Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 02 September 2023

Danau Tropis Menyerap Lebih Banyak Emisi Karbon

Danau tropis mampu menyerap 3-10 kali lebih banyak emisi karbon dibanding danau di daerah iklim sedang dan sub-kutub. Kaya keanekaragaman hayati.

Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum di Desa Tarumajaya, Kertasari, Bandung, Jawa Barat (Foto: Rifky/Yayasan Rekam Nusantara)

EKOSISTEM yang lebih beragam, secara alami, memiliki serapan emisi karbon lebih besar dibanding ekosistem yang lebih seragam. Karena itu danau tropis punya kemampuan menyerap emisi gas rumah kaca lebih besar dibanding hutannya. Danau, yang berisi air, gangang, tumbuhan bawah, lebih memungkinkan menjadi tempat hidup ragam mahluk hidup.

Hipotesis ini makin terbukti oleh temuan baru yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications tahun lalu. Studi ini meneliti danau di Brazil, Austrlia, Amerika Serika, Prancis, Portugal, Inggris, dan Swedia. Berdasarkan penelitian tersebut, danau di hutan tropis menangkap 113,5 gram karbon per meter persegi per tahun. Sementara, hutan hanya menyerap 81,72 gram karbon per meter persegi per tahun.

Dalam studi itu, peneliti mengumpulkan 43 studi terbaru terkait danau di hutan hujan tropis di seluruh dunia untuk mengetahui tingkat penyerapan karbon di danau hutan tropis.

Selanjutnya, mereka melakukan studi lapang di hutan Amazon, yang dianggap merepresentasikan serapan karbon hutan tropis. Mereka menganalisis 13 danau yang tersebar di hutan Amazon lalu mengambil sampel sedimen di dasar danau untuk dianalisis kandungan karbonnya.

Hasilnya, danau hutan hujan tropis mampu menyerap hingga 39% lebih banyak dibanding hutan pada umumnya. Selain itu, danau tropis juga menyimpan lebih banyak karbon dibanding danau di iklim lain, sekitar tiga kali lebih tinggi dibanding danau di wilayah temperate dan 10 kali lebih tinggi dibanding danau di wilayah sub-kutub!

“Hutan menyerap karbon, lalu menyimpannya dalam bentuk biomassa. Ketika mereka mati, biomassa tersebut terbawa ke danau dan terakumulasi di dasarnya. Akumulasi ini membentuk sedimen yang mencegah simpanan karbonnya terlepas ke atmosfer. Jadi, danau berfungsi sebagai simpanan karbon yang luas biasa!” kata Leonardo Amora-Nogueira, pemimpin peneliti dalam studi ini.

Selain sebagai simpanan karbon, sedimen di dasar danau juga berfungsi sebagai penyimpan sejarah terkait perubahan iklim, lahan, dan kejadian yang terjadi di sekitar danau. Lewat penanggalan isotop, peneliti dapat melihat “catatan” sejarah yang tertulis di dalam sedimen danau.

Agar penanggalannya akurat, peneliti menggunakan lead-210, sebuah isotop yang meluruh secara alami dengan laju konstan selama 22 tahun. Melalui metode tersebut, peneliti bisa memperkirakan usia setiap lapisan, simpanan karbon efektifnya, dan melacak perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar danau.

Bahkan, dengan bantuan geoprocessing dan citra satelit, mereka bisa mengetahui luasan yang terdeforestasi dalam periode tertentu. Sebab, luasnya deforestasi akan berpengaruh ke simpanan karbon di sedimen danau. Bahkan, dari metode tersebut, peneliti juga dapat memperkirakan apakah kerusakan hutan di sekitar danau terjadi secara alami atau akibat manusia.

Penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya peran danau sebagai simpanan karbon. Danau alami hanya menyelimuti 1,8% permukaan bumi. Di hutan Amazon, walau ada 15.000 danau, keberadaan mereka hanya 1% dari luas hutan Amazon itu sendiri. Walau kecil, tapi mereka mampu menyerap hingga 2,7 juta ton karbon setiap tahun.

Hal ini memperkuat hipotesis bahwa danau merupakan lingkungan pengendapan bahan organik yang intensif. Dengan simpanan karbon yang besar, mereka memainkan peran esensial dalam siklus karbon global. Selain itu, danau juga berperan besar sebagai sumber air bagi beragam flora dan fauna yang ada di sekitar mereka.

Sayangnya, jumlah serapan karbon danau acap tak diperhitungkan. Hal ini karena mereka tertutup oleh kanopi pohon, sehingga keberadaannya tidak muncul dalam citra satelit. Maka, konservasi tidak boleh hanya terfokus pada akumulasi karbon. Melainkan juga keberadaan badan air, lahan basah, dan keanekaragaman hayati.

Ikuti percakapan tentang emisi karbon di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain