Laporan Utama | Juli-September 2018

Shinting Tapi Romantis

Angkatan 7 ini menjadi inisiator pendirian Forest Management Student Club. Tingkat persiapan seperti “the killing field”.

Boen Mochtar Purnama

Pensiun dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

ANGKATAN 7 yang masuk Institut Pertanian Bogor tahun 1970, punya nama Shintaro. Nama ini terinspirasi oleh tokoh pendekar pedang dalam film Jepang yang saat ini lagi on banget. Kebetulan salah seorang teman angkatan 1970 yang bernama Effendi Sirait diberi julukan Shintaro oleh para senior yang menjadi panitia Mapram (Masa Pra Mahasiswa) dan diharuskan selalu berteriak “Ciaaat ciaaat” setiap kali namanya dipanggil, sambil mengibas-ngibaskan tongkat (pura-puranya pedang) yang diwajibkan dibawa setiap hari selama masa Mapram. 

Shintaro sendiri singkatan dari “Seuntai Tali Rotan” sebagai indikasi bahwa kami adalah mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB yang sejati. Nama Shintaro pun bisa diartikan sebagai “Shinting Tapi Romantis”. Singkatan terakhir ini yang lebih disenangi, karena lebih mencerminkan watak mahasiswa E7 yang baik hati. 

Selain di Mapram kami pun harus mengikuti acara kemping yang merupakan ritual penggojlokan sebelum resmi ditahbiskan sebagai mahasiswa kehutanan. Ini acara khas Fakultas Kehutanan dan mesti diikuti oleh mahasiswa baru. Acaranya Fahutan banget. Penuh dengan kekerasan dalam semangat solidaritas persaudaraan dan jiwa korsa yang tinggi.

Camping angkatan Shintaro diselenggarakan di Selagombong, KPH Bandung Utara di tengah hutan pinus dan cuaca yang teramat dingin terutama di malam hari. Banyak ritual yang harus dilalui, apel di pagi buta dan diceburkan ke kolam, mandi air bekas cucian piring, mandi lumpur, berdialog dengan bukit berjajar menghadap bukit untuk kencing bersama. Menyeramkan, menjengkelkan, tapi sekaligus menyenangkan dan mampu membangun kebersamaan antar junior dan antar junior dengan senior.

Pada saat awal kuliah, jumlah kami terdaftar sebanyak 58, terdiri dari 56 mahasiswa dan hanya dua mahasiswi, itu pun yang satu meninggalkan IPB pada semester ke dua kembali ke Punten, Malang. Konon kabarnya beliau lebih memilih untuk menjadi bidan dari pada rimbawati. Tidak jelas alasannya. Diduga teman-teman mahasiswanya yang egaliter sebagai penyebab mundurnya yang bersangkutan. Alhamdulillah, satu orang mahasiswi terus lanjut dan lulus dari IPB.

Selain berasal dari pelosok Indonesia, banyak mahasiswa yang berasal dari Malaysia, dua mahasiswa di antaranya mengambil Fakultas Kehutanan. Sayang keduanya tidak menyelesaikan kuliahnya di IPB. Salah seorang dari mereka berkabar telah menjadi Polisi Diraja Malaysia.

Pada saat bersamaan kami pun kuliah bersama teman-teman mahasiswa afiliasi dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) dan Universitas Patimura (Unpati).  Selain ada rasa internasional juga membuat jaringan Shintaro menjadi luas.

Tahun 1970 di IPB dilaksanakan Program Pendidikan Sarjana 6 tahun yang terdiri dari dua tahun tingkat Persiapan (P1 dan P2), kemudian dua tahun tingkat Sarjana Muda (SM1 dan SM2) dan dua tahun terakhir tingkat Sarjana (S1 dan S2).

Tingkat Persiapan (P1 dan P2) merupakan tingkat persiapan bersama di mana kami kuliah bergabung dengan mahasiswa dari fakultas lain di IPB. Selama dua tahun pertama kami berkuliah di Baranangsiang dan Aula Gunung Gede.

Tingkat Persiapan ini merupakan “the killing field”, karena banyak yang dibuat tepar oleh pelajaran Kimia An-Organik dan Botani. Inilah yang ikut menjelaskan mengapa dari 58 orang hanya 21 yang mampu menyelesaikan kuliahnya di IPB.

Di antara teman-teman yang keluar, banyak yang meneruskan di perguruan tinggi lain seperti Unpad, ITB, UNMUL dan ternyata kebanyakan dari mereka berhasil menjadi sarjana. IPB memang angker!

Salah satu mata pelajaran yang jadi favorit angkatan E7 adalah bahasa Inggris. Dosennya Pak Arudji Suwaro, MA alias Pak Tjik almarhum yang sarjana linguistik Inggris lulusan Yale Universitas, AS. Selama dua semester kami memperoleh pelajaran bahasa Inggris. Topik favoritnya adalah “Forest Motto” dan karena sering diulang, saat itu hampir semua mahasiswa hafal moto tersebut: “Forest motto. Thou shalt inherit the holy earth as a faithfull steward conserving its resources and productivity from generation to generation... dst”.

Yang unik dari beliau adalah kebiasaannya yang selalu meminta mahasiswa membaca secara bergilir “Forest Motto” tersebut di muka kelas. Beliau segera meneriakkan kata: “cukup!” bila mahasiswa tersebut bacaannya (pronounciation) dianggap kurang baik.

Angkatan Shintaro pada umumnya tersebar di bidang Kehutanan, baik di pemerintahan seperti di lingkup Departemen Kehutanan baik di Direktorat Jenderal dan Sekretariat Jenderal juga di Dinas Kehutanan. Sebagian di BUMN (Perhutani dan Inhutani), lembaga pendidikan dan penelitian Departemen Kehutanan maupun di perguruan tinggi (IPB, UNMUL dan UNB). Seorang menjadi Kepala SKMA di Riau, empat orang menjadi profesor di perguruan tinggi (IPB, UNMUL) dan lembaga riset (FORDA).  Hanya sedikit yang bekerja di sektor swasta termasuk swasta non-kehutanan.

Tanggal 25 Desember 1974, Angkatan E7 menginisiasi terbentuknya Forest Management Student Club (FMSC). Awalnya kami menamakan Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan (HMMH), tapi karena terasa kurang mendunia, akhirnya dipilih nama FMSC. Organisasi nirlaba ini diketuai Sutaryo Surya Mihardja, salah satu tokoh Shintaro.

FMSC mendapat pujian dari almarhum Bapak Sjafii Manan (dosen Silvikultur, DAS)  yang amat memperhatikan kegiatan ilmiah mahasiswa jurusan Manajemen Hutan. Waktu itu FMSC sempat menerbitkan publikasi dua bulanan. Sayang kegiatannya timbul tenggelam.

Pengalaman melakukan cruising sewaktu Praktek Umum di hutan jati di Jawa memberi kenangan tersendiri. Pihak Seksi Perencanaan Hutan (SPH) menugasi mahasiswa praktik untuk melakukan checking cruising dengan intensitas 10 persen pada blok yang akan ditebang. Ternyata hasil cruising memberi  angka potensi yang lebih besar daripada volume yang diperoleh oleh tim manajemen.

Timbul “keriuhan” waktu hasil itu disajikan. Tapi karena metode sampling yang digunakan dan hasil cruising disampaikan secara meyakinkan, pihak SPH meminta kepada manajemen untuk memperbaiki hasil estimasi mereka sesuai dengan kesimpulan tim mahasiswa. Ada ketidakenakan pada kami, karena “dianggap” membuka praktik yang tidak pas yang selama itu tampaknya biasa dipraktikkan di lapangan. Bagaimanapun mahasiswa melakukan cruising itu penuh dengan idealisme dan dedikasi untuk memberi yang terbaik.   

Bagi Shintaro, ada dua hal yang selalu diingat manakala nama gunung Walat disebut. Pertama, menanam pohon pinus sebagai bagian dari kuliah Silvikultur dan Silvikultur Lanjutan di bawah bimbingan almarhum Profesor Zoefri Hamzah. Beliau sangat bersemangat dan terus menyemangati mahasiswa untuk tidak bermalas-malasan. Menanam di lereng yang cukup terjal diterik matahari dan ingat waktu itu belum ada air mineral. “Ayo rimbawan musti tahan haus”, kata beliau terus menyemangati.

Alhamdulillah pohon-pohon yang kami tanam sudah jadi hutan pinus yang rindang dan menyapa semua yang berkunjung ke Gunung Walat, desah daun jarumnya mengucapkan selamat datang. Soalnya lokasi Hutan hasil tanaman angkatan 70 ada di bagian depan kawasan Gunung Walat di lereng sebelah kiri.

Kedua, setiap kami menginap di Gunung Walat kami akan menikmati hidangan yang enak hasil masakan ibu Momo, isteri Pak Momo petugas kamp Gunung Walad waktu itu. Jatah makanan untuk bapak-ibu dosen biasanya lebih khusus daripada mahasiswa, tapi mahasiswa tidak pernah kehilangan akal dan cukup mengatakan: “Untuk Bapak, untuk Bapak” sambil menyodorkan piring, maka ibu Momo akan segera memilihkan yang terbaik, karena disangka pasti itu buat Bapak Dosen.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.