Kabar Baru | 25 April 2019

Bone-Bone: Desa Bebas Asap Rokok

Lurah di Enrekang ini membebaskan desanya dari asap rokok dengan cara sederhana. Anak-anak bisa sekolah lagi.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

TIAP-tiap kebaikan akan punya jejak panjang. Muhammad Idris tak lagi jadi Kepala Desa Bone-bone, tapi kita akan mengenangnya sebagai lurah pertama yang membangun desa dengan cara sederhana: mengenyahkan rokok dari kampungnya sebelum memulai hal-hal besar mengurus pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. 

Aturan radikal melarang rokok itu ia buat pada 2000, ketika Bone-bone masih berstatus dusun, belum memekarkan diri jadi desa mandiri. Saya bertemu dia pada suatu hari yang berhujan di rumahnya, di lereng Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan, yang dingin pada 2012.

Bagi saya, Idris adalah contoh bagaimana pemimpin yang bekerja sesuai porsi dan semestinya dengan cara yang efektif. Sebermula ia melihat anak-anak di desanya kian banyak di sawah dan kebun, menggembala sapi atau membantu ayah-ibu mereka mencangkul.

Anak-anak itu tak bersekolah dengan alasan tak punya biaya. Itu dalih orang tua mereka dengan mulut mengepulkan asap rokok. Idris, waktu itu baru lulus kuliah dari Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Alauddin Makassar, tak habis pikir dengan cara pandang tetangganya: bagaimana bisa mereka mampu membeli rokok tapi ogah mengeluarkan uang untuk pendidikan anak-anak mereka.

Ia sendiri delapan bersaudara. Ayah-ibunya petani tapi lima anaknya bersekolah hingga perguruan tinggi. Setelah bolak-balik gagal tes pegawai negeri sipil, dan bekerja di beberapa perusahaan di luar Sulawesi, Idris pulang kampung. Ia sampai pada kesimpulan: rokok telah memiskinkan orang Bone-Bone sehingga anak-anak tak terjamin pendidikannya.

Idris bukan sarjana yang rumit dengan teori. Ia tak berpikir bahwa sekolah bisa mengubah hidup seseorang karena ijazah bisa mendatangkan kekayaan. Bagi dia, pendidikan itu penting sebagai bekal hidup, pembentuk jalan berpikir, menjadi kaya atau miskin. “Jika kita jadi kaya akibat sekolah, itu bonus saja,” katanya. Sebuah pernyataan yang tak saya duga.

Dan Idris kemudian terpilih jadi Kepala Desa, karena Bone-Bone memekarkan diri sewaktu ia menjabat kepala dusun, bergaji Rp 1 juta. Sehari-hari ia berkebun jagung dan kopi, juga beternak sapi. Dan yang dia lakukan pertama kali adalah membuat aturan larangan merokok di Bone-Bone. Tamu atau warga lokal mesti keluar kampung jika ingin merokok. Sanksinya kerja sosial membersihkan got dan meminta maaf saat salat Jumat.

Tentu saja aturan itu segera ditentang. Idris mendatangi penduduk yang ngedumel. Ia ajak mereka debat. Umumnya, penduduk beralasan tak bisa bekerja jika tak sambil merokok. Apalagi udara Bone-Bone dingin. Idris mematahkan alasan itu bahwa ia pun bisa bekerja tanpa merokok. Berikutnya ia mendatangi penjual rokok yang protes karena penghasilannya berkurang.

Muhammad Idris, Kepala Desa Bone-bone, Enrekang, Sulawesi Selatan

Di sana Idris mengajak berhitung. Untung satu bungkus rokok adalah Rp 1.000-2.000. Untung ini hangus karena para pedagang menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Jadi, sebetulnya mereka rugi menjual rokok. Kerugian itu bahkan tak sepadan dengan perjuangan mendatangkan rokok yang dibeli dari pasar. Jarak pasar ke Bone-Bone 20 kilometer, melewati jalan tanah yang berkubang jika hujan.

Fakta itu telah membuka pikiran para pedagang bahwa mereka justru menggerogoti modal warung dengan menjual rokok. Walhasil mereka setuju tak lagi menjual rokok sejak debat dengan Idris itu. Sejak pasokan rokok dihentikan, Bone-Bone pun bebas dari rokok.

Sejak aturan itu dibuat hanya sekali penduduk yang melanggar. Itu pun ia merokok di rumahnya ketika ada tamu. Tetangganya melapor kepada Idris dan ia mendapat sanksi sosial: meminta maaf lewat speaker masjid lalu membersihkan selokan. Sejak itu penduduk ini kapok dan tak merokok lagi.

Sanksi kedua justru untuk para pejabat dari Kabupaten Enrekang. Syahdan, mereka diutus Bupati La Tinro La Tunrung untuk memberi penyuluhan bagaimana menjadikan Bone-Bone jadi desa teladan. Pemerintah pusat akan datang menilai pada desa-desa yang diusulkan. Bubar penyuluhan Idris mendapat laporan dari anak-anak yang menemukan puntung rokok di rumah terakhir sebelum perbatasan.

Idris mengadukannya kepada Bupati La Tinro, 100 kilometer jauhnya, lewat telepon seluler. Bupati dari Golkar ini sangat mendukung Idris. Ia berhenti merokok dua bungkus Marlboro putih sehari setelah berkunjung ke Bone-Bone. Mendengar aduan Idris, La Tinro memanggil semua kepala dinas yang baru pulang dari sana. Mereka mengaku telah merokok karena perjalanan tercegat hujan. “Saya suruh mereka kembali untuk minta maaf dan bayar denda,” katanya.

Jalan menuju Desa Bone-bone

Di depan seluruh penduduk, para pejabat itu meminta maaf telah melanggar aturan desa. Mereka juga bersedia membayar denda. Dalam aturan, dendanya hanya Rp 100 ribu. Para pejabat itu membayar Rp 1,5 juta bahkan ada yang menanggung biaya pembuatan 30 meter jalan beton.

Dengan ketegasan dan dukungan penuh Bupati itu, pada 2012 Bone-Bone dinobatkan sebagai Desa Teladan Tingkat Nasional. Idris kian sering bepergian karena diundang ceramah ke banyak tempat untuk bercerita bagaimana ia memimpin desa dengan efektif dan berhasil.

Terutama karena anak-anak kembali ke sekolah setelah tak ada rokok di desanya. Sewaktu saya ke sana, tak ada satu pun anak yang tak sekolah. Di kebun hanya ada orang-orang tua dan anak-anak muda lulusan SMP atau SMA.

Selain melarang rokok, Idris juga melarang menjual jajanan bepewarna dan berpengawet. Para pedagang dilarang membunyikan klakson atau terompet untuk meredam polusi suara. Para pedagang bakso atau siomay mangkal dekat pos ronda tanpa berbuat apa-apa. Ia hanya duduk menunggu anak-anak dan penduduk datang membawa piring beling.

Kepada yang akan menikah, Idris mewajibkan mereka menanam 10 pohon keras di lahan atau kebun mereka. Kewajiban itu ia tuangkan dalam secarik kertas yang harus ditanda-tangan calon mempelai, di luar surat-surat untuk syarat menikah.

Larangan-larangan itu tak memberatkan penduduk Bone-bone. Mereka patuh kepada Idris, kepala desa yang mereka pilih, karena tahu semua peraturan itu dibuat untuk kebaikan mereka juga untuk membuat hidup yang harmonis dan selaras—dengan alam, antar manusia.

Pertanyaan saya kepada Pak Idris adalah kenapa keinginan dan peraturannya bisa diikuti? Di belahan dunia mana orang mau turut pada seorang kepala desa?

Pak Idris tak bisa menjawab. Ia hanya mesem-mesem. Mungkin ia juga tak tahu kenapa perintahnya dipatuhi. Jawaban jitu saya dapat justru dari tukang ojek, yang saya sewa ketika berkunjung ke sana. Tukang ojek dari kampung sebelah Bone-Bone ini perokok berat. Tapi selama dia di Bone-Bone menemani saya, ia tak berani mengeluarkan bahkan korek api. Ia bertahan tak ngebul dalam suhu dingin hari hujan. Ia, misalnya, tak turun satu kilometer ke batas desa tempat di mana siapapun bebas dari peraturan Pak Idris. Atau merokok saja di pos ronda toh tak akan ada orang yang tahu ia menghisap tembakau ketika para kepala keluarga terjebak hujan di kebun dan sawah.

Ajakan hidup sehat di alun-alun Desa Bone-Bone

Tukang ojek yang umurnya kira-kira sebaya dengan Pak Idris ini memberi jawaban yang mengejutkan. “Bukan saya tak berani, tapi saya menghormati Pak Desa. Dia sudah kami pilih sebagai pemimpin kami. Tak baik melawan para pemimpin, apalagi yang punya niat baik untuk hidup kami. Di sini kami diajarkan bagaimana cara menghormati orang yang dituakan.”

Jika saya terharu mendengarnya, barangkali karena saya orang Jakarta, tempat di mana saling percaya antar manusia lambat laun memuai, tempat di mana kita tak lagi percaya kepada mereka yang tampil di pucuk kekuasaan–modal sosial yang memberi ruh dan merekatkan setiap orang dalam komunitas yang dibayangkan bernama “bangsa”.

Dengan modal sosial yang tumbuh di setiap orang Bone-Bone seperti itu, plus cara pandang mereka terhadap arti penting pendidikan, tak heran jika aturan yang dibuat Pak Idris—betapa pun tak disukai pada awalnya–dipatuhi. Dan dengan kebajikan hidup semacam itu orang Bone-Bone menjalani keseharian secara wajar dan tertib, di bawah kabut yang tak lekas beringsut.

Bone-Bone yang dingin kian sejuk karena hanya asap dapur yang tercium, warna senja yang sepia, juga aroma kopi Toraja…

Versi orisinil artikel ini tayang di catataniseng.com

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.