Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|30 Desember 2020

Nilai Ekonomi Kayu Kuku

Kolaka di Sulawesi Tenggara menjadi kawasan endemik kayu kuku yang mulai menyusut. Kayu mewah yang gampang beradaptasi dengan tanaman lain.

SELAIN kaya akan bahan mineral sesuai namanya, pulau Sulawesi (sula: pulau, wesi: besi) juga kaya dengan flora dan fauna. Salah satu kekayaan pulau keempat terbesar di Indonesia in adalah kayu kuku (Pericopsis mooniana THW).

Kayu kuku adalah flora endemik Sulawesi Tenggara. Pohon ini ada di kawasan Cagar Alam Lamedai di Kecamatan Watubangga, Kolaka. Cukup mudah mengakses cagar ala mini karena berbatasan langsung dengan Bandar Udara Sangia Nibandera Kolaka. Jarak dari ibu kota kabupaten ke cagar alam kurang lebih 50 kilometer.

Kayu kuku merupakan family Fabaceae, Ordo Fabales, Genus Pericorpsis, spesies pericorpsis mooniana. Ia memiliki daun yang bersilang-berhadapan dengan buah berbentuk polong yang mekar setiap tahun.  Tinggi pohon kuku maksimal antara 30-40 meter. Tinggi bebas cabangnya hampir ¾ dari total tinggi pohon. Sementara diameter batang kayunya berkisar antara 35-100 sentimeter.

Kayu kuku mampu beradaptasi pada tanah regosol yang cenderung subur. Ketinggian tempat tumbuh antara 200-350 meter dari permukaan laut sehingga memerlukan curah hujan 750-2.000 milimeter per tahun. Selain itu, kayu kuku juga bisa tumbuh pada tanah yang berlempung tetapi tidak memiliki air yang tergenang. Dapat juga tumbuh di daerah yang memiliki topografi berbukit yang cendrung landai.

Kayu kuku tergolong kayu mewah dengan kelas kekuatan II dan kelas keawetan II. Warna kayunya cokelat muda sampai kemerahan. Mempunyai tekstur cendrung halus dan licin pada permukaannya. Terdapat corak garis-garis dekoratif. 

Dengan alasan tersebut, pemanfaatan kayu ini lebih ke arah komersil seperti perabot rumah tangga, vinir, panel, dan flooring. Selain itu kayu ini juga dimanfaatkan untuk geladak kapal, jembatan, bantalan kereta api, dan bak kendaraan. Karena pemanfaatan tersebut sehingga keberadaan kayu ini masuk dalam ketegori terancam punah.

Karena fungsi dan perannya serta statusnya yang endemik, kayu kuku perlu dilestarikan. Perlu ada upaya edukasi konservasi terhadap kayu ini. Pemahaman masyarakat terhadap kayu ini akan mendorong mereka dengan sukarela mengkonservasinya. Salah satunya melalui perbanyakan anak, misalnya, dalam kegiatan reboisasi.

Kegiatan agroforestry juga bisa jadi jalan melestarikan kayu ini. Para petani bisa memadukan tanaman semusim dengan kayu kuku sebagai naungan. Kayu kuku juga punya interaksi yang bagus dengan jenis tanaman lain sehingga cocok sebagai tanaman tumpang sari.

Saya pernah meneliti kecocokan kayu kuku dengan nilam. Hasilnya mencengangkan karena interkasi keduanya saling mendukung dalam menghasilkan biomassa. Artinya, kayu kuku cocok jika dikombinasikan dengan nilam yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dengan memadukan kayu kuku dengan tanaman lain, masyarakat akan dengan sendirinya melestarikan kayu yang mulai ditinggalkan ini. Status endemiknya perlu kita pertahankan agar kekayaan flora Indonesia tidak berkurang.

Dosen Konservasi Hutan Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo

Bagikan

Komentar

Artikel Lain