Laporan Utama | Juli-September 2018

Mimpi-Mimpi Menjadi Sarjana Kehutanan

Kuliah dan ospek telah menempa mereka menjadi rimbawan. Persaudaraan dan kedekatan tak menjadi alas mengejar karier setelah lulus.

Iman Santoso

Angkatan 10

MUNGKIN sebagian besar dari kami, yang sekarang menjadi alumni angkatan E10 Fakultas Kehutanan IPB, tidak begitu peduli dan sadar bahwa mendaftar dan diterima menjadi mahasiswa IPB pada tahun 1973 sebetulnya merupakan taruhan besar. Bayangkan, waktu itu banyak yang bertanya kepada kenapa enggak pilih Fakultas Kedokteran UI, Teknik Sipil atau Arsitektur ITB, atau Kehutanan dan Pertanian UGM, yang pada waktu itu menjadi idola remaja?

Saya yakin, sebagian besar kami waktu itu, tidak sadar bahwa masa depan kami menjadi taruhan besar, karena belum ada contoh tokoh Sarjana Kehutanan yang dijadikan idola para lulusan SMA.

Dari Cepu, Jawa Tengah, ada tiga orang yang masuk ke Fahutan IPB. Bagaikan three musketeer yang masuk ke Bogor, yaitu Murdiyarso, Beta Putranto, dan Bambang Trimulyo (Alm). Mungkin mereka membayangkan nanti sebagai Sarjana Kehutanan akan menjadi Administratur Perum Perhutani karena di Cepu jabatan ini kelihatan gagah dan keren dan sejahtera.

Begitu juga bagi rekan kami, Ali Arsyad dan Yusuf Sudarmanto dari Bojonegoro. Mereka mungkin membayangkan kelak akan menjadi orang hebat seperti Administratur Perhutani Bojonegoro. Demikian pula kawan-kawan dari Jawa Timur seperti Subaktyanu, Mudjihanto, Sujarwo dan Herry Isharyanto memilih Fahutan IPB karena terinspirasi oleh kehidupan para pejabat Perhutani Jawa Timur yang tenterem ayem -gemah ripah loh jinawi.  Namun patut diduga juga bahwa kawan-kawan dari Cianjur, seperti Sunaryo, Bubung, dan Herry Siswanto tidak terinspirasi oleh beras Cianjur sehingga mereka memilih masuk ke Fahutan IPB. 

Sementara kawan-kawan dari Jakarta seperti Ade Srihadiati, Muhamad Hidayat (alm) dan Robert Samosir (Alm) tidak mendaftar ke Fahutan IPB karena mencintai biodiversity dan ingin menggeluti emisi karbon dari hutan, karena isu-isu tersebut belum populer di tahun 1970an. Entah apa alasan mereka.

Jadi pertanyaannya adalah: ngapain kami masuk Fahutan IPB? Bagi sebagian dari kami pertanyaan itu tidak begitu penting untuk dijawab, yang penting menjadi mahasiswa dulu dan nanti insya Allah akan menjadi sarjana kebanggaan orang tua kami di kampung. 

Jadi begitulah, pokoknya saat itu hati kami merasa mantap dan tidak ragu menjadi mahasiswa baru di IPB. Mungkin karena pada waktu diterima oleh Tim Penerimaan Mahasiswa Baru IPB kami mendapat banyak gambaran yang menyenangkan dan menjanjikan dari Tim Penerimaan Mahasiswa Baru, seperti bapak drh. Palawaruka, Ir. Iding Padlinurjaji, dan Ir. Chaerul Muluk.  

Atau mungkin juga karena kami pada waktu itu baru menikmati euforia kebebasan dari kekangan orang tua, walaupun tetap dibatasi oleh uang kiriman bulanan via pos wesel yang pas-pasan, hal yang mungkin tidak pernah dialami oleh kawan-kawan asli Bogor seperti Wahyu Surya, Sablin Yusuf, Yuanto Ismu dan Deddy Supriadi yang masih tinggal di rumah bersama orang tua mereka. Yang jelas pada waktu itu kami merasa tertantang untuk bisa sukses menjadi sarjana, tentang nanti setelah lulus mau ke mana dan jadi apa kumaha ngke bae lah! 

Menjadi mahasiswa IPB di Bogor
Bagi mahasiswa perantau, menjejakkan kaki pertama di Bogor pasti sedikit mengalami gegar budaya (cultural shock). Bayangkan, sebagai remaja yang masih di usia puber harus terpapar dengan perbedaan kultural dan cuaca, belum lagi harus mengelola uang kiriman yang pas-pasan. Namun dengan mengikuti Pekan Orientasi Mahasiswa (POSMA) selama seminggu kami merasa sangat menghibur meskipun tidak jarang membuat jengkel.  Yang jelas POSMA bagi kami benar-benar mengorientasikan kami ke lingkungan dan kehidupan baru, dengan harapan tidak canggung menjadi orang Bogor dan tidak kaget dengan guncangan-guncangan lainnya nanti.

Gegar budaya lain yang kami alami adalah di perkuliahan tiga semester pertama yang disebut sebagai periode matrikulasi. Kami menjadi super sibuk dengan agenda akademik, dan merasa dicuci otak melalui kuliah-kuliah Fisika, Matematika, Kalkulus, Biologi, Ekonomi dan Bahasa Indonesia karena ilmu-ilmu yang telah kami pelajari semasa SMA ternyata tidak seperti yang kami bayangkan setelah menjalani program ini. 

Setiap Sabtu pagi sampai sore kami harus mengikuti kuis yang membuat kami tidak boleh lengah dalam mengikuti setiap kuliah di hari-hari sebelumnya. Ditambah lagi dengan pekerjaan rumah berupa laporan praktikum Fisika, Kimia, dan Biologi yang tiap akhir minggu harus dipersiapkan dan harus dikumpulkan minggu berikutnya. Pokoknya menjadi mahasiswa IPB di tiga semester pertama penuh dengan stress, karena harus selalu fokus pada perkuliahan, sehingga tidak sempat pacaran dan bersenang-senang. Itu tidak terbayangkan sebelumnya.

Menjadi orang hutan di kebun karet
Bagi mereka yang telah bisa melewati program matrikulasi, baik yang langsung lulus maupun yang harus tinggal kelas (recidivis/RCD) akan melanjutkan perjalanan akademiknya ke Fahutan di Kampus Dramaga. Di tahap ini kami sudah kehilangan beberapa kawan. Mmereka terpaksa harus meninggalkan IPB karena secara akademik dipersilakan untuk mencari perguruan tinggi lainnya. Sadis memang sistem yang ada saat itu.

Di tahap ini kami juga mengalami sensasi baru, karena harus tinggal di Asrama Silva Lestari, Sylva Sari, dan Asrama Putri Kehutanan yang dikelilingi kebun karet. Jadi kami dipersiapkan menjadi “orang hutan”, di habitat yang bukan hutan dengan gizi asrama yang pas-pasan juga. Tapi semuanya kami rasakan sebagai hal yang menyenangkan  

Di tahap kehidupan ini kami sudah agak bisa mengatur ritme biologis dan akademis setelah tertempa program matrikulasi. Di sela-sela perkuliahan, ujian-ujian, serta membuat laporan dan makalah yang waktu itu masih menggunakan mesin ketik, kami sempat meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan non-kurikuler seperti olah raga, bermusik, dan mengadakan pesta-pesta asrama dengan mengundang pacar dan kenalan lainnya, terutama siswi-siswi SMA Bogor. 

Kehidupan asrama benar-benar telah menempa jiwa korsa dan kesetia-kawanan kami, dan memupuk persaudaraan meskipun setelah lulus kami berpisah dan tersebar di berbagai wilayah.

Antara Integritas dan Kekerabatan
Meskipun kekerabatan atau persaudaraan antar kami sangat terpupuk sewaktu menjalani pendidikan dan di asrama, ternyata komitmen terhadap hal-hal yang baik dan benar tetap terjaga mengalahkan keinginan lain yang kurang benar. Semangat untuk mencari dan memberi yang terbaik tidak dapat dikalahkan dengan semangat “perkoncoan” di lingkungan kerja. Kekerabatan dan persaudaraan tidak selalu kami artikan sebagai peluang untuk melakukan praktik-praktik nepotisme. Kami tetap mengusahakan yang terbaik menurut jalan kami masing-masing, dengan tetap menghormati, menghargai, dan selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan bersama.

 Bagi sebagian orang hal ini mungkin bisa dianggap sebagai a-sosial atau kurang kompak, namun bagi kami ini merupakan nilai (value) yang perlu dijaga. Integritas bagi kami tidak harus menghalangi persaudaraan. Prinsip saling asah, saling asih, dan saling asuh terus berjalan dengan tepat dan menyenangkan. Bagi kami semangat yang keliru akan membuahkan hal-hal yang keliru pula. Mencari yang terbaik bukan berarti harus menghalalkan semua cara, karena cara-cara lain selalu tersedia untuk mencapai kebaikan-kebaikan yang lain. 

Alhamdulillah kami yang tersebar di banyak tempat kerja, dan di berbagai posisi telah selesai menjalankan tugas sebagai rimbawan dengan baik dan selamat. Dan persaudaraan di antara E-Sapuluh masih terjaga. Setiap kumpul reuni selalu kami isi dengan keceriaan dan kemesraan, sambil mengingat serta berdoa untuk mereka yang telah mendahului kami.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.