Obituari | Juli-September 2019

Goodbye, Amigo, Profesor Sambas

Kenangan akan jasa-jasa Profesor Sambas Wirakusumah membangun pendidikan tinggi di Indonesia.

Rudy Ch Tarumingkeng

Profesor Emeritus Institut Pertanian Bogor

PROFESOR Sambas Wirakusumah wafat di usia 84 pada Selasa, 6 Agustus 2019 pukul 20.19 WIB di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Bagi saya, Profesor Sambas adalah rekan sejalan-seiring dalam membangun pendidikan di Indonesia.

Ia masuk Universitas Indonesia-Bogor (sekarang menjadi Institut Pertanian Bogor) pada 1954—setahun sebelum saya masuk fakultas yang sama. Ia juga tamat kuliah lebih dulu dibanding saya, sekitar tahun 1960.

Kami sama-sama mengajar di Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor. Saya kurang ingat persis tahunnya, tapi tak lama setelah itu Sambas dikirim ke Amerika Serikat untuk mengambil Master Science in Forestry. Pulang ke Indonesia ia mengajar mata kuliah Silvikultur sebentar bersama Kuswanda Widjajakusumah, yang sudah memperoleh Master of Forestry lebih dulu dari Amerika Serikat.

Waktu itu beberapa dosen sudah mendapatkan master dari universitas di Amerika. Antara lain Syafii Manan dan Lukito Daryadi di bidang Silvikultur, lalu Rubini Atmawijaya bidang inventarisasi hutan, Sadikin Jayapercunda dan Mulyadi Bratamiharja mengajar politik kehutanan, Atep Sudradjat dan Max Meulenhoff bidang teknologi hutan), saya dan Gunarwan Suratmo bidang proteksi hutan.

Sambas kemudian ditugaskan membangun Universitas Pattimura di Ambon. Ia menjabat sekretaris universitas hingga pertengahan 1960-an. Sementara Kuswanda (dekan pertama Fakultas Kehutanan IPB pada 1963), Lukito Daryadi, Mulyadi, Atep Sudradjat dan Sadikin Jayapercunda pindah ke Jawatan Kehutanan, cikal bakal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kembali dari Universitas Pattimura, Sambas pindah ke Bandung Selatan dengan menjabat administrator atau Kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KKPH) pada 1967. Atas arahan Gubernur Jawa Barat Jenderal Mashudi, Sambas mendirikan Akademi Ilmu Kehutanan (AIK) bersama saya yang waktu itu menjabat Dekan Fakultas Kehutanan dan Sadan Widarmana yang menjabat Pembantu Dekan I. AIK kemudian berkembang menjadi Fakultas Kehutanan Universitas Winayamukti dan sekarang masuk dalam sistem Institut Teknologi Bandung.

Saya masih ingat, kepada Gubernur Mashudi kami meminta pemerintah Jawa Barat menyediakan lahan untuk hutan pendidikan. Gubernur mengabulkan. AIK mendapat hutan pendidikan di Selagombong sementara Fakultas Kehutanan IPB di Gunung Walat. Kedua hutan pendidikan itu berada di Kabupaten Sukabumi.

Dari Bandung Selatan, Sambas ditarik ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1970-an sebelum ditunjuk sebagai Rektor Universitas Mulawarman di Samarinda, Kalimantan Timur pada 1972.

Ia menjadi rektor pertama universitas itu hingga delapan tahun kemudian atau selama dua periode. Saya waktu itu menjadi Rektor Universitas Cenderawasih di Papua. Sambas mengundang saya dan beberapa rektor di universitas di timur Indonesia ke Samarinda. Di era Sambas menjadi rektor itu pulalah, ia membangun hutan Bukit Soeharto di jalur jalan Balikpapan-Samarinda.

Selesai menjadi rektor, Sambas menjadi Koordinator Tinggi Swasta Jakarta (Kopertis III), sementara saya menjadi Koordinator Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur. Sambas kemudian diangkat sebagai Kepala Direktorat Perguruan Tinggi Swasta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ketika saya menjabat Rektor Universitas Krida Wacana (Ukrida) di Jakarta pada tahun 1990-an.

Sambas yang saya ingat adalah seorang pemimpin yang visioner dan transformasional. Tanpa visinya, Universitas Pattimura dan Mulawarman tak akan sebesar sekarang. Ketika ia menjadi rektor mahasiswa Mulawarman hanya 150.

Saat ia ditarik kembali ke Jakarta pada 1980, lalu menjadi atase pendidikan dan kebudayaan di Kedutaan Indonesia di Washington, D.C, Amerika Serikat, hingga 1984, jumlah mahasiswa Mulawarman mencapai 6.000 orang—kini menjadi universitas terbesar di Kalimantan dengan 37.000 mahasiswa. Tanpa peran dia, IPB tak akan mendapat hutan pendidikan Gunung Walat yang menjadi laboratorium hutan di luar kampus.

Selamat jalan Pak Sambas, jasa-jasamu selalu kami kenang. Goodbye, amigo. Selamat jalan, kawan. Beristirahatlah dengan tenang...

Foto: Dokumentasi Universitas Mulawarman

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.