Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 25 November 2022

BMKG: Curah Hujan Cianjur Meningkat

Potensi banjir dan tanah longsor setelah gempa Cianjur. BMKG meminta masyarakat tetap waspada.  

GEMPA susulan terus terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sejak gempa Cianjur terjadi pada 21 November 2022, gempa susulan terus terjadi.

Pada 24 November 2022 pukul 04.48 WIB terjadi gempa berkekuatan 2,2 magnitudo kembali mengguncang Cianjur. “Pusat gempa berada di darat, 1 kilometer timur laut kabupaten Cianjur,” demikian @infobmkg mengabarkan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan intensitas gempa susulan di Kabupaten Cianjur akan semakin melandai dalam waktu empat hari kedepan.

"Gempa-gempa susulan itu sebagian besar tidak dirasakan, hanya tercatat alat, dan ada beberapa yang dapat dirasakan. InsyaAllah, dalam kurun waku empat hari kedepan, gempa-gempa susulan tersebut sudah reda dan stabil," kata Dwikorita di Cianjur, Rabu, 23 November 2022.

Dia meminta pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam ikutan seperti longsor dan banjir bandang yang membawa material-material reruntuhan lereng akibat gempa.

"Saat ini curah hujan sedang meningkat menuju puncaknya di bulan Desember hingga Januari nanti, jadi harus diwaspadai kemungkinan terjadinya bencana ikutan usai gempa kemarin,” katanya. Bencana susulan serupa pernah terjadi saat Gempa Palu 2008 dan Pasaman awal tahun ini.

Dwikorita mengimbau saat pemerintah melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan, struktur bangunan memakai material dan konstruksi tahan gempa. Menurutnya, salah satu faktor penyebab banyaknya korban meninggal dan signifikannya kerusakan yang terjadi pada saat gempa Cianjur 5,6 magnitudo adalah struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa.

"Mayoritas bangunan yang terdampak karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa," ujarnya.

Dwikorita juga meminta pemerintah setempat mempertimbangkan opsi relokasi, terutama untuk pemukiman di lereng dan perbukitan. Sebab, gempa Cianjur merupakan gempa yang berulang setiap 20 tahun dan kemungkinan terjadi kembali.

Sementara, topografi di wilayah lereng dan perbukitan tersebut tidak stabil dengan kondisi tanah yang rapuh atau lunak dan sering jenuh air akibat curah hujan yang cukup tinggi.

BMKG tengah melakukan survei untuk mengidentifikasi wilayah mana saja yang aman terhadap guncangan gempa. BMKG juga akan memadukan data yang dimiliki dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait wilayah rawan gempa dan rawan longsor guna mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi usai gempa bumi.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebutkan gempa Cianjur menelan korban sebanyak 271 orang meninggal. “Masih ada korban hilang 40 orang,” kata dia.

Hingga 24 November 2022, korban luka tercatat 2.043 orang dan mengungsi 61.908 orang, sedangkan kerugian materil sebanyak 56.320 rumah alami kerusakan dengan rincian rusak berat 22.241 unit rumah, rusak sedang 11.641 unit rumah dan rusak ringan 22.090 unit rumah. 

Suharyanto menegaskan tim gabungan terus mencari korban gempa Cianjur meski terkendala hujan. 

Ikuti perkembangan terbaru bencana iklim di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain