Laporan Utama | Juli-September 2018

Angkatan Miskin Wanita

Hanya ada tiga perempuan di angkatan ini. Sebanyak 70 persen “lulus dipercepat”.

Edje Djamhuri

Pengajar di Fakultas Kehutanan IPB

KAMI semua datang dari berbagai daerah ke kampus Fakultas Kehutanan IPB Baranangsiang pada awal bulan Februari 1969 dengan satu tujuan untuk mencapai cita-cita masa depan yang lebih baik sebagai seorang rimbawan.

Sebelum masa perkuliahan dimulai, mahasiswa baru Fahutan IPB angkatan 69 diwajibkan mengikuti acara Pekan Orientasi Mahasiswa pada tanggal 10-16 Februari 1969 dan acara kemping pada minggu terakhir bulan Februari 1969 selama satu minggu di Pantai Carita, Banten. Kemping merupakan tradisi Fahutan, lokasinya setiap tahun berbeda begitu juga panitianya bergantian menurut angkatan. Untuk angkatan kami, panitianya adalah mahasiswa angkatan 1965 (E-3), angkatan Kelker alias Kelapa Kering.

Panggilan resmi saat kemping untuk mahasiswa baru adalah “Kunyuk” untuk laki-laki dan “Kunyik” untuk perempuan. Kami harus memanggil mahasiswa senior “Kakak Rimbawan” dan “Kaka Rimbawati”, sementara para dosen dipanggil “Rimbawan Agung”.

Acara kemping sangat padat, mulai dari waktu subuh sampai jam 22.00-23.00 malam. Kunyuk dan Kunyik digembleng baik fisik maupun mental agar handal dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di dalam hutan setelah lulus. Acara rutin malam hari adalah api unggun sambil menyanyikan lagu-lagu rimbawan dan menampilkan kreativitas para Kunyuk dan Kunyik. Nyaris tidak ada kata ataupun tindakan yang dilakukan dianggap benar di mata kakak Rimbawan dan Rimbawati dengan berujung pada pemberian hukuman, mulai dari menyanyi, menari/joget, dibentak-bentak bahkan ada juga yang mendapat tendangan atau pukulan ringan.

Pengalaman yang sangat sulit untuk dilupakan adalah diwajibkan menonton bioskop layar tancap di malam hari dengan cara membelakangi layar menggunakan cermin. Yang terjadi saat itu bukanlah kenikmatan menonton tetapi mata terasa sangat lelah dan begitu berat menahan kantuk. Padahal, Kunyuk dan Kunyik harus membuat laporan tentang cerita film yang disuguhkan tersebut pada esok paginya.

Karena sebagian besar kunyuk dan kunyik tertidur pulas saat menonton, akhirnya kami mendapat hukuman dengan disuruh berjalan sendiri-sendiri di dalam hutan dengan mata ditutup sapu tangan sambil ditakut-takuti suara-suara binatang buas dan mahluk halus yang menyeramkan dan secara bergiliran disuruh mencium pipi kambing.

Kemping diakhiri dengan acara penutupan pada malam hari dalam suasana gelap dengan hembusan angin Pantai Carita. Aacara dimulai dengan memberi hukuman kepada Kunyuk dan Kunyik yang bersalah kemudian dilanjutkan dengan renungan dan penyampaian kesan dan pesan dari panitia dan pimpinan fakultas serta meresmikan lahirnya mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB angkatan 1969 yang diberi nama angkatan “Misi Rimbawan” yang disingkat Miswan. Tapi nama angkatan ini sering diplesetkan menjadi Miskin Wanita, karena dari 60 mahasiswa hanya ada “tiga ekor Kunyik”. Betul-betul minoritas dan langka.

Begitu banyak pengalaman yang diperoleh selama camping karena acara dan ulah Rimbawan dan Rimbawati yang begitu penuh inspirasi untuk mengisi waktu dengan berbagai kegiatan, permainan, perlombaan dan hukuman. Secara alamiah dan spontan lahirlah rasa kebersamaan dan persaudaraan baik dalam keadaan suka maupun duka, serta mengenal kakak-kakak Rimbawan dan Rimbawati dari semua angkatan, pimpinan fakultas dan departemen, para dosen dan staf administrasi. Sejak acara inilah terbentuk korsa Rimbawan yang saling membantu dan kompak satu sama lain.

Lama waktu studi program S1 di Fahutan IPB pada tahun 1969 adalah selama enam tahun, merupakan tahun ke dua pelaksanaan kurikulum enam tahun. Program tersebut terdiri atas Tingkat Persiapan I, Persiapan II, Sarjana Muda I, Sarjana Muda II, Sarjana I dan Tingkat Sarjana II.

Kurikulum tersebut amat berat ditinjau dari segi waktu, beban studi dan sistem evaluasi belajarnya. Jumlah mata kuliah yang disampaikan dari Tingkat Persiapan I sampai Sarjana Muda II adalah sebanyak 54 mata kuliah (8 semester). Di Tingkat Sarjana I, jumlah mata kuliah yang disampaikan sebanyak enam mata kuliah ditambah dengan Praktik Umum yang terdiri atas Praktik Perencanaan Hutan dan Praktik Pengelolaan Hutan selama tiga bulan di hutan tanaman Perum Perhutani serta Praktik Perencanaan dan Pengelolaan Hutan Alam di Provinsi Lampung (Luar Pulau Jawa) selama satu bulan. Sedangkan di Tingkat Sarjana II disampaikan dua mata kuliah penunjang ditambah satu skripsi, seminar dan ujian komprehensif.

Pengalaman kuliah sangat berat adalah di Tingkat Persiapan I dan Persiapan II. Mata kuliah berupa kuliah dasar seperti Kimia Umum, Kimia Anorganik, Kimia Organik, Fisika I dan II, Matematika I dan II, Botani, Mikologi, Genetika Dasar, Pengantar Ilmu Kehutanan dan sebagainya.

Kuliah di Fahutan ternyata tidak semudah yang dibayangkan, beberapa mata kuliah dasar seperti Kimia Umum, Kimia Anorganik, Botani dan Matematika merupakan mata kuliah yang mengerikan bagi seluruh mahasiswa karena untuk memperoleh nilai ≥ 5 sangat sulit.

Evaluasi belajar dilakukan di setiap tingkat pada akhir semester genap dengan menerapkan sistem kenaikan tingkat. Seorang mahasiswa dapat naik tingkat apabila nilai rata-rata seluruh mata kuliah di tingkat tersebut (dua semester) harus ≥ 6 dengan tanpa nilai ≤ 4 (lulus langsung), namun apabila ada mata kuliah yang nilainya ≤ 4 (angka mati) langsung dinyatakan tidak naik tingkat (dikenal sebagai mahasiswa residivis atau RCD). Apabila tidak memenuhi persyaratan tersebut, diberi kesempatan  mengikuti ujian her untuk mata kuliah yang nilainya 5. Apabila setelah ujian her tetap tidak memenuhi syarat maka mahasiswa dinyatakan tidak naik tingkat. Selanjutnya, apabila dua tahun berturut-turut tidak naik tingkat, mahasiswa tidak dapat melanjutkan kuliah (alias drop-out, dikeluarkan dari kampus).

Dengan sistem evaluasi belajar tersebut di atas sebagian besar (70 persen) dari seluruh  anggota angkatan 69 terpaksa tidak dapat melanjutkan studi (lulus dipercepat alias DO) sedangkan yang dapat terus melanjutkan studi sampai lulus S1 hanya 20 orang (30 persen). Sungguh mengerikan. Namun Alhamdulillah, teman-teman yang di-DO tidak berkecil hati dan terus semangat untuk menuntut ilmu, sebagian besar mereka melanjutkan studi ke Akademi Ilmu Kehutanan (AIK) di Bandung, setelah lulus kemudian melanjutkan studi S1 di Fahutan Universitas Mulawarman (UNMUL) atau perguruan tinggi lainnya.

Selama mengikuti kegiatan praktik umum, kami ditempatkan di beberapa KSPH dan KPH lingkup Perhutani untuk praktik perencanaan hutan dan pengelolaan hutan tanaman jati dan rimba, sedangkan untuk praktik pengelolaan hutan alam kami ditempatkan di beberapa HPH yang ada di Provinsi Lampung. Hal tersebut merupakan pengalaman pertama mempraktikkan teori yang diperoleh di bangku kuliah, merasakan suka dan duka hidup di hutan dengan segala keterbatasan yang ada.

Untuk praktik pengelolaan hutan, secara bergiliran kami di bimbing sekaligus diuji di lapangan oleh seorang profesor senior, yaitu Bapak Zoefri Hamzah (almarhum). Setelah selesai mengikuti praktik, kami diwajibkan menyusun laporan dan mengikuti ujian. Khusus untuk PUPH, semua mahasiswa diuji oleh Bapak Zoefri Hamzah, laporan praktik harus lengkap sekali dan harus setebal mungkin. Untuk bisa lulus kami harus beberapa kali menyempurnakan laporan dan mengikuti ujian.

Kiprah dan pengabdian alumni angkatan Miswan tersebar di berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Dari 20 alumni yang lulus sampai S1 ada yang menjadi dosen di Fahutan IPB, birokrat di Departemen/Kementerian Kehutanan dan di BAPPENAS, peneliti di Badan Litbang Kehutanan, pegawai Perhutani, wiraswasta dan yang sangat membanggakan kami ada yang pernah menjabat Menteri Perindustrian (almarhum Andung Nitimihardja).

Teman-teman yang “lulus dipercepat” kariernya juga tidak kalah dengan kami yang lulus sampai S1, bahkan mereka lulus dari program S3 universitas di luar negeri. Mereka berkiprah di berbagai instansi pemerintah maupun swasta di bidang kehutanan maupun nonkehutanan, termasuk yang berkiprah sebagai perwira tinggi angkatan laut, Laksamana Sewoko).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.