Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 09 Agustus 2022

Hari Terpendek Akibat Rotasi Bumi yang Kian Cepat

Waktu rotasi bumi kurang 1,59 milidetik dalam 24 Jam. Rotasi bumi makin cepat.

JIKA Anda merasa satu hari terasa lebih cepat, perasaan Anda tidak terlalu keliru. Menurut International Earth Rotation and Reference System Service, organisasi yang mengukur ketepatan waktu global, pada 29 Juni 2022 lalu, bumi berotasi kurang 1,59 milidetik dari 24 jam. Ini adalah hari terpendek dalam sejarah.

Rotasi adalah lamanya waktu yang dibutuhkan bumi untuk berputar pada porosnya, yaitu 24 jam atau 86.400 detik.

Dalam beberapa tahun terakhir, bumi semakin cepat berputar. Pada tahun 2020, ada 28 hari terpendek sejak pengukuran harian akurat menggunakan jam atom yang dimulai pada 1960-an.

Pada tahun tersebut, hari terpendek terjadi pada 19 Juli, ketika satu kali rotasi bumi kurang 1,47 milidetik dari biasanya. Tren ini berlanjut pada 2021. Meski hari terpendek pada 2021 sedikit lebih lama dari catatan tahun 2020.

Tahun ini, bumi mencatat rekor baru untuk hari terpendek di era jam atom: kurang 1,59 milidetik pada 29 Juni. Pada 26 Juli, rekor ini hampir dikalahkan ketika satu kali rotasi bumi diselesaikan kurang dari 1,5 milidetik.

Ternyata bumi pernah mengalami hari-hari ketika satu rotasi bumi jauh lebih cepat dibandingkan rekor 29 Juni 2022. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Paleoceanography and Paleoclimatology menyebutkan rotasi bumi berlangsung sekitar 23,5 jam sekitar 70 juta tahun yang lalu. Ketika dinosaurus masih berkeliaran di planet kita.

Dennis McCarthy, pensiunan Direktur Waktu di Observatorium Angkatan Laut AS mengatakan para ilmuwan pernah mencatat rotasi bumi yang melambat pada 1820. "Tapi dalam beberapa tahun terakhir, kecepatannya mulai meningkat," kata McCarthy.

Menurut McCarthy, ada beberapa teori mengenai percepatan rotasi bumi. Teori pertama adalah pergerakan tanah karena gletser yang mencair. Ketika es di kutub bumi mencair akibat krisis iklim, tekanan di bagian atas dan bawah planet berkurang, sehingga bumi terlihat lebih bulat. "Bentuk yang lebih bulat membantu planet berputar lebih cepat," kata McCarthy.

McCarthy mengilustrasikan fenomena ini seperti figur ice skater atau seluncur es. Ketika seorang peseluncur es sedang berputar sambil merentangkan tangan, dia akan membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk berputar. Tapi ketika peseluncur es melipat tangannya dan bersedekap, ia akan berputar lebih cepat. "Karena massa tubuh lebih dekat ke pusat gravitasi," kata McCarthy. Saat bumi menjadi lebih bulat, massanya menjadi lebih dekat ke pusatnya, yang meningkatkan kecepatan rotasinya.

Teori kedua adalah Chandler Wobble. Chandler Wobble adalah teori yang diungkap astronom Seth Carlo Chandler pada 1891 tentang penyimpangan kecil pada sumbu rotasi bumi akibat poros yang tidak sejajar dengan sumbu simetrinya. Ini menciptakan sedikit goyangan saat Bumi berputar, mirip dengan goyangan bola saat dilempar.

Jika tren rotasi bumi lebih cepat terus berlanjut. Komunitas ilmiah memprediksi bisa jadi akan ada detik kabisat, yakni ketika satu detik perlu dihapus untuk mengejar ketepatan waktu seiring dengan kecepatan rotasi bumi yang meningkat. Jika benar, hari terpendek dalam sejarah akan terus tercipta di tahun-tahun mendatang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain