Laporan Utama | Juli-September 2018

Selamat dari Sergapan Maling

Pengalaman tinggal di asrama putri Dramaga dari angkatan 13. Dikunci di dalam kamar oleh senior dan disantroni maling.

Euis Fatimah

Angkatan 13

KESAN pertama tiba di Bogor akhir Desember 1975 menyenangkan. Kotanya indah, asri, sejuk, aman dan damai. Waktu kuliah di Tingkat Persiapan Bersama suasananya tenang, aman, nyaman, santai, fokus, total, sehat, selamat, alhamdulillah bisa lanjut Semester 4, memilih Fakultas Kehutanan. Kondisi dan situasi kuliah di TPB  di Kampus IPB Baranangsiang, Gunung Gede, dan Taman Kencana sangat kondusif, dengan fasilitas perkuliahan dan penunjangnya yang lengkap seperti perpustakaan, kantin dan musala. Begitu juga dengan aspek penunjang lainnya, seperti teman kuliah, tempat kos, angkutan umum dari tempat kos ke kampus tempat kuliah.

Alhamdulillah selama TPB sehat, karena sejak tinggal di Sempur pagi-pagi sarapan lengkap. Jam10.00 ada kue dan minum susu/kacang hijau di kantin, makan siang di kantin dan makan malam lengkap di kos. Karena orang tua saya di Tasikmalaya, ayah saya lebih tenang kalau saya tinggal di rumah dinas wakil Kepala Telkom Bogor di Jl. Sempur No12A. Wakil Kepala Telkom itu namanya Bapak Utom. Sayang berjalan sekitar 9 bulan Pak Utom mutasi ke Cianjur.

Alhamdulillah Asrama Putri IPB Baranangsiang terima saya sampai akhir Semester 2. Selanjutnya melalui undian saya diterima lagi di Asrama Putri IPB Baranangsiang sampai akhir Semester 3, kemudian mulai Semester 4 sampai lulus dari Fahutan IPB, saya tinggal di Asrama Putri Kehutanan di Darmaga.

Pertama masuk Asrama Putri Kehutanan (APK) terasa sepi karena lokasinya jauh dari permukiman tetangga. Nama angkatan 13 adalah Astagian. Astagian Kehutanan yang masuk APK tahun 1977 bertiga, yaitu saya, Indarwati, dan Tinj. Sundari. Sebelumnya sudah ada penghuni senior yaitu mbak Yeni, Berta, Anna, Harmini, Yetti, Upi dan Ade.

Begitu masuk APK, kami digembleng oleh penghuni senior agar bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di asrama. Penggemblengan meliputi pembentukan karakter positif, antara lain agar disiplin, rajin, terampil, tanggung jawab, dan tangguh.

Ada pengalaman yang mendebarkan yaitu ketika saya dan Indarwati baru pulang dari kuliah, kunci pintu masih tergantung di bagian pintu luar. Ada senior yang iseng mengunci kami dari luar sehingga kami tidak bisa keluar lewat pintu. Untung saat itu jendela belum diberi teralis, sehingga kami bisa keluar lewat jendela. Sejak saat itu, setiap kami sampai di dalam kamar mesti menutup pintu dan mengunci diri dari dalam. Kami mesti bisa melaksanakan bersih-bersih terutama di kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang TV, dan halaman luar. Kami juga mesti bisa mengelola anggaran yang dikumpulkan dari penghuni untuk menyediakan keperluan sehari-hari.

Ada satu kejadian lain yang membuat saya trauma. Waktu itu saya dan Indarwati dapat kamar di belakang, pojok kanan, di luar halaman kamar tidak ada penerangan lampu. Karena Indarwati sering tidur di rumah saudaranya di kota Bogor (dia jarang tidur di asrama), otomatis saya tidur sendirian di kamar.

Pada suatu malam saya merasa enggak enak tidur di kamar sendiri. Akhirnya saya mengungsi ke kamar di pojok kiri (tempat Rina dan Ayu), tapi di sebelah halaman luar ada penerangan yang cukup dan masih bisa kelihatan oleh tetangga sebelah kiri. Setelah saya berada di dalam kamar Rina dan Ayu, tengah malam ada bunyi ribut-ribut. Ternyata ada pencuri yang mencungkil jendera kamar saya yang saya tinggalkan. Lemari yang berisi barang-barang milik saya dan Indarwati diobrak-abrik oleh pencuri.

Selain itu, karena pencuri mau masuk ke ruang dapur, pencuri membongkar kunci pintu kamar saya, sehingga bisa ke dapur untuk ambil air minum. Barang-barang saya yang dicuri dari kamar adalah radio dan jam tangan. Akhirnya pencuri pulang lewat jendela yang dicungkil tadi. Hikmah dari kejadian ini, saya selamat karena mengungsi ke kamar Rina dan Ayu, lalu jendela kamar saya dipasang teralis dan di halaman luar kamar diberi penerangan yang cukup. 

Kesan saya selama menjadi mahasiswa Fahutan adalah mereka itu kompak, banyak canda dan cewawakan. Tetapi, kalo mau ujian pada sepi, sibuk kasak kusuk pinjam catatan kuliah teman yg rajin. Meski terkesan liar, mahasiswa Fahutan mengasyikan dan tidak ada kasus mengerikan seperti IPDN dan Pelayaran.

Ketika kuliah Rektor IPB dijabat Profesor A.M Satari, lulusan Fahutan juga. Dilanjutkan oleh Profesor Andi Hakim Nasution.

Daftar Anggota Astagian:

  1. E13003 Ahmad Husen
  2. E13006 Ruslan
    3. E13026 Efransjah
    4.E13036 Sugeng P. Herianto
    5. E13049 Tutuy Guntara
    6. E13066 Budi Prayitno

7.E13092 Jajat Jatnika Holil

8.E13109 Aas Widya

9.E13113 Adam Sukmara

10.E13122 Deddy Yuniadi

11.E13132 Euis Fatimah

12.E13137 Tri Djoko Sujono

13.E13191 Antung Deddy Radiansyah

14.E13193 Nyoman Silanawa

15.E13199 Zainal Abidin Martadireja

16.E13206 Lisman Sumardjani

  1. E13225 Endang Suhendang

18.E13229 Samuel Panggabean

19.E13261 Setyobudi Handayani

20.E13264 Indarwati

21.E13271 Ashari Haryanto

22.E13272 M.D.Kusnandar

23.E13331 I Nyoman Yuliarsana

24.E14342 Gatot Basuki Sarosa

25.E13344 Rusydi

26.E13403 Anto Rimbawanto

27.E13407 Hasan Supriyatna

28.E13412 Saeful Rachman

29.E13413 Tini Sundari

  1. E13418 Fairus Mulia

31.E13422 Ramon Janis

32.E13424 Syaiful Ramadhan

33.E13454 Herry Prijono

34.E13457 Aan Chandra

35.E13486 Mulia Adidjaja

36.E13489 Elias

37.E13506 Bambang Eko Subiantoro 38.E13508 Kurnianto

39.E13523 H.M.R. Soedradjad

40.E13530 Mochamad As'ari

41.E13534 Triwarno Saputro

42.E13545 Achmad Bachtiar.

Pada mulanya Astagian Fahutan yang masuk IPB ada 42 orang, yang masih hidup 35 orang. Penghuni Asrama Putri Kehutanan mulai dari E0-E17. Dari 42 Astagian Fahutan IPB s/d th sekarang yg sudah meninggal 7 orang:

1.Achmad Bachtiar

2.Jajat Jatnika Holil

3.Kurnianto

4.Ramon Janis

5.Samuel Panggabean

6.Setyobudi Handayani

7.Triwarno Saputro.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.