Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 05 Maret 2023

Cuan Pakaian Bekas

Bisnis pakaian bekas atau thrifting sedang tren. Ramah lingkungan?

Thrifting, usaha pakaian bekas

BISNIS thrifting memberi kesempatan kepada anak muda yang menyukai fesyen mengubah hobi menjadi uang. Thrifting memang bukan konsep baru, tetapi akhir-akhir ini bisnis tersebut menjadi semakin populer di kalangan anak muda. Banyak dari mereka yang mencoba peruntungan dalam bisnis ini, termasuk Muhammad Fauzan Sholeh, seorang karyawan NGO berusia 23 tahun yang memiliki sebuah thriftshop.

Laki-laki yang kerap disapa Ojan itu sudah berkecimpung di bisnis thrifting sejak 2018 saat masih menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dia mengaku pecinta fesyen. Pakaiannya kerap mendapat pujian dari teman-temannya. “Banyak yang tanya saya beli baju di mana, harganya berapa. Mereka selalu terkejut saat tahu harganya di bawah Rp 50.000,” tuturnya.

Selain menyukai fesyen, Ojan juga hobi berbelanja. Menjual kembali baju bekas merupakan cara menghasilkan uang dari dua kegemarannya tersebut.

Awalnya Ojan memulai thriftshop bersama dua temannya. Mereka berbagi tugas dalam mengelola toko. Ojan bertugas mencari pakaian bekas. Sayangnya bisnis mereka terhenti karena harus menyelesaikan kuliah. Setelah lulus, dia membuka thriftshop baru dengan akun Instagram @olivealoved pada 2022.

Ojan bercerita sebelum memulai bisnis thrifting dia banyak menjual baju-baju vintage. “Ini tidak bisa disebut sepenuhnya thrifting,” jelasnya. Dia menambahkan walau bisnisnya baru berdiri tahun ini, ia menyebut bisnisnya lebih seperti pembaruan dari sebelumnya.

Sebelum berjualan lewat Instagram, Ojan berjualan pakaian bekas lewat TikTok. “Dulu live TikTok, tapi terlalu melelahkan. Live TikTok bisa berlangsung sampai jam dua pagi, padahal besoknya saya harus bekerja,” dia menjelaskan.

Selain karena masalah waktu, berjualan lewat TikTok juga tidak efektif karena harus membeli dagangan dalam partai besar. Pada masa itu banyak baju tidak layak jual yang terbuang. Sekarang dia hanya membeli baju yang menurutnya bagus dari pemasok tepercaya untuk dijual lagi di Instagram. 

Instagram memberikan kebebasan kepada Ojan menampilkan produknya secara unik. Menurutnya, foto produk yang dia tampilkan memiliki estetika yang jarang ditemukan di thriftshop lain.

Dia selalu mencoba tampil beda dengan toko lain supaya dapat menonjol di tengah maraknya bisnis thrifting. “Sebetulnya bisa saja saya bilang bahwa barang saya lebih bagus dari toko lain, tapi menurut saya akan lebih baik menarik konsumen secara visual dengan foto yang unik,” tuturnya. Dia percaya apabila tokonya menonjol maka akan lebih banyak pelanggan yang berbelanja di sana.

Sebagian besar pelanggan thriftshop Ojan merupakan siswa SMA dan mahasiswa. Hal ini menunjukkan model baju menarik dengan harga yang terjangkau sangat mudah menggaet anak muda pecinta fesyen yang memiliki bujet terbatas.

Meski demikian, pelanggan Ojan juga beberapa mereka yang sudah bekerja. Ini menunjukkan, katanya, bisnis thrifting menjangkau berbagai kalangan.

Harga baju yang dijual Ojan bisa sampai di atas Rp150.000,00. Keuntungan yang dia peroleh juga termasuk tinggi dibanding modal yang dia keluarkan. “Untuk sekarang karena baru dimulai lagi saya mendapat penghasilan sekitar satu juta per bulan. Keuntungan yang saya peroleh dapat mencapai 80 persen,” tukas Ojan.  

Thrifting berkembang seiring kesadaran fesyen di masyarakat. Bisnis ini memberikan kesempatan anak muda kreatif menjadi lebih dari sekadar konsumen dalam industri fesyen. Waktu dan tempat bukan menjadi penghambat untuk memulai sebuah thriftshop.

Selain itu, pakaian bekas ramah lingkungan karena menghidupkan ekonomi sirkuler. Emisi industri mode meningkat dalam lima tahun terakhir karena pemakaian bahan-bahan tak ramai lingkungan. Thrifting bisa menjadi solusi mengerem konsumsi mode cepat.

Ikuti percakapan bisnis thrifting di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Topik :

Bagikan

Terpopuler

Komentar



Artikel Lain