Kabar Baru | 16 Mei 2020

Di Balik Layar Belajar Virtual Petani Hutan Sosial

Kesuksesan belajar virtual pendamping dan petani hutan sosial tak lepas dari kerja keras para admin. Mereka sabar dan cekatan dalam memastikan semua pendukung belajar online berjalan lancar.

Swary Utami Dewi

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

BELAJAR jarak jauh perhutanan sosial secara virtual untuk pendamping dan petani hutan sosial oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga minggu ke-3, tanggal 15 Mei 2020, masuk ke gelombang III yang secara keseluruhan diikuti 1.500 orang. Petani adalah mereka yang hutan sosialnya sudah mendapat izin, sementara pendamping berasal dari pelbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), rimbawan, maupun penyuluh kehutanan. 

Bisa dikatakan, sejauh ini belajar jarak jauh via aplikasi zoom sejak 27 April 2020 ini berjalan mulus. Kendala hanya sesekali muncul, itu pun menyangkut hal-hal teknis seputar Internet dan cara mengakses Learning Management System (LMS), bisa diatasi dengan baik oleh tim teknis yang selalu bekerja keras mengawal belajar jarak jauh ini.

Tim belakang layar itu berjibaku sejak masa persiapan dan prapelatihan, saat pelatihan dan penyelesaian tugas peserta, sampai masa penutupan dan evaluasi. Di sini, yang terlibat intens adalah Balai Pendidikan dan Latihan KLHK di tujuh wilayah dan Pusat Pendidikan dan Latihan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) serta Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Direktorat Jendral Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan di lima wilayah. Kerja ciamik mereka terlihat dari mulusnya belajar virtual ini hingga babak akhir.

Dalam tahap persiapan dan prapelatihan, tim belakang layar mengkonfirmasi calon peserta, mengelompokkan dan membagi mereka ke dalam beberapa angkatan. Lalu tim menyiapkan dan melatih peserta untuk bisa nyaman dan mampu mengakses serta menggunakan perangkat zoom dan LMS. Tidak jarang, para admin yang memiliki tugas teknis/operasional ini langsung melatih satu persatu peserta dari awal, mulai dari cara mengunduh aplikasi zoom sampai mencoba menggunakannya. Saya comot beberapa komnetar meriah para peserta selama belajar jarak jauh:

“Pak, bagaimana cara masuk LMS?”
“Waduh, saya tidak tahu cara upload tugas.”
“Bu, sinyal saya hilang..."

Tidak hanya peserta yang mula-mula gagap dan bingung, tutor pun perlu dilatih untuk mampu dan nyaman mengoperasikan dan mengakses keduanya. Tutor berasal dari Tim Penggerak dan Percepatan Perhutanan Sosial seperti saya, widyaiswara KLHK, atau para pengajar yang mumpuni di bidangnya. Maklum, e-learning merupakan hal baru bagi semua orag. Dengan sabar para admin juga melayani tutor yang membutuhkan bantuan.

Seorang administrator belajar jarak jauh perhutanan sosial di Balai Diklat Makassar.

Sebelumnya, tim kerja juga membantu memastikan semua bahan ajar, bahan tes, dan lembar evaluasi tersedia dengan baik di LMS. Tim juga mengkoordinasi jadwal dan kesiapan para tutor supaya tidak tabrakan satu sama lainnya.

Kemudian, pelatihan pun digelar selama empat hari paralel untuk beberapa angkatan di setiap gelombang. Dalam setiap angkatan, sekitar 30 peserta hadir menimba ilmu dan mengasah ketrampilan pendampingan perhutanan sosial. Di sini, kembali tim belakang layar menjadi tulang punggung.

Para admin pertama-tama memastikan agar peserta masuk kelas dan komunikasi tidak terhambat oleh gangguan sinyal. Kemudian admin juga bertugas memantau serta memastikan lalu lintas komunikasi lancar selama kelas berjalan. Mereka juga membantu mengunggah bahan paparan tutor ke layar. Pendek kata, selama tutorial berjalan, penanggung jawab kelas dan admin memastikan semua berlangsung baik.

Lalu masuk waktu sesudah kelas selesai. Ini waktu peserta diminta belajar mandiri. Mereka harus membuat tugas, mengunggah hasil tugasnya, mengunduh modul untuk hari berikutnya, mengisi lembar evaluasi dan hal-hal terkait lainnya. Peserta mencoba bersahabat dengan waktu, dengan tetap didukung oleh tim penanggung jawab dan admin, agar semua tugas diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

“Setelah tutorial lumayan berat. Kami memonitor tugas peserta, kemudian mengecek dan memastikan semua tugas masuk ke LMS,” kata Aidil Akbar dari Balai Diklat Makassar. “Sesudah selesai semua, baru kita bisa rehat. Lega kalau semua tugas bisa masuk LMS. 

Pada hari ke-4, setelah dua tutorial pagi selesai, peserta menjalani tes akhir dan menyelesaikan tugas kelompoknya dalam bentuk penulisan rencana tindak lanjut. Siangnya penutupan dan esoknya semua peserta yang telah memenuhi syarat bisa mengunduh sertifikat pelatihan dari LMS. Lagi-lagi, di sini, tim pendukung yang memastikan semua berjalan seperti yang diharapkan sampai semua peserta menenteng pulang e-certificate.

Apakah tugas itu berat? Dua orang admin dan seorang penanggung jawab angkatan dari Balai Diklat Makassar mengakui mengawal pelatihan bukan tugas ringan. Ada banyak hal baru yang mereka pelajari, yakni hal-hal teknis digital. Dipadukan dengan tugas sepenuh hati berkomunikasi dengan peserta agar peserta bisa nyaman dan tetap bersemangat. Belum lagi tugas-tugas teknis, komunikasi dan manajerial lainnya. “Pendeknya tugas ini menantang,” kata Maria Klara Dhika Ayu Utaminingtyas, admin dari BD Makassar.

Sampai tiga pekan gelombang pelatihan, semua berjalan relatif lancar. Jika pun ada kendala kecil, seperti sinyal timbul-tenggelam, akhirnya bisa diatasi. Jika kantuk menyerang, di sela-sela kesibukan, admin berusaha tidur sejenak untuk memastikan dalam waktu singkat bisa siap bertugas optimal kembali.

Dua orang administrator belajar virtual perhutanan sosial di Balai DIklat Makasar.

Jika ada peserta yang terlambat mengumpulkan tugas, mereka juga sabar dan tetap tersenyum. Pendeknya, semua siap dilakukan, semua bisa dikerjakan. Ringkasnya, di balik semua tantangan di atas, terbukti tim belakang layar LHK ini berkinerja sangat baik.

Dari pengalaman pelaksanaan e-learning ini terbukti bahwa dengan kerja sama, kesabaran, empati dan semangat, semua bisa dilaksanakan dengan baik. Kerja tim di balik layar ini patut diacungi jempol. Mereka sukses mengawal terobosan e-learning bagi petani hutan yang menjadi inovasi mengatasi kebijakan pembatasan sosial akibat pandemi virus corona covid-19.

15 Mei 2020

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain