Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 01 Oktober 2022

1.733 Aktivis Lingkungan Tewas dalam Satu Dekade Terakhir  

Aktivis lingkungan kian rentan. Global Witness mencatat kemenangan masyarakat Sangihe atas industri pertambangan emas.

LAPORAN terbaru Global Witness menyebutkan setidaknya 1.733 aktivis lingkungan tewas pada dekade 2012-2022. Itu berarti satu orang aktivis tewas setiap dua hari dalam sepuluh tahun terakhir. “Seperti yang telah kami nyatakan dalam laporan-laporan sebelumnya, data ini merupakan puncak gunung es,” tulis laporan yang terbit 29 September 2022.

Laporan bertajuk “Decade of Defiance” itu menyebutkan konflik, pembatasan akses pers serta masyarakat sipil, dan kurangnya pemantauan independen atas serangan-serangan kepada para pembela lingkungan bisa menyebabkan sejumlah kasus tidak tersorot.

Global Witness menerbitkan laporan ancaman aktivis lingkungan sejak 2012, tepatnya setelah pembunuhan Chut Wutty, pemerhati lingkungan di Kamboja. “Wutty mendorong kami menghadapi berbagai pertanyaan. Bagaimana gambaran globalnya, apa implikasi dari serangan semacam itu dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya,” kata Direktur Utama Global Witness Mike Davis dalam laporan itu.

Laporan yang baru dirilis oleh LSM tersebut menunjukkan bahwa Brasil, Kolombia Filipina, Meksiko, dan Honduras sebagai negara yang paling mematikan. Lebih dari dua pertiga kasus sepanjang dekade lalu ada di Amerika Latin, dengan 342 orang tewas di Brasil, 332 di Kolombia, 154 di Meksiko dan 117 di Honduras. Filipina menjadi negara yang disorot dengan 270 pembunuhan. Indonesia mencatat 14 kematian dalam dekade 2012-2021.

Dalam sepuluh tahun, rekor tertinggi kematian para pembela hak atas tanah dan aktivis lingkungan justru terjadi pada saat pandemi tahun 2020, sebanyak 227 orang. Sementara tahun 2021 ada 200 orang yang meregang nyawa untuk membela tanah dan lingkungan.

Tahun lalu, Meksiko merupakan negara dengan catatan pembunuhan tertinggi, 54 orang. Sebanyak 40% dari jumlah itu adalah masyarakat adat.

Sementara itu pembunuhan di Brazil dan India meningkat, Kolombia dan Filipina menurun. Sebanyak tiga perempat serangan terjadi di Amerika Latin. Di kawasan itu 78% serangan kepada aktivis lingkungan terjadi di wilayah Amazon.

Sebanyak 200 orang yang tewas pada 2021 itu di antaranya adalah delapan penjaga Taman Nasional Virunga di Republik Demokratik Kongo terkait ekstraksi migas. Joannah Stutchbury ditembak di luar rumahnya di Kenya.

Juni tahun ini, dunia juga kehilangan wartawan Inggris Dom Phillips dan Bruno Pereira. Philips tengah menulis buku tentang pembangunan berkelanjutan berjudul How to Save the Amazon dan Pereira membantunya dengan wawancara.

Industri pertambangan, penebangan kayu, dan agribisnis merupakan latar industri paling umum dalam pembunuhan yang penyebabnya diketahui. Masalah-masalah ini hanya terjadi di bagian selatan bumi. “Korupsi dan ketidaksetaraan adalah kunci yang memungkinkan pembunuhan. Para aktivis dan pembela yang mencari keadilan kadang-kadang berhadapan dengan hakim yang disuap. Sehingga kasus sangat jarang diselidiki secara pantas, apalagi menyeret pelaku ke pengadilan," tulis Global Witness.

Laporan tersebut mendesak pemerintah menciptakan ruang sipil yang aman bagi pembela lingkungan dan mempromosikan akuntabilitas hukum perusahaan, membantu memastikan toleransi nol untuk kekerasan terhadap aktivitas.

Laporan itu tidak sepenuhnya kelam, ada beberapa kemenangan signifikan bagi juru kampanye lingkungan. Di Afrika Selatan tahun lalu, masyarakat adat di Afrika Selatan memenangkan gugatan hukum atas Shell. Perusahaan itu dipaksa menghentikan eksplorasi minyak di tempat penangkaran ikan paus. Putusan itu ditegakkan awal bulan ini.

Laporan itu juga mencatat kemenangan masyarakat di Sangihe Indonesia atas PT Tambang Emas Sangihe. Pengadilan meminta pemerintah setempat membatalkan izin lingkungan perusahaan yang hendak menambang emas di kawasan tersebut. Pertambangan emas seluas 42.000 hektare atau lebih dari luas separuh pulau tersebut bakal menghancurkan lingkungan di pulau kecil yang terletak di Utara Sulawesi tersebut.

Sebanyak 56 penduduk perempuan mengajukan gugatan hukum terhadap pemerintah lokal yang memberikan izin lingkungan. Penduduk Sangihe juga mengajukan gugatan terpisah terhadap PTUN Jakarta untuk membatalkan seluruh kontrak pertambangan.

Ahli lingkungan India, Vandan Shiva dalam laporan itu menyatakan, “Kita tidak hanya dalam keadaan darurat iklim. Kita berada di kaki kepunahan keenam dan para pembela ini hanya beberapa dari sedikit orang yang menghalangi. Aktivis lingkungan tidak hanya pantas mendapatkan perlindungan karena alasan moral, tetapi masa depan spesies, kita dan planet kita bergantung pada mereka.”

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain