Laporan Utama | Juli-September 2018

Lahir di Tahun Politik

Angkatan ini menjadi mahasiswa ketika politik sedang memanas menjelang pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru. Kompak dengan kejahilan-kejahilan tak terperi.

Suwarno Sutarahardja

Pensiunan pengajar Divisi Perencanaan Hutan di Fakultas Kehutanan IPB

KELKER adalah nama angkatan ke-3 pada Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor yang lahir pada tahun 1965. Kelker lahir ketika situasi politik Negara Republik Indonesia sedang memanas dalam pergantian rezim dari pemerintahan Presiden Sukarno ke Suharto. 

Pada awalnya mahasiswa angkatan E-3 terdaftar sebanyak 127 orang, sebelas di antaranya adalah putri. Setiap tahun jumlah mahasiswa angkatan E-3 ini terdegradasi yang cukup signifikan, dan yang berhasil mencapai garis finish, yaitu menjalani studi sampai selesai menjadi Sarjana di Fahutan IPB, yang kala itu masa studi resminya adalah lima tahun, hanya 50 orang, satu di antaranya adalah seorang putri, yaitu teh Ir. Ria Irena Darmadi.

Masa studi anggota Kelker dari yang lulus tercepat, dengan masa studi 6 tahun, yaitu kang Ir. Enang Zaenal Abidin yang lulus Sarjana pada tahun 1972 dan yang terlama adalah lulus setelah 20 tahun menjadi mahasiswa Fahutan IPB (namanya rahasia, ya), yaitu baru lulus pada tahun 1985. Meskipun beliau-beliau yang lulusnya lama, tapi selama beliau masih tercatat sebagai mahasiswa, beliau-beliau sudah mendapat gelar MA. Kok bisa? Karena masa itu sistem studi masih bebas, belum ada aturan pembatasan masa studi.

Terdegradasinya mahasiswa angkatan E-3, antara lain karena sebagian pindah studi ke Bidang Studi lain di Perguruan Tinggi luar IPB, yaitu ke AKPOL setelah naik ketingkat Sarjana Muda I (tahun ke-2) di Fahutan IPB, kang Pandji Atmosudirdja, dan kang Edi Budiman. Kang Panji mencapai puncak karir tertingginya menjabat sebagai Wakil Kepala Polri, dengan pangkat Komisaris Jenderal. Sebagian lagi dari warga Kelker tidak melanjutkan studi, karena bekerja atau menikah, dan sebagian lagi tidak terpantau kabar beritanya.

Masa MAPRAM
Pada 12 September 1965, kurang lebih 800 siswa lulusan SLTA dari berbagai daerah di Indonesia, yang diterima sebagai calon mahasiswa IPB, dikumpulkan di lapangan depan Gedung Utama Institut Pertanian Bogor Baranangsiang, untuk memulai Masa Prabakti Mahasiswa (Mapram) IPB angkatan ke-3, yaitu merupakan calon-calon mahasiswa yang diterima pada ke 6 Fakultas di lingkungan IPB, yaitu Faperta, FKH, Faperikan, Fapet, Fahutan dan Fatemeta.

Disebut calon mahasiswa karena mereka belum mengikuti Mapram. Karena itu dalam Mapram ini kami calon mahasiswa mendapat panggilan sebagai Prama, untuk yang laki-laki dan Prami untuk yang perempuan. Sedangkan untuk mahasiswa senior disebut Rakawira untuk yang laki-laki dan Rakawati untuk yang wanita.  . 

Tidak semua mahasiswa Fahutan angkatan tahun 1965 menjalani Mapram pada tahun 1965. Yang terlambat daftar ke IPB, mereka mengikuti Mapram tahun 1967 dan bergabung dengan Angkatan 4, karena angkatan masuk IPB dalam tahun 1966 ditiadakan, akibat situasi keamanan Negara berkaitan dengan peristiwa 30 September 1965. Tetapi teman-teman angkatan E-3 yang tidak ikut Mapram di tahun 1965 tersebut tetap merupakan anggota Kelker karena teman-teman tersebut masih punya kesempatan mengikuti camping di Cianten beberapa bulan setelah Mapram dan mempunyai Nomor Pokok Mahasiswa dengan Kode E-3. Camping ini merupakan persyaratan untuk diterima sebagai anggota Rimbawan.

Dalam kegiatan Mapram ini setiap Angkatan pada masing-masing Fakultas perlu dipilih seorang pemimpin yang disebut sebagai Jenderal Angkatan. Pada waktu itu, Kelker telah memilih kang Djurnalis Thaib (almarhum. Saat pemilihan Jenderal tersebut telah dirundingkan pula nama angkatan. Kami memilih Kelker dari singkatan Keluarga Kerajaan Rimba , tapi juga sering diplesetkan menjadi Kelapa Kering, karena sangat sedikitnya mahasiswi Fahutan dibanding fakultas lain.

Jenderal Angkatan ini punya wewenang komando kepada anggota angkatan. Jika memberi hormat, Prama dan Prami menyilangkan jari telunjuk di jidat, dan sang Jenderal membalas penghormatan dengan mengetuk-ngetuk jidat dengan jari telunjuknya, sambil mondar-mandir memeriksa pasukan/barisan.

Mapram selama dua pekan, dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam, dengan acara-acara meliputi ceramah dari para Pimpinan IPB dan Pimpinan Fakultas, Ceramah dari para Pimpinan Dewan Mahasiswa IPB dan para Pimpinan Senat Mahasiswa Fakultas, Kegiatan sosial dan lingkungan, kegiatan-kegiatan yang bersifat pembinaan disiplin, kegiatan perkenalan baik dengan dosen-dosen, dengan Rakawira dan Rakawati, serta dengan sesama Prama dan Prami sefakultas dan di luar Fakultas sendiri (bukti telah berkenalan harus mengisi Buku Mapram, di mana tertulis nama NIP atau NPM, asal Fakultas dan dilengkapi tanda tangan yang bersangkutan), kemudian juga ada kegiatan hiburan yang berkesan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. 

Dalam pelaksanaan acara-acara tersebut terbagi atas acara Pusat, yaitu yang menyangkut untuk wawasan umum (IPB) yang terlibat adalah Pimpinan IPB dan para Pengurus Dewan Mahasiswa IPB, serta acara Lokal, yang melibatkan Pimpinan Fakultas dan Pengurus Senat Mahasiswa Fakultas. Setiap acara apa pun, Prama dan Prami wajib membuat Laporan Kegiatan tertulis, untuk masing-masing kegiatan, di mana harus diuraikan, nama kegiatan, siapa yang mengarahkan, tentang apa, pokok-pokok yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, apa kesimpulan dari kegiatan tersebut apa inti dari kegiatan yang dilakukan. Setiap hari kegiatan-kegiatan yang dilakukan rata-rata berkisar antara 4 sampai 5 kegiatan. Laporan tertulis dari kegiatan-kegiatan tersebut harus dikumpulkan pada saat apel pagi jam 05.00 pada hari berikutnya. Jika tidak menyerahkan Laporan, maka akan dicatat dalam Buku Catatan Dosa bagi Prama dan Prami tersebut, yang akan dievaluasi pada hari-hari terakhir masa Mapram.

Suatu kali kami mendapat undangan dari Ibu Hartini Sukarno untuk makan siang di rumah beliau di dalam kompleks Istana Bogor (depan SMAN I). Sementara menunggu waktu, kami Prama dan Prami ngobrol di bawah pohon besar. Karena  belum kuliah, kami belum tahu nama pohon tersebut, tetapi ada seorang prama yang sudah merasa menjadi rimbawan berpengalaman. Dia memungut benda seperti biji dan bertanya: “Ini biji apa coba?” Tak ada yang menjawab, sampai ada yang nyeletuk, “Itu sih kotoran kijang”, sambil meremukkannya dengan batu. Memang benar, itu kotoran kijang penghuni Istana.

Masa Kemping
Setelah beberapa bulan setelah Mapram, kami mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB, melaksanakan kemping di Perkebunan Teh Cianten, Leuwiliang Bogor. Panitianya angkatan dua tahun di atas angkatan kami, yaitu Angkatan E-1, yang dikenal dengan nama Angkatan Ompreng. Dalam acara Kamping ini pesertanya adalah seluruh Civitas Akademika Fahutan IPB, yaitu Dosen, Pegawai, Mahasiswa Senior dan kami mahasiswa baru yang sudah dinyatakan lulus Mapram. Kala itu Ketua Pelaksana Kamping adalah kang Yayan (almarhum).

