Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 09 Agustus 2022

Potensi Tsunami Selatan Jawa: Kenali Bahayanya

Pesisir selatan Jawa rentan oleh bencana tsunami. Kenali bahaya dan strategi mitigasinya.

PEKAN lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gempa dan tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa. Sebagai negara yang memiliki banyak gunung api, gempa dan tsunami menjadi bencana yang mengintai.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informsi, dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan  gambaran seismik Indonesia dari tahun 1970-an, sekitar 2-3 tahun sekali Indonesia mengalami gempa yang diiringi tsunami. Sekitar 46% wilayah pesisir Indonesia punya potensi gempa dan tsunami.

Wilayah yang bebas dari ancaman bencana gempa hanya Pantai Timur Sumatera dan Pantai Barat Kalimantan.

Dari catatan sejarah, gempa yang diiringi tsunami di selatan Jawa pernah terjadi di Banyuwangi pada 1994 dan Pangandaran pada 2006. Gempa yang diiringi tsunami Pangandaran tidak dirasakan masyarakat sehingga korban jiwa sebanyak 600 orang. "Ini histori gempa dan tsunami di Selatan Jawa, belum lagi yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya," ujar Muhari dalam YouTube BNPB.

Meurut Muhari setidaknya ada dua sumber potensi gempa yang bisa membangkitkan tsunami di selatan Jawa, yaitu segmen barat dan segmen timur. Di segmen barat, gempa dan tsunami akan melanda pantai selatan Banten, sementara di segmen timur akan melanda pantai selatan Jawa timur sampai selatan Yogyakarta.

Kekuatan gempa dua segmen itu diperkirakan mencapai 8,8 magnitudo. "Sebetulnya kita tidak pernah bisa menentukan kapan terjadi gempa, berapa besarnya, dan di mana posisinya, walaupun segmennya bisa digambarkan," kata Muhari. "Yang bisa kita lakukan adalah melihat potensi besarannya, walaupun potensi kejadian berikutnya tidak bisa kita diprediksi."

Jika digambarkan dengan gempa berkekuatan 8,8 magnitudo, tsunami akan sampai ke daratan pada segmen barat sekitar 10-15 menit dan pada segmen timur sekitar 20-30 menit. Dari gambaran itu kita bisa memprediksi rata-rata ketinggian tsunami 5-8 meter. "Di beberapa tempat ada yang sampai 20 meter," ujar Muhari.

Apakah tsunami setinggi 5-8 meter itu membahayakan? Kejadian tsunami di Sri Lanka setinggi lutut orang dewasa atau 50 sentimeter. Namun kecepatan arus tsunami yang mencapai 2-5 meter per detik bisa menjatuhkan orang dewasa.

Karena tsunami adalah gelombang yang cukup panjang, ketika terjatuh orang dewasa tidak bisa berdiri dan terus tergulung gelombang. "Jadi tidak hanya tinggi, arus tsunami juga sangat berbahaya bagi keselamatan manusia,” kata Muhari.

Dalam hal daya rusak, tsunami setinggi 2 meter bisa menghancurkan bangunan sebesar 80%.

Begitu pun dengan kapal yang sedang berlabuh di pinggir pantai. Jika terjadi tsunami, kapal bisa beralih fungsi menjadi penghancur rumah saat terbawa arus. Di Palu, kata Muhari, meski tsunami kurang dari 2 meter, gelombangnya bisa membawa kapal masuk ke daratan dan menghantam rumah.

Pantai selatan Jawa, khusunya daerah Cilacap, memiliki potensi terjadi tsunami fire. Tsunami fire adalah kejadian bencana kebakaran akibat minyak dari kendaraan atau tangki penyimpan minyak yang rusak akibat terhantam gelombang. Karena minyak berada di atas air, ia sangat mudah terbakar oleh percikan arus listrik. Ini pernah terjadi di Jepang pada 2011.

Beragam potensi tsunami itu harus ditanggulangi dengan aksi mitigasinnya. Aksi mitigasi bisa dimulai dari pemahaman masyarakat terkait peringatan dini tsunami. "Jika terasa gempa kecil di pinggir pantai lebih dari 20 detik, masyarakat bergegas untuk mengevakuasi diri sendiri menjauhi pantai," ujar Muhari.

Selain itu infrastruktur bangunan di daerah rawan tsunami harus menjadi perhatian. Strateginya bisa memperbanyak jendela pada desain bangunan untuk air keluar sehingga bangunan tidak terbawa arus. Jika bangunan hanya berlapis embok yang rigid, bangunan itu akan terseret gelombang tsunami.

Membangun hutan pantai dan mangrove juga tidak kalah penting dalam mitigasi bencana tsunami. Kasus tsunami di Sandai, Jepang, tahun 2016 memperlihatkan dampak tsunami yang berkurang karena adanya hutan pantai.

Sebagai sabuk hijau pantai, akar dan tegakan hutan pantai mampu memecah gelombang tsunami sehingga kekuatannya tidak begitu besar saat mencapai daratan dan jangkauannya tidak terlalu jauh.

Menurut Muhari, informasi tentang mitigasi, yang meliputi pengenalan, pengetahuan, dan cara menghindari tsunami penting bagi masyarakat Indoensia yang potensi mendapatkan bencana ini sangat besar. "Kenali bahaya, cari mitigasinya, kenali bahaya, cari solusinya," kata Muhari.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain