Untuk bumi yang lestari

Ladang masyarakat Dayak Rungkah Meratus. Setiap ladang yang mereka buka hanya bisa dipakai untuk dua kali masa tanam, karena untuk masa tanam berikutnya, tanah sudah tidak subur lagi untuk ditanami padi. Ladang tersebut akan mereka biarkan menjadi hutan kembali. Setelah 6-15 tahun lahan ini akan mereka buka kembali. Atau bisa juga lahan yang sudah mereka tanami selama dua masa tanam tadi mereka jadikan hutan untuk menanam pohon kayu manis, jengkol, kemiri, Tampak di belakang ladang ini berdiri kokoh gunung Halau-Halau yang merupakan gunung tertinggi di Kalimantan Selatan. Menurut peta kolonial Belanda tahun 1924 puncaknya berada di ketinggian 1.892 meter di atas permukaan laut. (Foto: Sinalinali via Creative Commons)

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Etnografer di Universitas Lambung Mangkurat. Penulis "Rethinking Dayak Identity" (Komojoyo Press, Yogyakarta, 2020)

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain