik dan ilmu tanah
Menggaruk kepala tidak percaya atas dasar-dasar ilmu inventarisasi
Menjambak rambut; sebal pada dendrologi dan geodesi

Tak ada tanding
Tiada banding
Saat lewat ujian semesteran
Luapan kesal mengalun buncah
Derap suara sopran dan tenor mengulum udara
Lolongan khas rimbawan
Menyingkirkan gairah nyaman rekan mahasiswa tetangga

Dramaga Plaza
Terpatri dalam dada wisudawan

Terpaku dalam jubah kesadaran
Perekat hati pada lambaian puncak kanopi arboretum

Pemadu serasi lorong tengah kebun karet
Dramaga Plaza
Bagai titik nol bagi jalan tembus penuh misteri
Awal mula koridor babakan raya
Lorong rahasia penuh cinta

--------
Buat para penikmat lorong kebun karet
Buat yang mengharu biru di gelapnya D-1 & D-2 saat hujan menggebrak
Untuk setiap jiwa yang pernah nongkrong di Dramaga Plaza
Salam kangen.....
Walikukun, awal Juni 2010
---------

Ruang kuliah Dramaga?
Ruang itu berjejer berjumlah dua, terbagi dengan sempurna, sejak zaman entah angkatan berapa
Baris depan hanya untuk kaum terhormat: RCD
[Katanya sih singkatan dari “Renstitut Certanian Dogor”; sebuah singkatan serius, sebuah proklamasi yang ada di setiap dada penghuninya] 

Kapur?
Betul, pembaca. Kapur tulis!!
Kapur yang bisa patah menjadi dua, yang sering dilempar oleh dosen ketika meminta kita menjawab soal statistik (di depan kelas), atau dilempar dengan keras karena marah kepada mahasiswa (baca: mahasiswi perlu dikecualikan dari populasi yang kena marah. Entah kenapa). 

Walau kami masuk generasi Y, kami masih dalam suasana serba alami. Semua peralatan kuliah dibangun dari hasil bumi negeri sendiri: Papan tulis, kapur tulis, OHP dan plastik paparan, penghapus, dan tentu saja bangku-bangku kuliah. Semua asli. Kadang tidak dipoles dengan pernis.

Tidak ada Air Conditioner, jangan tanya tentang cahaya lampu benderang. Jika hujan, lampu kelas sering mati, membuat peluang bagi kami ngobrol di pelataran ruang kelas, saling lirik dengan kelas tetangga. Kami dibagi dalam kelas A dan B.

 Kegiatan larak-lirik ini hanya bisa terjadi jika kalangan elite RCD tidak sedang bersemangat “beinteraksi” dengan kami. Jika mereka bersemangat, niscaya kuliah tentang ilmu kehidupan dipapar dengan lugas dan tegas (maksudnya ditambah dengan bentakan dan cubitan halus).

Anak-anak asrama merupakan kaum elite kedua. Mereka gundul, kecuali asrama putri dan sering terlihat mengantuk di kelas. Kalau datang mereka bergerombol, pulang juga begerombol. Ada tiga asrama hebat yang dihuni E23 di Dramaga: Sylva Lestari, Sylvasari, dan APD.

Mungkin asrama APD yang terlihat asri. Namun sulit untuk dikunjungi.

Penjagaan begitu berlapis. Ada dua asrama lelaki yang mengapitnya dengan serius.

APD ibarat sarang Sotong (cattle fish). Hanya lelaki gagah berani yang berkunjung.

Kaum kelas tiga adalah yang tinggal di Babakan Tengah dan sekitarnya. Kaum inilah yang menguasai setiap lorong gang di Babakan. Kaum yang mengasosiasikan diri dengan nama-nama yang sama sekali tidak mirip dengan kosa kata kerimbawanan. Ada Baristar, Wismo Ayu. Mereka berhimpun dalam ikatan senasib sepenanggungan.

Suasana kebatinannya, sebetulnya, hampir sama, baik saling membantu dalam hal finansial, akademik, maupun dalam cinta.

Ketiga kaum ini berbaur dan menyublim dengan erat, terutama saat-saat membela panji kebesaran Fahutan. Baik di arena olah raga, arena berkesenian, organisasi kemahasiswaan[1],  atau arena yang lebih galak semacam “operasi biru”. 

Saat operasi biru ini tuntas, setiap berdiskusi dengan pimpinan IPB, beberapa mahasiswa Fahutan dipanggil dengan sebutan: “Kepala Suku”. Sebuah sebutan yang dimaksudkan untuk mengejek, namun membuat kami bangga sebagai warga FAHUTAN.

Jangan tanya soal prestasi. Angkatan 23 berjibun prestasinya. Jangan pula menghubungkan status RCD dengan kehidupan cinta para anggotanya. Mengharukan, bo.

Bagaimana dengan “dewan jenggot”? Kaum ini sangat santun dan konsisten. Bertemu secara rutin di masjid kampus dan masjid kampung. Hal yang sama dapat dilihat dari E23 yang beragama Nasrani, Katolik, Hindu, dan Budha. Mereka kaum khusyuk dengan segala dinamikanya.

Ada satu frasa yang dikenalkan oleh Dr. Yahya Fakuara, yang kelihatannya melekat erat dengan E23: “Jika tidak dilarang, lakukanlah”. Frasa ini mewarnai degup kegiatan kampus anak E23. Kegiatan terasa lebih beragam, berwarna, dan bergairah.

Apa pun julukannya, dari mana pun asalnya, semangat pergumulan menelisik ilmu hutan dan kehutanan terus membara. Mewarnai hari-hari sang rimbawan, gelar yang sempat disematkan di keheningan Gunung Walat, hutan pendidikan. Juga menguak kegagahan rimba dalam PU/PKL di belantara Jawa. Hinggalah tiap insan E23 layak menyandang sarjananya.

Saat ini, sebagian besar warga sudah menjadi Lolita, telah “lolos lima puluh tahun”. Berbagai profesi dilakoni, menyebar di seantero nusantara, atau manca negara, bersama keluarga tercinta. Memang belasan tahun telah meninggalkan bangku Dramaga, namun semangat, persahabatan, dan keceriaan E23 rasa tak lekang oleh usia. Silaturahmi dijalin di dunia maya juga nyata. Diwarnainya dengan nilai-nilai kebaikan hamba: diskusi profesi, mengaji, beasiswa keluarga E23, juga aktivitas kemanusiaan lainnya.  Berharap saling menguatkan keluarga insan E23, kapan pun, di mana pun.

Beberapa kawan telah menghadap Sang Causa Prima. Semoga rahmat Allah menyertainya.

Menjadi teladan ke mana kita akan melangkah, setelah hiruk-pikuk dunia tak lagi bermakna. Selamat melanjutkan perjalanan kawan.

Luluk Setyaningsih dan Asep Sugih Suntana

[1] Senat Mahasiswa IPB, Lawalata, GEMA Koran kampus IPB, Sylva Indonesia, AFSA, dan IFSA.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Kabar Baru

    Cinta Lingkungan di Masa Pandemi

    Pandemi bisa menjadi kesempatan lebih ramah lingkungan. Dimulai dari cara kita memproduksi dan mengolah sampah rumah tangga.

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.