Kabar Baru | 04 Mei 2020

Peneliti Rangkong Indonesia Mendapat Green Oscar

Yokyok Yoki Hadiprakarsa mendapatkan Whitley Award atau Green Oscar karena kiprahnya dalam meneliti dan melestarikan burung rangkong. Terancam punah karena diburu dan kehilangan habitat hutan.

Dewi Rahayu Purwa Ningrum

Alumni Fakultas Kehutanan IPB

PENELITI rangkong kembali mendapat perhatian The Whitley Fund for Nature yang berbasis di London, Inggris. Setelah pada 2013 memilih Dr. Aparajita Datta dari India sebagai penerima Whitley Award karena tekun meneliti rangkong Himalaya, tahun ini WFN kembali memilih peneliti rangkong sebagai penerima hibah penelitian. Tahun ini, hadiah yang acap disebut “Green Oscar” tersebut jatuh kepada Yoki Hadiprakarsa dari Indonesia.

Panitia Whitley Award mengumumkan lima nama pemenang dan satu juara umum pada 29 April 2020. Selain Yoki, empat nama lain adalah Abdullahi Hussein Ali, pelestari hirola antelope dari Kenya, Rachel Ashegbofe Ikemeh yang mengonservasi simpanse langka di Nigeria, Gabriela Rezende peneliti black lion tamarin (Leontopithecus chrysopygus) dari Brasil, Jeanne Tarrant yang mengonservasi amfibi Afrika Selatan, Phuntsho Thinley pelestari rusa kesturi di Bhutan, dan pemenang medali emas Patrícia Medici yang melestarikan tapir Brasil.

Kecuali Patricia yang mendapatkan hibah penelitian 60.000 pound, lima pemenang Whitley berhak atas dana penelitian 40.000 pound atau Rp 725,8 juta. “Melalui Yayasan Rangkong Indonesia, dana tersebut akan dipakai untuk melanjutkan penyelamatan spesies rangkong gading yang hampir punah dengan mengembangkan ekowisata,” kata Yokyok, sapaan Yoki, dalam rilis seusai menerima pemberitahuan ia terpilih sebagai penerima Whitley Award.

Yokyok telah lebih dari 20 tahun meneliti rangkong gading (Rhinoplax vigil )—satu dari 13 spesies burung rangkong yang masih ada di Nusantara. Menurut Yokyok, Indonesia merupakan kepulauan terakhir yang masih dihuni rangkong gading. Dalam daftar di The International Union for Conservation of Nature  (IUCN), rangkong masuk dalam daftar kritis, seperti halnya hewan-hewan lain yang diteliti para pemenang Whitley Award.

Kepunahan rangkong gading akibat deforestasi dan konversi hutan, juga perburuan ilegal. Kehilangan rangkong gading akan berpengaruh pada keseimbangan ekosistem. Sebab rangkong adalah burung restorator alami. Ia penyebar biji yang efektif sehingga daratan tetap berhutan, habitat alami yang mereka butuhkan.

Dalam penelitian-penelitiannya, Yoki menyimpulkan bahwa pemburu rangkong adalah masyarakat setempat karena desakan ekonomi jangka pendek. Keindahan dan kemegahan rangkong gading membuat perburuan jadi masif. Padahal, karena dua hal itu masyarakat bisa mendapatkan nilai ekonomi lebih jika membiarkan rangkong berada di habitatnya. “Rangkong gading lebih berharga hidup daripada mati,” katanya.

Tak hanya meneliti, Yoki menjadi aktivis pelindung burung paruh besar ini. Bersama Rangkong Indonesia, pada tahun 2017 ia membangun kerja sama dengan masyarakat adat suku Iban di Dusun Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Rangkong Indonesia mengajak para pemuda mengamati keberadaan burung rangkong gading dan beberapa jenis rangkong lainnya di hutan adat mereka yang luasnya sekitar 9.000 hektare.

Juga penelitian di 13 titik lokasi di hutan Kapuas Hulu seluas 56.214 hektare. Dari 694 lokasi pengamatan dalam 462 jam pemantauan, Yoki dan Tim Rangkong berjumpa dengan 1.018 individu rangkong Kalimantan. 

Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan dengan membekali keterampilan, pengetahuan serta mendorong pelestarian berbasis ekowisata yakni pengamatan rangkong dan habitat sarangnya. Pada 2018, dengan dukungan Yayasan Kehati-TFCA Kalimantan, Yoki bersama tim Rangkong Indonesia melakukan survei populasi dan okupansi serta merekam kondisi terkini rangkong gading di beberapa wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk memperluas diseminasi informasi, tim Rangkong Indonesia juga melakukan kampanye pentingnya rangkong bagi manusia.

Karena itu, Yoki mendedikasikan penghargaan Whitley bagi masyarakat yang bersedia melindungi rangkong gading di hutan-hutan mereka. “Saya hanya perantara,” katanya. “Sejatinya pelindung sejati rangkong gading adalah masyarakat.”

Tim Rangkong mengajukan nama Yoki kepada panitia Whitley sejak awal April 2019. Penghargaan tahunan selama 27 tahun ini diberikan kepada individu yang berjasa melestarikan hewan-hewan yang hampir punah. Menurut Yoki, panitia Whitley memilih rangkong sebagai pemenang karena ingin mendapatkan gaung akan keberadaan hewan ini sehingga menjadi perhatian publik.

Ada 120 partisipan yang mendaftar untuk mendapatkan penghargaan ini dari seluruh dunia. Seleksinya melibatkan tim juri termasuk wawancara dengan Edward Whitley, penggagas penghargaan ini. Panitia memilih Saving the Last Stronghold of the Helmeted Hornbill Indonesia yang menjadi proposal Rangkong Indonesia dengan mengajukan nama Yoki sebagai penelitinya.

Yoki meneliti rangkong sejak 1999 sejak ia kuliah S1. Ia makin tertarik meneliti rangkong karena sangat sedikit informasi tentang burung ini. “Ada informasi sedikit tapi berasal dari peneliti luar negeri,” kata Yokyok.

Rangkon berada hampir di seluruh pulau besar Indonesia. Yoki sudah meneliti rangkong di Sumatera, Lampung, Sulawesi, dan Kalimantan. Di Pulau Jawa setidaknya ada tiga jenis rangkong yang masih hidup. “Tahun ini kami akan eksplorasi rangkong sumba yang belum banyak informasi keberadaannya di alam,” kata dia.

Menurut Yokyok, problem penelitian rangkong baru sebatas konservasi, belum menyentuh inovasi. Sehingga nilai ekonomi rangkong hidup hingga kini belum bisa dirumuskan. Nilai ekonomi rangkong baru terdata ketika mereka sudah mati akibat diburu dan dijual oleh masyarakat.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain