Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|27 Mei 2020

Slavoj Zizek Meramal Dunia Setelah Pandemi Corona

Slavoj Zizek meramal dunia setelah pandemi corona dalam Pandemic! Dunia tersudut pada dua pilihan: komunisme baru atau barbarisme. Apa itu?

DUNIA setelah pandemi virus corona adalah dunia yang terpaksa menganut sistem komunisme baru. Slavoj Zizek, 71 tahun, meramal masa depan itu dalam bukunya yang terbit bulan ini: Pandemic! Ia mengulas tentang cara dan hidup kita yang berubah akibat wabah virus corona. Sejak 1990, Zizek acap dianggap sebagai pemikir Eropa yang paling moncer hingga saat ini.

Ia memulai 10 bab bukunya yang tipis ini dengan mengutip Kitab Injil yang menceritakan pertemuan Maria Magdalena di malam kebangkitan Yesus setelah disalibkan. “Jangan sentuh aku,” kata Kristus, ketika Maria hendak merangkul untuk membuktikan pandangannya. “Aku belum naik untuk Bapaku, tetapi pergi ke saudara-saudaraku, dan katakan kepada mereka, Aku naik ke Bapaku dan Bapamu, dan kepada Allahku dan Allahmu.”

Dalam bahasa Latin, “Jangan sentuh aku” adalah noli me tangere. Zizek menjadikan frase itu sebagai judul pengantar kumpulan 10 kolomnya ini. Filsuf Slovenia yang mengklaim sebagai “penafsir Marxisme yang kompeten” ini dan mengajar sosiologi dan filsafat di Universitas Ljubljana tersebut menafsirkan ucapan Yesus itu dengan keadaan sekarang.

Di masa pandemi, kita bahkan dilarang bersentuhan dengan orang-orang yang kita sayangi. Seperti Yesus, larangannya bukan berarti ia tak mencintai Maria. Justru dengan melarang menyentuhnya, Ia mencintai Maria, mencintai umat yang menuhankan Allah yang sama.

Di masa sebelum pandemi, cinta diwujudkan dalam ciuman, pelukan, atau menunjukkan respek dengan berjabat tangan. Setelah corona, kita bahkan harus berjauhan 1,5 meter. Kini, mencintai ditujukan dengan menjauhi secara fisik. Virus yang mahakecil itu telah mengubah tabiat manusia dan menjungkirkan budaya kita 180 derajat.

Bertolak dari tafsir atas Injil ini, Zizek mengulas masa depan manusia setelah pandemi dengan melihat gejala-gejala yang kini tengah terjadi. Ia menyimpulkan tatanan dunia setelah wabah corona adalah tatanan dunia yang menganut komunisme baru.

Sebab, meski mesin kapitalisme bekerja sangat kuat, “Kita diam-diam mengakui cara Tiongkok mengendalikan wabah”. Negara ini, relatif berhasil mengendalikan penularan ketika negara lain kelimpungan mencegah jumlah orang terinfeksi.

Dengan tangan besi komunisme, Cina menekan penularan wabah dengan efektif, lewat pemantauan orang, teknologi aplikasi, kebijakan terpusat, sehingga lockdown karantina wilayah sukses menekan penularan wabah. Cara ini relatif tak berhasil diterapkan negara-negara lain, seperti Italia atau Amerika, bahkan Indonesia. Negara-negara demokratis tak berhasil menerapkan kebijakan karantina wilayah ala Cina.

Tapi justru di situ letak ketidakjelian Zizek. Ia hanya melihat Cina dalam menangani pandemi seraya mengabaikan fakta lain bahwa ada lebih banyak negara demokratis yang sukses menekan penularan virus dengan cara-cara demokratis, terutama dalam hal keterbukaan data—di masa awal corona pemerintah Cina bahkan menangkap dokter yang memperingatkan virus berbahaya ini. Belakangan Cina bahkan merevisi jumlah kematian akibat virus corona.

Taiwan salah satu negara yang sukses menekan penyebaran wabah tanpa memakai tangan besi. Juga Kota Lombardy di Italia.

Di kota di utara Italia itu, pemerintah daerahnya bisa menekan penyebaran virus. Padahal di awal pandemi, laju penularan virus di kota ini paling cepat dibanding kota lain. Kini kematian akibat corona di sini paling rendah. Penurunan angka kematian terutama setelah pemerintah melakukan tes massal dan menganjurkan mereka yang positif corona melakukan isolasi mandiri di rumah. Data menunjukkan mereka yang dirawat di rumah sakit justru meninggal dan menulari dokter serta suster yang merawatnya.

Agaknya Zizek terlalu simplistis ketika meramal dunia terjatuh ke dalam pangkuan komunisme baru—kendati ia tak menjelaskan secara detail apa yang dimaksudkannya dengan frase ini—hanya karena melihat Cina, Inggris, dan Amerika menangani wabah. Inggris sangat mengandalkan Sistem Kesehatan Nasional untuk mencegah virus, sementara Amerika hendak menasionalisasi perusahaan pembuat vaksin. Jika hanya karena peran negara menjadi masif di masa wabah, bukan berarti kita akan mengadopsi komunisme begitu saja.

Wabah memang telah memukul dengan telak sendi-sendi kapitalisme. Sistem ekonomi ini membuat alam rusak, ozon menganga dipicu produksi gila-gilaan yang menghasilkan emisi karbon, hingga berujung pada mutasi gen mahluk renik akibat hilangnya keragaman hayati. Tapi manusia terlalu kompleks untuk mengakui sosialisme, kata Paul Collier dalam The Future of Capitalism (2019).

Collier, ekonom Oxford University itu, mengulik kemerosotan kapitalisme dengan detail dan pelan-pelan. Menurut dia, kapitalisme melapuk karena ia menanggalkan tulang punggung hubungan sosial antar manusia: tanggung jawab timbal balik. Keserakahan industri membuat karyawan hanya jadi alat produksi. Ketamakan membuat negara mengabaikan hak-hak warga negara akan kekayaan alam untuk kepentingan bersama.

Meski melapuk, Collier tak yakin di ujung kebuntuan, sosialisme menyediakan jalan baru bagi hidup kita. Menurut dia, kapitalisme akan memperbaiki diri dalam bentuk lain dengan merenovasi kesalahannya di masa lalu.

Maka ramalan Zizek di buku ini jadi terasa berlebihan. Di Bab 10, ia bahkan menyebut pilihan lain yang mungkin setelah pandemi: barbarisme. Tapi apa itu, “Saya tak bisa menjelaskannya,” tulisnya. “Saya hanya tahu gejala-gejalanya telah ada di depan mata kita.”

 

Pandemic! (Slavoj Zizek, 2020/OR Books)

Salah satunya soal kehancuran alam akibat mesin kapitalisme. Ia mengutip Kate Jones, ahli virus yang menghitung sejak 1940-2004 ada 335 jenis virus baru yang berasal dari satwa liar. Virus muncul karena mereka kehilangan inang akibat satwa liar dimangsa manusia, habitatnya diokupasi untuk industri dan perumahan, jalan raya, dan segala hal untuk menopang kenikmatan manusia. Tapi ketika ulah kapitalisme itu dihubungkan dengan kemerosotannya untuk memberi jalan bagi komunisme, ia jadi membingungkan.

Barangkali ini sindrom pemikir yang populer dan prolifik. Zizek abai menjelaskan sebuah problem dengan detail dan meyakinkan. Amy Goodman di New York, dalam sebuah wawancara untuk acara televisi Democracy Now pada 2008, menyebut Zizek sebagai “Elvis dalam teori budaya”. “Elvis Presley dipuja tahun 1970-an, padahal lagu-lagunya milik orang lain,” kata sosiolog Universitas Negeri Jakarta Robertus Robet. “Kita bisa maki-maki Elvis tapi jika tak mendengar album terbarunya orang sedunia akan menyalahkan kita.”

Robet sering dianggap sebagai penafsir utama Zizek di Indonesia. Tapi menurut dia, dalam Pandemic! Zizek terlalu retorik, terlalu optimistis sekaligus sok ideologis. “Ideologi dunia tak akan berubah banyak setelah pandemi,” katanya. Artinya, kapitalisme tetap berjaya, peran negara tetap surut, mesin produksi akan kembali gencar memproduksi emisi untuk kelak membangkitkan virus yang lebih digdaya lagi.

Ilustrasi diolah dari Adobe Spark dan Ceasefire Magazine.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain