Laporan Utama | Juli-September 2018

Fahutan Bikin Saya Hobi Naik Gunung

Acap praktik di hutan membuat keterusan jadi hobi. Kompak sampai kawinan. Kisah angkatan 17.

Tjipta Purwita

Angkatan 17

SAYA alumni Fakultas Kehutanan IPB yang lulus pada hari Jumat, 21 September 1984, merupakan lulusan tercepat Angkatan 17, menempuh studi empat tahun kurang dua bulan. Sesuatu yang tidak lazim saat itu karena selama ini Fahutan IPB dikenal tidak mudah meluluskan mahasiswanya. Saya bekerja sama sangat baik dengan dosen pembimbing saya, Profesor Surjono Surjokusumo, MSF dan Dr. Ir. T.R. Mardikanto, MS), sehingga saya merasa sangat nyaman untuk menyelesaikan tugas akhir penyusunan skripsi. 

Begitu lulus saya masih berkecimpung di kampus membantu Prof. Surjono menyelesaikan berbagai kegiatan proyek kerja sama antara Fahutan IPB dengan berbagai lembaga (Kementerian Kehutanan, Kementerian PU, Pemda DKI, dan banyak lagi). Selain jadi banyak relasi karena diajak oleh Prof Surjono berkenalan dengan Ketua APKINDO (Mohammad Hasan atau Bob Hasan), dengan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (Haryo Sabrang), dengan Ketua Ikatan Konsultan Perencana Konstruksi (Wiratman Wangsadinata, yang belakangan dikenal sebagai profesor yang merancang Jembatan Selat Sunda), dengan Wagub DKI Jaya (Bunyamin Ramto yang ahli tata-kota) maupun dengan pejabat di Kementerian Kehutanan. Tapi yang terpenting saya masih punya waktu luang menyalurkan hobi naik gunung.

Ketika mahasiswa, saat akhir pekan saya manfaatkan waktunya untuk jalan-jalan ke gunung atau hiking ke hutan bersama adik-adik tingkat mahasiswa yang lebih yunior. Waktu itu saya baru saja kos di Asrama Baristar punya pak Tholib di Babakan Tengah, dekat Gedong Seng, depan kebun karet, menempati kamar mungil ukuran 2 x 3 m. Kamar saya persis di pinggir jalan, udaranya sangat panas karena beratapkan seng, serta agak pengap. Padahal sebelumnya saya tinggal di Asrama Sylvasari dengan kamar yang relatif luas dan sirkulasi udara yang bagus.

Kalau saja saya bersikap cuek, saya bisa saja memperpanjang tinggal di Asrama Sylvasari, wong saya Ketua Asrama. Tetapi karena saya menerapkan aturan yang keras agar penghuni asrama harus keluar begitu selesai kuliah, saya konsekuen begitu lulus sehari kemudian saya hengkang dari Sylvasari. Rupanya kos di Baristan ada untungnya juga, gampang disamper adik kelas untuk naik gunung.

Tiap Jumat malam, pintu kamar digedor adik-adik tingkat, termasuk Musdhalifah yang sekarang menjadi Deputi Menko Perekonomian) dan spontan saya diajak naik gunung atau kemping ke Selabintana, Gunung Bunder, Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, dan sebagainya. Saya dengan ringan kaki langsung saja ikut naik ke atas truk yang diparkir di samping kamar saya dan larut bersama para junior.

Karena memang suka jalan-jalan, pada saat menjadi Ketua Dies Natalis Asrama Sylvasari tahun 1982, saya memelopori Lomba Lintas Alam (Giriwana Rally) yang diikuti mahasiswa seluruh Fakultas yang ada di  IPB dan para pelajar, Pramuka, Pecinta Alam se Kabupaten Bogor, memperebutkan piala bergilir Bupati Bogor. Alhamdulillah kegiatan ini sukses membawa nama harum asrama Sylvasari di kalangan masyarakat Bogor. Saya mengulang lagi kesuksesan seperti ini, ketika saya harus hengkang bekerja di Irian Jaya (Tanah Papua). Di Jayapura, saya berhasil mempelopori Lomba Lintas Alam (Giriwana Rally) memperebutkan piala bergilir Gubernur KDH Propinsi Irian Jaya, Izaak Hindom & Barnabas Suebu dan Pimpinan Saka Wanabhakti Tingkat Nasional Ir. Soedjono Soerjo. Kegiatan ini berhasil menghangatkan generasi muda Papua untuk berlomba sambil melakukan penghijauan di lahan-lahan kritis milik masyarakat.

Hobi jalan-jalan terus dibawa kemana pun saya bertugas, baik di Irian Jaya, di Sulawesi Tengah, di Kalimantan Timur, di Jakarta, di Sumatera Selatan, hingga kini usia saya sudah tidak muda lagi. Ketika anak-anak mulai beranjak dewasa, saya mulai tanamkan juga kecintaan terhadap alam ciptaan Tuhan. Anak saya yang pertama, Citra Mahardhika Suci Ayuningtyas Purwita, meninggal ketika masih kecil. Sedangkan anak saya yang nomor dua, Puspa Diva Nur Aqmarina Purwita dan anak saya nomor tiga, Muhammad Belva al Kautsar Purwita, punya hobi jalan-jalan seperti saya.

Puspa, kuliah S1 di Fakultas Kehutanan IPB dan melanjutkan S2 di Sekolah Bisnis ITB, adalah pecinta alam anggota Rimpala, Rimbawan Pencinta Alam Fahutan. Sedangkan Belva di Sekolah Tinggi Telkom Ketua Saladewa. Alhamdulillah kami bertiga punya hobi, sehingga kami menjadi tim yang kompak. Tiap tahun di liburan Idul Fitri, kami mencoba untuk membuat program mendaki gunung dan menikmati keindahan alam Indonesia. Kami punya obsesi, dengan naik gunung dan kembali ke alam, saya maupun anak-anak menjadi peka untuk selalu bersikap  tawadhu karena merasakan betapa keagungan Allah SWT.

Alumni  Fahutan IPB Angkatan 17 beranggotakan lebih dari 180-an orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Awalnya keaktifan para alumninya dihimpun dalam wadah organisasi tanpa bentuk, namun lambat-laut terbentuk organisasi sederhana yang disebut Tublas-E, singkatan dari “Alumni Angkatan Tujuh Belas E (Fahutan IPB)”. Saya jadi Ketua Tublas-E, dibantu Bedjo Santoso dan Soemarto (Penasehat), Djati Witjaksono Hadi (Sekretaris), Bendahara (Ida Mardjono dan Zulfanifestri), serta Seksi Usaha (Soetji Rahayu, Ully Budiwanto, Dhini Ananda Azwar, Retno Sawitri, dan Timbul Batubara).

Beberapa kegiatan Tublas-E yang telah rutin berjalan adalah :

  • Memberikan santunan/kepedulian kepada keluarga teman-teman yang berpulang mendahului kita, seperti Arief Tandju, Rif’an, dan Nirwan Djaelani, dan lain-lain. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian kepada sesama alumni.
  • Aktif dalam setiap acara Hari Pulang Kampus (HAPKA). Bahkan berhasil mengusung alumni terbaik (saudara Soemarto) menjadi Ketua Himpunan Alumni IPB periode 2009-2012 berpasangan dengan Bambang Hendroyono (Sekjen HA-E) menggantikan Ir Wandoyo Siswanto, MSc saat HAPKA di Gunung Walat.
  • Silaturahmi dalam acara pernikahan anak-anak alumni Fahutan IPB Angkatan 17 dengan penyerahan piala bergilir Tublas-E.
  • Melakukan aktivitas “go-green”, seperti: (1) Pulau Seribu “go-green” (menanam mangrove di Pulau Seribu) tahun 2010 ; (2) Pulau Dewata “go-green” (tanam mangrove di pantai Sanur) tahun 2011; (3) Danau Toba “go-green” tahun 2012; (4) Gunung Bromo “go-green” Malang tahun 2013; (5) Minangkabau “go-green” (Bukittinggi-Payakumbuh) tahun 2014; (6). Tour ke Singapura dan Johor tahun 2015; (7). Tour de Lampung tahun 2016; (8). Tour de Jogja tahun 2018. Insya Allah akan dilanjutkan dengan Bengkulu “Go-green” atau Tour de Bengkulu pada tahun 2019 mendatang.
  • Usai melakukan “Pulau Seribu Go Green”, dibentuk sebuah Yayasan yang disebut “Tublas E-Plus” pada tanggal 23 September 2010.
  • Melakukan kegiatan arisan rutin setiap bulan, di mana bagi pemenangnya (empat orang tiap kali kocokan) dipungut biaya Rp 100.000,- untuk konsumsi dan sisanya dikumpulkan untuk menambah pendanaan “go-green”.
  • Kegiatan lain yang bersifat produktif lainnya.

Tublas-E membuat  statuta sederhana yang mengatur kegiatan sosial sebagai-berikut :

  • Bagi anggota yang meninggal-dunia diberikan karangan bunga duka-cita dan uang duka sebesar Rp 1.000.000,-
  • Bagi yang mengawinkan anak diberikan karangan bunga dan piala bergilir.
  • Bagi anggota yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit, diberikan dana santunan sebesar Rp 2.000.000,-
  • Bagi anak dari keluarga Anggota Tublas-E yang telah meninggal, diberikan bantuan beasiswa yang nilainya disesuaikan dengan kemampuan kas organisasi.

ASET HIMPUNAN :

  • Memiliki aset tanah di Garut Selatan dengan nilai perolehan sebesar Rp 92.5 juta seluas 5 hektar.
  • Dana abadi dan dana usaha sebagai modal untuk aktivitas social dan aktivitas usaha produktif.
  • Share modal pada penambangan pasir dan penanaman.

HARAPAN KE DEPAN  :

  • Tublas-E kelak tetap berkembang sebagai wadah untuk membangun kebersamaan Alumni Fahutan IPB Angkatan 17 yang sebagian anggotanya sudah mulai memasuki masa purnatugas. Meskipun sudah purna-tugas, tetapi kami tetap bertekad memberikan sumbangsih tenaga maupun pemikiran, serta bantuan moral maupun material, kepada almamater Fahutan IPB tercinta. Jayalah almamater kita!

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.