Kabar Baru | 17 Juni 2019

Perubahan Iklim di Kampung

Spring bed yang kita pakai tidur itu, berakibat pada kekeringan di kampung. Perubahan iklim nyata adanya.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

DI kampung, perubahan iklim dan pemanasan global ditandai oleh serangan babi ke kebun dan sawah. Mudik Lebaran 2019 selama pekan lalu, saya mendengar lebih banyak cerita bagaimana para petani rungsing oleh serangan hama itu. Mereka melek di sawah berjaga hingga subuh untuk mempertahankan sepetak palawija dengan untung tak seberapa. 

Para babi turun gunung ke ladang karena tak ada lagi makanan di hutan-hutan, sejak anak-anak muda lebih senang dagang asongan di kota, atau menjadi buruh bangunan dengan upah harian. Mereka tak meneruskan jejak dan warisan para orang tua. Sementara orang-orang tua sudah jompo dan tak bisa lagi mengayun cangkul.

Maka tak ada lagi yang berkeliaran di hutan-hutan, di gunung-gunung yang singkur. Menaiki dua bukit itu, tempat dulu menggembalakan kambing atau kerbau dengan suka cita, bulu kuduk saya meremang. Agaknya hutan-hutan ini telah kembali ditunggu genderuwo, kelong wewe, dan hantu-hantu purba yang bercokol dalam ingatan anak-anak yang nakal. Sunyi. Sepi. Sendiri.

Agaknya lebih dari itu. Saya merasakan kesuwungan yang sempurna, di lembah-lembah yang rimbun tak beraturan. Dulu, di sana itu 30 tahun lalu itu, Pak Rakim terdengar menyanyi di balik-balik pohon yang ranum. Dulu, di sana itu, Mang Rukanda berteriak memanggil nama siapa saja yang lewat hanya untuk memainkan gema suara yang memantul-mantul dinding lamping.

Kini gawir dan rungkun telah menjadi rumah babi yang kelaparan. Mereka turun ke kebun penduduk di dekat desa pada malam ketika seharusnya petani beristirahat setelah seharian memeriksa tanaman. Kini petani harus bisa mengatur waktu agar bisa istirahat dan bekerja.

Agaknya, babi-babi itu tak lagi punya makanan karena kini serasah tak lagi membusuk menumbuhkan cacing. Serasah di hutan-hutan hanya kering di musim kemarau tanpa menjadi kompos karena tak ada lagi tai burung yang membusukkannya. Burung-burung telah menghilang dari pohon-pohon itu karena diburu orang desa untuk dijual ke kota. “Di Jakarta, mungkin sekarang lebih banyak burung ketimbang di sini,” kata seorang teman SD, yang punya dua kios di Jakarta dan Depok, sehingga hanya saat Lebaran ia pulang kampung.

Para pemburu menangkap induk burung apa saja sehingga kini mereka musnah. Bahkan tekukur yang biasanya hinggap di pohon-pohon tepi hutan.

Akibatnya, karena pohon jadi merana setelah ditinggal burung-burung, sawah menjadi kering karena mata air juga tumpas akibat tanah gersang. Dengan sawah yang mengering, sudah lima tahun para petani tak lagi menemukan belut bahkan ketika musim tandur padi. Belum lagi hama invasif yang berubah gen akibat pemakaian pupuk dan pestisida.

Sejak petani berkurang, jarang ada yang memelihara kambing. Akibatnya rumput bukan lagi barang mewah. Para petani pun membunuh rumput yang menjadi gulma di sekitar tanaman dengan pestisida. Memang efektif dan rumput mati tanpa membunuh tanaman utama. Tapi, agaknya, kimia itu membuat kebal hewan di sekitarnya. Mereka jadi tahan terhadap proteksi alami pupuk kandang dan tetap menyerang tanaman bahkan setelah disemprot endrin.

Dari gunung itu saya turun ke sawah becek. Masih berair tapi tak lagi berlumpur. Dasarnya kini pasir dan airnya sedikit berminyak. Ke mana lumpur-lumpur itu? “Hilang,” kata Samsudin, teman SD yang lain. “Sejak tak ada kapuk, sawah sudah tak berlumpur.” Bagaimana menghubungkannya?

Dulu, sepanjang jalan kampung yang membatasi desa dengan persawahan, berjejer pohon-pohon randu sebesar perut kerbau. Jika musim gugur, kapuknya beterbangan hingga masuk ruang-ruang kelas di sekolah dekat sawah. Anak-anak kampung tahu belaka, kapuk yang terbang sedang dipanen oleh para petani.

Sungai mengering di kampung di Kuningan, Jawa Barat.

Mereka menjual kapuk kepada siapa saja yang membutuhkannya untuk membuat kasur baru, terutama kepada para calon pengantin baru. Dari 12 bulan, hanya dua bulan—Puasa dan Hapit—yang tak ada hajatan. Musim kawin atau sunatan berlangsung selama 10 bulan sepanjang tahun. Kapuk menjadi komoditas yang diandalkan petani sebagai penghasilan tambahan. Akar-akarnya yang menjuntai menjadi rumah air sehingga lapisan tanah di bawahnya menjadi gembur.

Kini para pengantin baru tak lagi memakai kasur kapuk yang lembek jika sudah lama ditiduri. Mereka lebih senang membeli spring bed, kasur busa dengan per yang tebal, empuk, dan memang nyaman itu. Para petani yang merasa kapuk tak lagi berfaedah menebangnya untuk dijadikan kayu bakar. “Kami umumnya tak tahu pohon randu punya fungsi lain menahan air,” kata Sudin.

Para petani pun terdesak atas-bawah. Dari bawah tak ada lagi air sehingga mereka harus memompakan air ke atasnya. Itu pun sumur-sumur sudah mulai mengering karena mata airnya terganggu akibat tak ada lagi pohon basah di atas gunung. Dari atas mereka harus begadang untuk menghalau babi. Apalagi musim juga tak lagi menentu.

Di bulan puasa kemarin, kampung saya nyaris tak terpapar hujan sama sekali. Padahal dulu tiap Ramadan selalu berhujan. Tiap Ramadan musala penuh jamaah karena, konon, malam yang berhujan adalah waktu turun lailatul qodar—malam yang pahala ibadahnya setara seribu bulan.

Dengan situasi seperti itu, menjadi petani kian tak menarik. Anak-anak muda pun kian banyak yang ke kota, lalu pulang membawa uang tunai karena cocok dengan kebutuhan telepon seluler untuk update status WhatsApp dan Facebook atau swafoto di Instagram. Telepon seluler membutuhkan uang tunai karena membutuhkan pulsa. Jadi petani sangat tidak cocok dengan kebutuhan yang kini jadi primer itu.

Sudin berhitung, menanam kacang tanah butuh waktu tiga bulan. Untuk lahan 200 bata ia butuh modal Rp 1,4 juta—menanam, menyiangi, beli kopi untuk menunggu agar tak diserang babi, beli bensin untuk pompa. Hasilnya: 4 kuintal yang jika dijual hanya laku Rp 1,7 juta. Hanya Rp 100 ribu per bulan! “Siapa yang mau punya penghasilan sekecil itu?” tanyanya. Entah kepada siapa.

Bandingkan dengan menjadi buruh bangunan. Sehari bisa mendapar Rp 150.000. Potong makan bisa sisa Rp 100 ribu x 3 bulan kurangi ongkos pulang-pergi, seorang buruh masih bisa membawa pulang Rp 6-8 juta. Mereka kumpulkan uang itu untuk modal menikah lalu membuat rumah, di lahan yang ketika ia lahir adalah sawah orang tuanya. Permukiman mendesak, sawah menipis, diserbu babi pula.

Saya tidak tahu apakah ini catatan yang pesimistis. Sebab di jalan kampung yang beraspal itu anak-anak muda mengebut dengan sepeda motor terbaru. Para penjual makanan hilir mudik dan dikerumuni orang yang jajan. Pasar malam pada Jumat bertambah luas dibanding Lebaran tahun lalu dengan jumlah pembeli kian berjubel saja.

Orang punya uang, dan agaknya tak terlalu risau dengan jumlah sawah dan ladang, juga burung dan kumbang, yang berkurang.

Artikel orisinal tayang di blog catatan iseng dengan judul "Catatan Mudik 2019"

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.