Laporan Utama | Juli-September 2018

Gemuruh Angkatan 1980

Inisiator pendirian Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan yang memelopori pendirian rumah limbah.

Untung S. Andriyanto

Angkatan 16

ALUMNI Fakultas Kehutanan E-16 masuk ke Institut Pertanian Bogor pada tahun 1979, ketika rektor dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution. Pada saat SLTA kelas 3, angkatan kami mengalami perubahan awal tahun ajaran dari semula bulan Januari menjadi bulan Juni seperti saat ini. Akibatnya kami lulus dari SLTA molor dari biasanya 3 tahun menjadi 3,5 tahun. 

Angkatan kami masuk Fahutan IPB pada tahun 1980, sehingga kami menyebut angkatan kami di Fahutan adalah FAHUTAN 1980, bergabung dengan alumni Fahutan IPB E-15 yang “recidivis” atau RCD alias tak naik kelas.  Saat itu, Wakil Dekan III bidang kemahasiswaan dijabat Kang Dudung Darusman.

Semasa Kuliah
Cerita OSMA E-16 yang masih kami ingat adalah ketika Kang Hadi Daryanto (E-14) memberi perintah kepada kami yang ternyata perintah tersebut salah atau sengaja disalahkan. Lalu beliau meminta menghapus perintah tersebut dari ingatan kami, sambil kami diminta menggosok kening dengan menyebutkan “setip”, yang artinya penghapus pensil. Hal itu dilakukan beberapa kali, sehingga sampai sekarang, Kang Hadi Daryanto mendapat julukan “Hadi Setip”.

Salah satu mata kuliah yang menjadi momok adalah Dendrologi asuhan Cahyono Samingan, M.Sc. Ujian praktikum di laboratorium Dendrologi, sering membuyarkan ingatan para alumni, setiap adanya ketukan penggaris kayu di atas meja, yang berarti saatnya kita harus berpindah meja untuk mengingat nama spesies daun, genus, dan familinya. Beberapa alumni terpaksa tinggal kelas menjadi RCD.

Saat itu ada tiga asrama mahasiswa, Sylva Lestari, Sylvasari ,dan Asrama Putri Darmaga (APD).  Kloter pertama yang menjadi penghuni Asrama Sylva Lestari mendapat julukan Catam alias Calon Tamtama. Saat ini, alumni Asrama Sylva Lestari disebut dengan Slaner yang mempunyai cita-cita bersama untuk membangun replika Asrama Sylva Lestari. Semoga segera terwujud.

Di sela-sela kuliah, Cahyo Wibowo mencetuskan kegiatan Jalan Kaki Sehat (JKS) yang lestari sampai saat ini. Rute yang sering dilalui, kalau tidak salah, Gunung Kapur Ciampea. Salah satu alumnus E-16 yang terpilih menjadi Ketua Senat Fahutan IPB adalah Imam Harmain Aziz Pulungan yang memenangi persaingan dengan Ketua BPM Fahutan IPB, yaitu Yanto Santosa.

Tidak mau kalah dengan kegiatan Himpunan Mahasiswa Agronomi (HIMAGRON), para alumni Jurusan Teknologi Hasil Hutan mendirikan Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan (HIMASILTAN) dengan Ketua Umum pertamanya saya sendiri. Berkat bimbingan Prof. Dr. Ir. Suryono Suryokusumo, HIMASILTAN saat itu berhasil membangun prototype Rumah Limbah yang sebagian besar panelnya terbuat dari limbah kayu. 

Selanjutnya, para alumni Jurusan Manajemen Hutan menghidupkan kembali Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan yang bernama Forest Management Student Club (FMSC) yang sempat dorman alias vacuum kepengurusan selama beberapa tahun. Saat itu, alumnus E-16 yang menjadi ketua umumnya adalah Agus Djoko Ismanto (Kumincir). Kabarnya sampai saat ini belum ada pemilihan Ketua Umum FMSC lagi.

Setelah Lulus Kuliah
Alumni E-16 mulai belajar bekerja, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Walaupun sampai saat ini belum ada yang jadi Presiden RI, seperti Joko Widodo dari Fakultas Kehutanan UGM, ternyata ada beberapa alumni E-16 yang pernah menjadi teman sekerjanya Presiden Jokowi, yaitu Teguh Monyet dan Syueb Abuhanifah, sewaktu bekerja di PT Kertas Kraft Aceh (Persero) di Provinsi Aceh tempo dulu.

Berkat prakarsa alumnus E-16, pada periode tahun 1993-2000, telah dikembangkan Sistem Informasi Alumni Fahutan IPB (SIMONAL) yang berbasis database komputer.  Kantor Pusatnya pernah di Kampus Fahutan IPB. Tampaknya, dengan adanya aplikasi berbasis Android/iOS seperti Go-jek dan Grab, saat ini perlu dikembangkan lagi SIMONAL ini. Dengan adanya aplikasi SIMONAL ini, mak setiap alumni Fahutan IPB nantinya dapat mengunduhnya via Google PlayStore atau App Store. Saya usul untuk memasukkan fitur Sistem Manajemen Petak (SMP) 100 hektare pada aplikasi tersebut.

Pada tahun 2006, berkumpul 16 alumni E-16 di Manggala Wanabhakti untuk mendirikan Yayasan e-Gemuruh 16 dengan nama resmi Yayasan Enambelas Gemuruh Fahutan yang berkedudukan di Kampus Fahutan IPB Darmaga Bogor.  Sebagai Ketua Dewan Pembinanya adalah Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana. 

Yayasan Enambelas Gemuruh Fahutan telah tercantum pada Berita Negara/Tambahan Berita Negara Republik Indonesia dengan #17115, No.BN 46, No.TBN 549, Tahun Terbit 2007.  Untuk jelasnya, dapat diakses link: https://goo.gl/FYmMGg tentang Yayasan tersebut 

Alumni E-16 telah memiliki Lagu Mars Gemuruh dengan teks yang dapat disimak pada artikel “ASAL USUL SLOGAN ASIK”.  Lagu ini dapat di-download via link: https://goo.gl/HTvjnp untuk bisa diperdengarkan.

Salah satu prestasi yang membanggakan sebagai Rimbawan adalah telah ditanamnya hutan Jati di Surade oleh alumni E-16 bersama alumni Fahutan IPB lainnya.

Imam Harmain Aziz Pulungan yang merupakan alumnus E-16 pernah menjabat Wakil Ketua Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (PERSAKI) Periode 1999-2002. Pada masa kepengurusannya, dihasilkan Deklarasi Cangkuang yang terkenal sampai saat ini sejak tanggal 4 November 1999.  Saat ini, beliau masih menjadi Ketua Ikatan Alumni TPB IPB Angkatan Gemuruh 16+ (lintas Fakultas di IPB khusus angkatan 16+) dan Ketua Fahutan 1980 (yang diangkat via grup WhatsApp FAHUTAN 1980).

Tanpa mengurangi penghargaan penulis atas segudang prestasi alumni E-16 (karena keterbatasan pengetahuan), alumni E-16 yang telah mendapat Profesor di IPB, yaitu:  Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, Prof. Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA.  Profesor di Universitas Mulawarman, yaitu: Prof. Dir. Ir. Edy Budiarso. Profesor di Universitas Lambung Mangkurat, yaitu:  Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Sundjoto, M.Sc. Profesor di Universiti Putra Malaysia, yaitu:  Prof. Dr. Ir. Edi Suhaemi Bakar, M.Sc.

Alumni E-16 yang pernah menjabat Direktur di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, yaitu: Ir. M. Awriya Ibrahim, M.Sc., Dr. Ir. Dwi Sudharto, dan Ir. Raffles Brostestes Panjaitan, M.Sc.

Alumni E-16 yang pernah menjabat direksi di Perhutani, yaitu: Dr. Ir. Achmad Fachrodji (sekarang menjabat Direktur Utama Balai Pustaka) dan Ir. Teguh Hadi Siswanto, Direktur Utama PT Inhutani I Dr. Ir. Irsyal Yasman dan Direktur Utama PT Inhutani III Dr. Ir. Bambang Widyantoro, MMA.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.