Kemping ini merupakan ajang ujian untuk dapat dilantik sebagai Rimbawan. Para mahasiswa baru dipanggil dengan sebutan “Kunyuk”. Mahasiswa senior dipanggil Rimbawan untuk yang laki-laki dan Rimbawati untuk yang wanita.

Pada saat dingin di tengah malam, kami dibangunkan, dan sebelum salat subuh disuruh langsung sarapan dengan lauk bersambal pedas, makannya tidak boleh pakai sendok, tetapi pakai tangan dan belum selesai makan disuruh pipis rame-rame. Tentu saja, panaaasss....

Kencing ini jadi semacam ritual yang diperlombakan. Kami berlomba pipis dengan mata ditutup. Ketika kencing dimulai, kami terkejut karena air pipis kami bisa berbalik ke badan kami sendiri. Rupanya, lomba kencing itu bukan lomba terjauh air pipis, melainkan kami pipis berhadapan. Kami tak tahu karena mata ditutup. Jadilah para Kunyuk ini saling mengencingi temannya.

Acara Jurit Malam juga seru. Kami dibangunkan tengah malam lalu dilepas satu persatu berjalan melewati jalan hutan yang sudah ditentukan. Sepanjang jalan senior membakar kemenyan, mengeluarkan suara-suara menyeramkan, tiba-tiba pocong jatuh dari atas pohon, ada kuntilanak, dan macam-macam keisengan para Rimbawan dan Rimbawati.

Lomba lain khas khas Rimbawan yang diikuti oleh Civitas Akademika, yaitu Dosen, Pegawai Fakultas, Mahasiswa Senior dan Mahasiswa Baru. Dalam perlombaan tersebut, kontingen mahasiswa terdiri dari Tim dari masing-masing Angkatan. Perlombaannya antara lain: Berteriak, Memanjat Pohon, Meniti Jembatan yang terdiri dari satu batang kayu diameter relative kecil, Menggergaji Batang Pohon dengan gergaji non mesin,Tarik Tambang, dll.

Pada akhir Kamping, kami semua berkumpul mengelilingi api unggun, berkelompok berdasar angkatan lengkap dengan bendera angkatan. Nama-nama Angkatan waktu Kamping di Cianten antara lain yang masih teringat adalah : Bagudung (1959), Keripik (1960), Chokly (1961), Marabunta (1962), Ompreng (1963), Prambain (1964) dan Kelker (1965).

Bendera Angkatan dianggap penting. Angkatan yang tidak membawa bendera akan dipermalukan oleh angkatan-angkatan lain. Acara penutupan adalah pelantikan para Kunyuk menjadi mahasiswa baru menjadi rimbawan dengan cara dibaptis memakai air suci, yang merupakan air campuran sisa-sisa sayuran, sisa air teh dan lainya. Setelah itu ada acara Renungan yang dibawakan kang Domon dan kang Bastol, sangat menggugah dan menyentuh, menanamkan kebersamaan dalam suka dan duka, disiplin dan kerja sama antar kita semua. Banyak mahasiswa baru yang menangis.

Acara paling penutup adalah maaf-maafan, juga “balas dendam”. Para Kunyuk dibolehkan memarahi senior, mengguyurkan air baptis ke senior paling galak, dan lain-lain. Tapi semua itu dilakukan dalam suka cita dan guyon semata. Acara bebas ini kadang-kadang sampai menjelang pagi, dan keesokan harinya kita pulang kembali ke Bogor, ke Kampus IPB. .

Masa Studi
Ruang kuliah yang terkenal di IPB Baranangsiang adalah ruang Fisika dan ruang Kimia, meja dan  kursinya terbuat dari kayu jati setebal 2 cm disusun bertingkat seperti tribun. Kursinya kursi lipat yang kokoh dan biasa dibanting dengan suara keras oleh para raka sambil memberi  perintah. Sedangkan favorit di lokasi Fahutan adalah pohon akasia (Acacia auriculiformis), tanaman yang sedang trend saat itu; disana prama yang melakukan kesalahan ada yang dihukum menirukan monyet di pohon itu.

Kuliah tahun pertama sering berpindah tempat kadang di Baranangsiang, di Gunung Gede, di FKH Taman Kencana, di Gedung Badan Penelitian Karet Taman Kencana dan kuliah sering bergabung dengan Fakultas lain hingga harus cepat-cepat mencari tempat duduk karena mahasiswa sangat banyak. Untuk itu yang datang duluan booking tempat dengan menaruh buku-buku dan tas untuk duduk teman-teman Fahutan lainnya.

Sebelum kuliah kami sarapan di warung belakang kampus. Pada umumnya mahasiswa saat itu banyak yang makan  kue robur dan bajigur hangat. Waktu itu si Mamang pedagang robur tersebut  berada  di belakang Gedung Utama IPB Baranangsiang, tepatnya di belakang Gedung Fakultas Kehutanan yang luasnya ± 200 m2, di bawah pohon Ochroma balsa, dekat bangunan untuk praktik Geologi dan Mineralogi. Kue  Robur adalah jajanan rakyat jelata, ukurannya cukup besar. Karena itu disebut juga kue Jibeuh, hiji oge seubeuh, satu juga kenyang. Modelnya seperti mini bus robur yang  populer waktu itu sebagai angkutan rakyat.

Kalau  banyak mata kuliah dan dosennya beda-beda, sering kegiatan kuliah tempatnya berpindah-pindah. Mahasiswa gabungan beberapa fakultas ngabring jalan kaki atau berlarian, yang punya uang bisa naik bemo atau naik delman dari Baranangsiang ke Taman Kencana atau ke Kampus Gunung Gede dan sebaliknya. Kami berebutan tempat duduk. Pada waktu itu kami kebanyakan mahasiswa tidak berduit, sehingga kami lebih sering jalan kaki untuk menuju tempat kuliah yang berjauhan, yang sering dalam jam pelajaran berurutan kami harus pindah ruang kuliah, yang jaraknya mencapai satu kilometeran, sehingga terpaksa harus berlari-lari kecil menuju ruang kuliah. Ada seorang teman Kelker yang punya sepeda motor saat itu, yaitu kang Erita Mian (almarhum), jadi rebutan teman-teman membonceng.

Tahun 1965 saat itu, keadaan Negara sedang kacau. Kegiatan kuliah juga ikut kacau.          Suasana kuliah mahasiswa dipengaruhi suasana politik kerakyatan, hampir seluruh Mahasiswa  kalau datang ke kampus sudah biasa memakai sandal. Kalau ada yang memakai sepatu ke kampus, sering diledek “Dasar Kabir lu!”  “Kabir” itu singkatan dari Kapitalis Birokrat, musuh rakyat jelata. 

Pasca Studi
Pada 1972, setelah berumur tujuh tahun, Kelker mulai melahirkan insinyurnya dan disusul oleh insinyur-insinyur lain sampai tuntas di tahun 1985. Dari 50 Sarjana Kehutanan anggota Kelker, paling banyak berkiprah di Departemen/Kementerian Kehutanan, dan dua orang di antaranya mencapai Tingkat Eselon I, yaitu sebagai Kepala Kantor Wilayah Kehutanan di Daerah, antara lain (kang Ir. H. Enang Zaenal Abidin dan kang Ir. H. Hings Abdullah Karim). Kang Ir. H. Hings Abdul Karim, sebelum masa pensiun, sempat pindah ke Lembaga Ketahanan Nasional dan menjabat salah satu Deputi Ketua Lemhanas. Kemudian ada lima orang yang mengabdikan diri di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Dikti, dan empat orang di antaranya mencapai gelar Guru Besar, yaitu kang Prof. Dr. Andry Indrawan (IPB), kang Prof. Dr. Ketut Nuridja Pandit (IPB), kang Prof. Dr. H. Muchlis Rahmat (Unmul-Samarinda) dan kang Prof. Dr. H. Arifin Bratawinata (Unmul-Samarinda).

Seorang alumnus Kelker berkecimpung di dunia swasta, satu-satunya Sarjana Kehutanan Kelker yang wanita dari Fahutan IPB, yaitu teh Ir. Ria Irena Darmadi. Sebetulnya ada seorang warga Kelker wanita yang juga mencapai Sarjana Kehutanan, tetapi diperoleh dari luar Fahutan IPB, yaitu teh Ir. Hj. Ari Sugiari (almarhum), lulusan dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Sisanya tersebar di berbagai instansi maupun diperbantukan di BUMN Departemen Kehutanan dan BUMN Departemen Perindustrian. Kemudian ada juga yang ditugaskan lagi di perusahaan patungan perusahaan BUMN dengan perusahaan swasta di bidang Kehutanan (HPH maupun HTI).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.